Pentingnya Gizi Seimbang: Stunting pada Anak Tidak Pandang Status Sosial Ekonomi
Ilustrasi stunting. (JawaPos)
09:40
25 Januari 2026

Pentingnya Gizi Seimbang: Stunting pada Anak Tidak Pandang Status Sosial Ekonomi

  - Masalah gizi di Indonesia selama ini kerap dilekatkan dengan kemiskinan. Padahal, stunting dan kurang gizi tidak hanya dialami kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi menengah hingga atas.

Pola makan yang keliru, pemahaman gizi yang salah, hingga kebiasaan konsumsi yang tidak seimbang menjadi faktor yang kerap luput dari perhatian.

Dokter Spesialis Konsultasi Gizi Klinik, dr. Jovita Amelia, MSc, Sp.GK, menegaskan bahwa status sosial ekonomi tidak selalu sejalan dengan kualitas gizi. Anak dari keluarga mampu tetap berisiko mengalami masalah gizi bila pola makannya tidak sesuai kebutuhan.

Salah Paham Gizi Jadi Pemicu

Menurut dr. Jovita, salah satu penyebab utama masalah gizi, baik kurang maupun berlebih pada kelompok menengah ke atas adalah pemahaman gizi yang keliru di masyarakat. Informasi yang beredar luas di media sosial sering kali justru menyesatkan.

“Iya, lebih karena pemahaman gizi yang kurang atau kadang mungkin ikut ajaran sesat di media sosial,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (24/1)?

Ia menjelaskan, banyak orang tua mengikuti tren pola makan tertentu tanpa memahami kebutuhan gizi anak secara menyeluruh. Akibatnya, asupan gizi tidak terpenuhi secara optimal atau justru berlebihan.

Cara Mencegah Anak Kurang Gizi

Untuk mencegah anak mengalami kurang gizi, dr. Jovita menekankan pentingnya melihat kebiasaan makan anak secara menyeluruh. Orang tua perlu memastikan apakah asupan harian anak sudah mencukupi kebutuhan kalorinya.

Selain itu, jam makan anak juga perlu diperhatikan. Pola makan yang tidak teratur dapat memengaruhi asupan energi dan nutrisi harian.

“Kebutuhan kalori anak harus disesuaikan dengan usia dan aktivitasnya, komposisi makanannya benar, dan jam makannya juga harus tepat,” jelas dr. Jovita.

Komposisi gizi yang dianjurkan tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang, dengan pembagian karbohidrat, protein, serta sayur dan buah yang proporsional, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

Dampak Buruk Gizi Berlebih dan Kurang Gizi

Gizi berlebih maupun kurang sama-sama membawa dampak serius bagi kesehatan. Kelebihan gizi dapat menyebabkan obesitas, yang menjadi faktor risiko berbagai penyakit metabolik seperti diabetes dan gangguan jantung.

Sementara itu, kurang gizi dapat berujung pada malnutrisi yang membuat daya tahan tubuh menurun sehingga anak lebih mudah terserang penyakit. Pada anak, kondisi kurang gizi juga berdampak jangka panjang.

“Kalau pada anak, justru akan meningkatkan risiko terkena penyakit metabolik saat dewasa,” kata dr. Jovita.

Ia juga mengingatkan bahwa stunting tidak bisa hanya dilihat dari tubuh anak yang tampak kecil. Penilaian harus dilakukan dengan membandingkan tinggi dan berat badan anak sesuai usia, serta mempertimbangkan tinggi badan orang tua.

Terkait pola makan, dr. Jovita menegaskan bahwa diet yang dianjurkan adalah diet sehat dan seimbang. Karbohidrat tetap diperlukan, tidak harus selalu nasi, bisa diganti dengan kentang atau sumber karbohidrat kompleks lain, dilengkapi protein serta sayur dan buah sesuai konsep piring sehat.

Jika tujuan diet adalah menurunkan berat badan, maka pengaturan defisit kalori perlu dilakukan secara tepat dan aman.

Dengan pemahaman gizi yang benar, masyarakat diharapkan tidak lagi terjebak pada pola makan ekstrem, karena dalam gizi, kekurangan maupun kelebihan sama-sama tidak baik bagi kesehatan.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #pentingnya #gizi #seimbang #stunting #pada #anak #tidak #pandang #status #sosial #ekonomi

KOMENTAR