Tak Semua Berlabel BPOM Aman untuk Anak, Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi membaca label makanan.(Dok. Freepik/Lifestylememory)
20:24
27 Januari 2026

Tak Semua Berlabel BPOM Aman untuk Anak, Ini Penjelasan Dokter

Keberadaan nomor izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kerap dianggap sebagai jaminan bahwa suatu produk pangan aman dikonsumsi, termasuk untuk anak.

Namun, dokter mengingatkan, label BPOM tidak selalu berarti produk tersebut tepat dan aman untuk kebutuhan gizi anak, terutama bayi dan balita.

Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), menegaskan bahwa orang tua perlu memahami lebih jauh kategori pangan dan informasi pada label makanan, bukan sekadar melihat ada atau tidaknya nomor BPOM.

“Nomor BPOM memang penting, tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa produk tersebut sesuai untuk anak. Yang harus diperhatikan adalah kategori pangannya, komposisi, informasi nilai gizi, dan klaim yang digunakan,” ujar dr. Klara webinar bertajuk Label Makanan yang harus Diketahui Orangtua untuk Anak, Selasa (27/1/2026).

Baca juga: BPOM Rilis Daftar 26 Kosmetik Berbahaya, Ada Krim Malam hingga Produk Pemutih

Tidak semua pangan berlabel BPOM sama

Menurut dr. Klara, pangan untuk anak terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari pangan umum, pangan olahan kemasan, hingga pangan diet atau keperluan medis khusus (PKMK).

Masing-masing memiliki aturan dan standar yang berbeda.

Produk pangan diet atau medis khusus, misalnya, hanya boleh digunakan berdasarkan indikasi medis dan diresepkan oleh dokter spesialis anak.

Produk ini juga wajib mencantumkan informasi gizi yang jauh lebih detail dibandingkan pangan umum.

“Kalau ada produk yang mengklaim sebagai makanan medis atau makanan untuk kondisi khusus, tapi dijual bebas dan label gizinya sangat sederhana, itu patut dicurigai,” kata dr. Klara.

Ia mencontohkan, ada produk yang beredar luas dan bahkan digunakan di fasilitas layanan kesehatan, tetapi setelah ditelusuri melalui laman resmi BPOM, ternyata hanya terdaftar sebagai minuman serbuk mengandung susu, bukan pangan medis khusus.

Pentingnya membaca komposisi dan informasi nilai gizi

Selain kategori pangan, orang tua juga perlu mencermati daftar komposisi. Bahan yang tercantum di urutan pertama menunjukkan jumlah terbanyak dalam produk tersebut.

“Kalau gula atau karbohidrat sederhana tercantum di urutan awal, artinya kandungannya cukup tinggi,” ujar dr. Klara.

Ia menekankan pentingnya membedakan gula alami seperti laktosa pada susu dengan gula tambahan seperti sukrosa.

Konsumsi gula tambahan yang berlebihan, menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari total asupan energi harian.

“Banyak produk anak yang secara tidak sadar menyumbang gula cukup besar. Anak memang terlihat kenyang, tapi gizinya tidak seimbang,” kata dia.

Klaim gizi bisa menyesatkan jika tidak dipahami

Hal lain yang kerap membingungkan konsumen adalah klaim gizi pada kemasan, seperti “sumber kalsium” atau “tinggi kalsium”.

Menurut dr. Klara, istilah tersebut memiliki arti yang berbeda secara regulasi.

“Klaim ‘sumber’ berarti kandungannya memenuhi batas minimal yang ditetapkan BPOM. Sementara ‘tinggi’ artinya jumlahnya jauh lebih besar dan ada pembandingnya. Kalau orang tua tidak paham, bisa salah menilai kualitas gizi produk,” jelasnya.

Untuk produk bayi dan MPASI, aturan klaim bahkan lebih ketat. Produk tersebut tidak boleh mencantumkan klaim kesehatan, seperti menurunkan risiko penyakit tertentu.

Baca juga: BPOM Paparkan Tiga Kelompok Produk Herbal Paling Banyak Tercemar BKO Sejak 2017

Dampak salah memilih pangan anak

Kesalahan dalam memahami label pangan dapat berdampak serius pada kesehatan anak.

Klara menyebutkan, stunting, gizi buruk, hingga obesitas bisa dipicu oleh pola konsumsi pangan kemasan yang tinggi gula dan rendah protein serta mikronutrien.

“Anak yang sering mengonsumsi jajanan kemasan bisa merasa kenyang, tapi ketika waktu makan utama tiba, ia menolak makanan bergizi. Ini berisiko mengganggu tumbuh kembang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kasus konsumsi susu kental manis yang kerap disalahartikan sebagai susu bergizi, padahal kandungan gulanya tinggi dan nilai gizinya tidak setara dengan susu.

Baca juga: BPOM Tarik Susu Formula Bayi Nestlé, 53 Negara Keluarkan Peringatan

Peran orangtua dan masyarakat

Klara menekankan, pengawasan BPOM terhadap ribuan produk pangan tentu memiliki keterbatasan.

Karena itu, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan, termasuk dengan melaporkan produk yang dicurigai menyesatkan atau tidak sesuai klaim.

“Sekarang masyarakat bisa mengecek kategori dan izin produk langsung melalui situs BPOM. Ini penting agar kita tidak salah memilih pangan untuk anak,” kata dia.

Ia pun mengingatkan bahwa makanan kemasan tidak selalu buruk, asalkan dipilih dengan cermat dan tetap diimbangi makanan segar yang bervariasi.

“Membaca label pangan bukan sekadar formalitas. Ini adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan dan masa depan anak,” jelas dr. Klara.

Tag:  #semua #berlabel #bpom #aman #untuk #anak #penjelasan #dokter

KOMENTAR