Liburan Baru Mulai, Tubuh Sudah Tumbang? Riset Ungkap Fenomena Leisure Sickness
Liburan yang seharusnya menjadi momen istirahat sering kali justru diawali dengan sakit kepala, flu, atau tubuh mendadak lemas, sebuah fenomena yang secara ilmiah dikenal sebagai leisure sickness.
Fenomena ini kerap dialami orang-orang yang terbiasa bekerja di bawah tekanan tinggi, lalu tiba-tiba berhenti saat akhir pekan atau liburan panjang, menurut kajian psikologi kesehatan.
Fenomena leisure sickness, bukan sekadar kebetulan
Istilah leisure sickness pertama kali diperkenalkan oleh peneliti asal Belanda pada 2002 dalam jurnal Psychotherapy and Psychosomatics.
Dalam studi terhadap hampir 1.900 responden, sekitar 3 persen partisipan mengaku jarang sakit saat hari kerja, tetapi justru jatuh sakit saat akhir pekan atau liburan.
Gejala yang paling sering muncul meliputi sakit kepala atau migrain, kelelahan ekstrem, nyeri otot, mual, hingga gejala mirip flu.
Menariknya, gejala paling sering muncul pada minggu pertama liburan, bukan setelah beberapa hari beristirahat.
Mengapa tubuh bisa “tumbang” saat akhirnya istirahat?
Ilustrasi sakit kepala. Riset psikologi menunjukkan, tubuh bisa lebih rentan sakit saat liburan karena perubahan mendadak dari stres tinggi ke kondisi santai.
Profesor keperawatan dari Griffith University, Australia, Thea van de Mortel, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan hubungan kompleks antara stres dan sistem imun.
“Dalam jangka pendek, stres justru bisa meningkatkan kewaspadaan sistem imun karena tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol,” tulis van de Mortel dalam laporan Science Alert.
Kortisol bersifat antiinflamasi dan dapat menekan rasa nyeri, sehingga seseorang tetap bisa beraktivitas meski tubuh sebenarnya sudah kelelahan.
Namun, saat stres mendadak berhenti, misalnya ketika liburan dimulai, efek perlindungan sementara itu ikut menghilang.
“Transisi mendadak dari tekanan tinggi ke kondisi santai bisa membuat tubuh ‘kehilangan penopang’, sehingga gejala sakit baru terasa,” jelas van de Mortel.
Peran psikologis: Sulit lepas dari mode kerja
Jurnal Psychotherapy and Psychology juga menyoroti faktor kepribadian sebagai pemicu penting leisure sickness.
Orang dengan rasa tanggung jawab tinggi, perfeksionis, dan sulit rileks tercatat lebih berisiko mengalami kondisi ini.
Peneliti menemukan bahwa penderita leisure sickness sering mengalami kesulitan beradaptasi dari situasi kerja ke kondisi non-kerja.
Bukan aktivitas liburannya yang bermasalah, melainkan ketidakmampuan mental untuk benar-benar berhenti bekerja.
“Beban kerja tinggi dan ketidakmampuan untuk rileks menjadi faktor risiko utama,” tulis peneliti Ad Vingerhoets dalam jurnal tersebut.
Faktor tambahan: Perjalanan dan gaya hidup saat liburan
Selain faktor psikologis, liburan juga membawa perubahan gaya hidup yang dapat memengaruhi kesehatan.
Perjalanan jauh, terutama dengan pesawat, meningkatkan paparan terhadap kuman di ruang tertutup.
Konsumsi alkohol yang lebih tinggi, pola tidur berantakan, serta aktivitas fisik yang tidak biasa juga dapat membebani tubuh yang sebelumnya sudah lelah.
Dalam kondisi ini, sistem imun yang melemah akibat stres kronis menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Bagaimana cara mencegah sakit saat liburan?
Meski belum sepenuhnya dipahami, para ahli sepakat bahwa pencegahan leisure sickness perlu dilakukan jauh sebelum liburan dimulai.
Menjaga pola tidur, makan seimbang, dan tetap aktif secara fisik di masa sibuk dinilai penting untuk menjaga daya tahan tubuh.
Sebuah studi di Finlandia terhadap lebih dari 4.000 pekerja menemukan bahwa mereka yang rutin berolahraga cenderung lebih jarang mengambil cuti sakit.
Selain itu, teknik pengelolaan stres seperti meditasi, mindfulness, dan relaksasi bertahap membantu tubuh beradaptasi lebih halus saat memasuki masa libur.
Van de Mortel juga menyarankan agar transisi menuju liburan tidak dilakukan secara mendadak.
“Cobalah menurunkan intensitas kerja secara bertahap, agar tubuh dan pikiran punya waktu menyesuaikan diri,” ujarnya.
Liburan sehat dimulai sebelum hari pertama
Fenomena sakit saat liburan menunjukkan bahwa istirahat bukan hanya soal berhenti bekerja, tetapi juga soal kesiapan fisik dan mental untuk benar-benar rileks.
Liburan yang sehat justru dimulai dari cara seseorang mengelola stres sehari-hari, jauh sebelum koper dibuka dan tiket digunakan.
Tag: #liburan #baru #mulai #tubuh #sudah #tumbang #riset #ungkap #fenomena #leisure #sickness