Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Dokter Jelaskan Gangguan Aliran Darah ke Jantung
Istilah “angin duduk” kerap dianggap keluhan ringan yang mirip masuk angin atau gangguan lambung, padahal secara medis kondisi ini berkaitan dengan terganggunya aliran darah ke otot jantung dan berisiko serius bila tidak segera ditangani.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), menjelaskan bahwa angin duduk bukanlah istilah medis, melainkan sebutan awam untuk kondisi ketika seseorang mendadak merasa tidak enak badan hingga lemas akibat gangguan perfusi atau aliran darah ke jantung.
“Dari kacamata medis, yang terjadi sebenarnya adalah gangguan aliran darah ke otot jantung, sehingga jantung tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup,” ujar Andi dalam wawancara dengan Kompas.com, Kamis (22/1/2026).
Apa yang terjadi saat angin duduk?
Menurut Andi, gangguan aliran darah ini bisa dipicu oleh penyempitan pembuluh darah atau kondisi lain yang menyebabkan hipoperfusi jantung secara tiba-tiba.
Akibatnya, tubuh bereaksi cepat dengan munculnya rasa lemas mendadak, bahkan membuat seseorang harus langsung duduk atau terjatuh.
“Orang awam sering menyebutnya angin duduk karena tiba-tiba merasa tidak kuat berdiri, padahal itu sinyal jantung sedang kekurangan suplai darah,” kata dia.
Gejala tidak selalu nyeri dada
Ilustrasi serangan jantung. Angin duduk sering dianggap sepele, padahal dokter menjelaskan kondisi ini berkaitan dengan gangguan aliran darah ke jantung yang bisa berisiko serius.
Andi menegaskan, angin duduk tidak selalu ditandai nyeri dada khas, sehingga kerap disalahartikan sebagai masalah pencernaan. Adapun gejala angin duduk yang bisa muncul, antara lain:
- Nyeri dada
- Nyeri ulu hati
- Pusing
- Pandangan gelap atau berkunang-kunang
- Nyeri di tengkuk, rahang bawah, punggung
- Rasa lemas mendadak
“Sebagian orang bahkan mengira hanya maag atau masuk angin biasa, padahal keluhannya bisa menandakan masalah jantung yang serius,” ujarnya.
Kapan harus segera ke dokter?
Andi mengingatkan, siapa pun yang mengalami gejala tersebut, terutama bila disertai penyakit penyerta, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
“Kalau ada keluhan seperti ini, apalagi memiliki penyakit komorbid, jangan menunda. Segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk evaluasi,” kata dia.
Di fasilitas kesehatan, pasien akan menjalani pemeriksaan menyeluruh, mulai dari rekam jantung, pemeriksaan kolesterol dan gula darah, hingga pengecekan tanda vital.
“Dari situ baru bisa dinilai apakah keluhannya ringan, misalnya gangguan lambung, atau kondisi yang lebih serius dan butuh penanganan segera,” jelas Andi.
Siapa yang paling berisiko?
Menurut Andi, risiko angin duduk meningkat pada usia di atas 40 tahun, terlebih bila disertai faktor risiko lain seperti obesitas, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
Pola makan tinggi garam, gula, dan lemak juga turut meningkatkan risiko, apalagi jika terdapat riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
“Kelompok berisiko tinggi ini sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, meskipun belum ada keluhan,” ujarnya.
Pentingnya deteksi dini
Andi mendorong masyarakat untuk lebih aktif memanfaatkan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai langkah pencegahan.
“Skrining kesehatan itu sebenarnya mudah dan relatif terjangkau. Dengan deteksi dini, risiko kejadian berat bisa ditekan, dan kualitas hidup tetap terjaga,” kata dia.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal mengobati penyakit, tetapi juga tentang mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Tag: #angin #duduk #bukan #masuk #angin #dokter #jelaskan #gangguan #aliran #darah #jantung