BCA Bukukan Laba Bersih Rp 57,5 Triliun Sepanjang 2025
- PT Bank Central Asia Tbk atau BCA membukukan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun sepanjang 2025.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, laba bersih perseroan tumbuh 4,9 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 54,8 triliun.
"Rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9 persen (yoy) menjadi Rp 57,5 triliun," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (27/1/2026).
Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4 persen (yoy) menjadi Rp 111,1 triliun yang terdiri dari pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp 65,4 triliun atau naik 4,1 persen (yoy) dan pendapatan selain bunga (non-interest income) sebesar Rp 25,6 triliun atau naik 16 persen (yoy).
Baca juga: BTN Bidik Laba Bersih 2026 Naik hingga 22 Persen
Adapun pertumbuhan laba bersih itu ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit BCA dan anak usaha yang mencapai 7,7 persen (yoy) menjadi Rp 993 triliun.
Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8 persen sepanjang 2025.
Penyaluran kredit BCA ini terdistribusi ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga. "Ini selaras dengan komitmen perseroan mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia," kata Hendra.
Bank dengan kode saham BBCA ini juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit usaha sebesar 9,9 persen (yoy) mencapai Rp 756,5 triliun per Desember 2025.
Kinerja pembiayaan konsumer juga terjaga sebesar Rp 224,1 triliun, didukung kredit pemilikan rumah (KPR) hingga Rp 142,3 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp 56,6 triliun.
Hendra mengungkapkan, BCA juga mendukung penyaluran KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) swasta sejak Oktober 2025.
Outstanding pinjaman konsumer lain yang sebagian besar dikontribusikan dari produk kartu kredit, tumbuh 9,8 persen (yoy) menjadi Rp 25,2 triliun.
Tidak hanya dari sisi penyaluran, kinerja kualitas kredit BCA juga terjaga.
Hal ini tecermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya.
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) BCA terkendali di level 1,7 persen dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8 persen dan 71,6 persen.
Selanjutnya, BCA turut menyalurkan kredit ke sektor-sektor berkelanjutan yang pada periode ini tumbuh 11,7 persen (yoy) menjadi Rp 255 triliun per Desember 2025 atau setara 25,8 persen terhadap total portofolio pembiayaan.
Hal ini didukung meningkatnya pembiayaan ke sektor Energi Baru Terbarukan hingga dua kali lipat secara tahunan menjadi Rp 6,2 triliun.
Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 53 persen (yoy) menjadi Rp 3,6 triliun. "Per Desember 2025, BCA memiliki 43.000 lebih debitur perempuan," tambahnya.
Di sisi pendanaan, BCA mencatatkan pertumbuhan dana giro dan tabungan (CASA) sebesar 13,1 persen (yoy) hingga Rp 1.045 triliun.
Per Desember 2025, total dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen (yoy) mencapai Rp 1.249 triliun.
Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 meningkat 17 persen (yoy) mencapai 42 miliar.
Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari. "Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19 persen (yoy)," kata dia.
Baca juga: PLN Catat Laba Usaha Rp 30,6 Triliun di Semester I-2025