Investor LVMH Desak Kejelasan Rencana Suksesi Bernard Arnault
- Selama hampir 40 tahun, Bernard Arnault menjadi arsitek utama di balik LVMH, kerajaan barang mewah terbesar di dunia yang menaungi lebih dari 70 merek global seperti Dior dan Tiffany.
Namun di tengah perlambatan sektor mewah global dan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap tata kelola perusahaan, ketidakjelasan soal suksesi Arnault kini berubah menjadi isu strategis yang mulai mengusik kepercayaan investor.
Sebagai grup dengan valuasi sekitar USD 350 miliar atau setara Rp 5.862 triliun (kurs Rp 16.750 per dolar AS), LVMH dipandang terlalu besar untuk bergantung pada satu figur tanpa peta jalan kepemimpinan yang transparan. Arnault yang kini berusia 76 tahun belum menunjuk penerus, meskipun kelima anaknya telah memegang posisi penting dalam struktur perusahaan.
Dilansir dari Reuters, Selasa (27/1/2026), sejumlah pemegang saham LVMH secara terbuka menyatakan bahwa absennya kejelasan suksesi telah berkembang dari isu jangka panjang menjadi risiko nyata bagi perusahaan. Tahun lalu, Arnault kembali memperpanjang batas usia jabatan gabungan CEO dan ketua dewan hingga 85 tahun, memicu pertanyaan baru tentang kesinambungan kepemimpinan.
"Perencanaan suksesi, sejauh ini, tampak tidak jelas dan tertutup," ujar Stefan Bauknecht, manajer portofolio ekuitas di DWS milik Deutsche Bank, yang tercatat sebagai pemegang saham terbesar ke-12 LVMH.
Dia menegaskan, "Kami menginginkan transparansi yang lebih besar dan rencana yang jelas tentang bagaimana kepemimpinan akan berkembang ke depan."
Pandangan serupa disampaikan Ariane Hayate, manajer dana Eropa di Edmond de Rothschild, Paris.
"Sepuluh tahun lalu, suksesi bukan isu mendesak. Hari ini, ini telah menjadi faktor risiko dan berujung pada diskon tata kelola perusahaan," katanya, merujuk pada potensi tekanan terhadap valuasi saham LVMH akibat ketidakpastian kepemimpinan.
Meski demikian, manajemen LVMH menolak anggapan bahwa perusahaan tidak siap. Dalam tanggapan tertulis kepada Reuters, LVMH menyatakan bahwa rencana suksesi memang ada meskipun tidak diungkapkan ke publik.
Perusahaan menegaskan rencana tersebut mencakup pandangan jangka menengah hingga skenario "peristiwa mendadak," tanpa secara spesifik menyebut posisi Arnault.
Namun bagi sebagian investor, perpanjangan usia jabatan Arnault justru dibaca sebagai upaya membeli waktu.
"Mereka mungkin tidak bisa memberi kejelasan karena Arnault sendiri belum memiliki kejelasan penuh di benaknya," kata Paul Moroz dari Mawer Investment Management. Dia menambahkan, "Anda tidak pernah benar-benar tahu sampai keputusan itu diambil."
Arnault sendiri cenderung meremehkan urgensi isu suksesi. Dalam wawancara dengan CNBC pada Desember lalu, dia mengatakan, "Bicaralah lagi dengan saya dalam 10 tahun, saya bisa memberi jawaban yang lebih pasti."
Dia menambahkan, "Kecuali terjadi sesuatu yang mendadak," seraya menyiratkan keyakinannya masih dapat memimpin LVMH dalam satu dekade ke depan.
Sementara itu, struktur kepemilikan keluarga LVMH memperumit persoalan. Dokumen korporasi menunjukkan bahwa entitas pengendali Agache Commandite SAS dimiliki secara merata oleh kelima anak Arnault. Tanpa arahan eksplisit, keputusan strategis akan ditentukan oleh suara mayoritas tiga dari lima ahli waris, sebuah skema yang oleh sebagian pengamat dinilai rentan konflik.
Karena itu, "Ini adalah bom waktu. Dalam generasi kedua, ketegangan hampir selalu muncul. Dan ketika jumlahnya lima orang, itu tidak akan terhindarkan," ujar Eric Pichet, profesor tata kelola perusahaan dari Kedge Business School.
Namun, LVMH menepis kekhawatiran itu dan menyatakan risiko kebuntuan pengambilan keputusan itu "tidak ada."
Meski mayoritas pemegang saham mendukung perpanjangan masa jabatan Arnault, penolakan dari Allianz GI dan abstainnya Baillie Gifford menandai meningkatnya kehati-hatian investor institusional.
Analis Berenberg, Nick Anderson, mencatat adanya peningkatan sorotan pasar terhadap isu ini, meskipun "belum terlihat bukti adanya diskon suksesi" pada saham LVMH.
Namun bagi investor global, satu pesan kian jelas: selama masa depan kepemimpinan LVMH masih diselimuti ketidakpastian, bayang-bayang risiko tata kelola akan terus mengikuti raksasa merek mewah asal Prancis tersebut.
Tag: #investor #lvmh #desak #kejelasan #rencana #suksesi #bernard #arnault