Rh Null, Golongan Darah Langka yang Hanya Dimiliki 50 Orang di Dunia
- Golongan darah kerap dipahami sebatas A, B, AB, atau O dengan tambahan rhesus positif dan negatif.
Namun, di balik sistem yang tampak sederhana itu, dunia medis mengenal satu jenis darah yang jauh lebih langka dan nyaris mustahil ditemukan, yakni Rh null.
Golongan darah ini hanya dimiliki sekitar 50 orang di seluruh dunia dan sering dijuluki sebagai golden blood atau darah emas karena nilainya yang sangat tinggi dalam dunia transfusi.
Rh null bukan sekadar langka, tetapi juga memiliki karakteristik yang membuatnya unik dan krusial bagi penelitian medis modern.
Darah ini sangat berharga sebagai donor. Di sisi lain, pemiliknya justru berada dalam kondisi yang rentan, karena hampir tidak ada darah yang cocok untuk mereka terima.
Mengapa Rh Null disebut golongan darah emas?
Dilansir BBC, Sabtu (17/1/2026), Rh null disebut sebagai golden blood karena tingkat kelangkaannya yang ekstrem dan manfaat medisnya yang luar biasa.
Menurut data ilmiah, hanya satu dari sekitar enam juta orang yang memiliki golongan darah ini. Bahkan secara global, jumlah pemilik Rh null yang diketahui hanya sekitar 50 orang.
Profesor biologi sel dari University of Bristol, Ash Toye menjelaskan, sistem rhesus merupakan salah satu sistem golongan darah yang paling kompleks dan paling memicu reaksi imun.
“Jika seseorang menerima darah dengan antigen yang berbeda dari miliknya, tubuh akan membentuk antibodi dan menyerang darah tersebut. Jika ini terjadi berulang kali, bisa mengancam nyawa,” ujar Toye.
Keunikan Rh null terletak pada tidak adanya satu pun antigen rhesus di permukaan sel darah merahnya.
Darah ini tidak memicu reaksi imun yang berkaitan dengan sistem Rh. Inilah yang membuat Rh null sangat berharga dalam kondisi darurat medis dan penelitian transfusi darah.
Tidak bisa menerima darah apa pun, tapi bisa menolong banyak orang
Meski terdengar paradoks, pemilik Rh null justru tidak bisa menerima darah dari siapa pun kecuali sesama Rh null.
Namun, darah mereka bisa diberikan kepada hampir semua orang dalam sistem rhesus.
“Antigen Rh memicu respons imun yang besar. Jadi, jika seseorang tidak memiliki antigen Rh sama sekali, praktis tidak ada yang bisa diserang oleh sistem imun dari sisi rhesus,” kata Toye.
Dalam kondisi darurat ketika golongan darah pasien belum diketahui, darah Rh null tipe O bahkan berpotensi menjadi solusi universal karena risikonya yang sangat rendah dalam memicu reaksi alergi.
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa istilah “universal donor” tetap memiliki keterbatasan, karena masih ada ratusan antigen lain di luar sistem Rh yang juga bisa memicu reaksi imun.
Ironisnya, karena sangat langka, pemilik Rh null justru dianjurkan untuk menyimpan darah mereka sendiri dalam bentuk beku sebagai cadangan pribadi, jika suatu hari membutuhkan transfusi.
Sistem golongan darah lebih kompleks dari A,B,O dan rhesus
Banyak orang mengira sistem golongan darah hanya terbatas pada A,B,O dan rhesus. Padahal, hingga kini dunia medis telah mengenal sekitar 47 sistem golongan darah dengan lebih dari 360 antigen berbeda.
A,B,O memang menjadi sistem yang paling dikenal, sementara rhesus menjadi sistem kedua yang paling memicu reaksi imun.
Namun, pada kenyataannya, seseorang tetap bisa mengalami reaksi transfusi meskipun menerima darah O negatif, karena masih ada antigen lain yang belum tentu cocok.
“Ketika orang mengatakan Rh negatif, mereka hanya merujuk pada antigen Rh(D), padahal masih ada lebih dari 50 antigen lain dalam sistem rhesus,” jelas Toye.
Inilah sebabnya kecocokan darah menjadi sangat rumit, terutama bagi individu dengan latar belakang etnis tertentu yang memiliki variasi antigen berbeda dari populasi mayoritas.
Asal-usul genetik Rh Null yang membuatnya sangat langka
Rh null terjadi akibat mutasi genetik yang memengaruhi protein bernama Rh-associated glycoprotein (RHAG).
Protein ini berperan penting dalam mengekspresikan antigen Rh di permukaan sel darah merah. Ketika RHAG tidak berfungsi dengan baik, seluruh antigen Rh gagal muncul.
Mutasi ini sangat jarang terjadi dan biasanya diwariskan secara resesif, sehingga kemungkinan seseorang memiliki Rh null menjadi sangat kecil.
Kondisi ini juga dapat memengaruhi stabilitas sel darah merah, sehingga beberapa pemilik Rh null memiliki risiko anemia ringan.
Namun, dari kelangkaan inilah nilai medis Rh null muncul. Darah ini menjadi kunci penting dalam penelitian menuju transfusi darah yang lebih universal.
Upaya ilmuwan mengembangkan Rh Null di laboratorium
Ilmuwan di berbagai negara kini berlomba menciptakan darah Rh null di laboratorium.
Pada 2018, tim Ash Toye berhasil merekayasa sel darah dengan menghapus lima sistem antigen utama menggunakan teknologi CRISPR-Cas9.
“Kami menyadari bahwa jika lima sistem antigen utama bisa dihilangkan, kita bisa menciptakan sel darah yang sangat kompatibel,” ungkapToye.
Sementara itu, imunolog Gregory Denomme dari Versiti Blood Research Institute menjelaskan, meski teknik ini menjanjikan, prosesnya masih sangat kompleks.
“Menghilangkan gen tertentu bisa memengaruhi stabilitas membran sel atau kemampuan sel darah merah untuk berkembang dengan normal,” ujarnya.
Hingga kini, produksi darah buatan dalam skala besar masih jauh dari realisasi. Toye menegaskan bahwa donor darah manusia tetap menjadi sumber utama.
“Mengambil darah langsung dari manusia masih jauh lebih efisien dan murah. Tetapi bagi pemilik golongan darah langka, kemampuan menumbuhkan darah mereka sendiri akan menjadi terobosan besar,” katanya.
Rh null bukan hanya simbol kelangkaan biologis, tetapi juga harapan besar bagi masa depan transfusi darah.
Dari segelintir manusia dengan darah istimewa ini, ilmuwan berupaya membuka jalan menuju sistem transfusi yang lebih aman, universal, dan inklusif bagi seluruh umat manusia.
Tag: #null #golongan #darah #langka #yang #hanya #dimiliki #orang #dunia