Efektif, Uji Coba Pengambilan Sampel Mandiri untuk Deteksi Kanker Serviks
– Upaya menekan angka kanker serviks atau kanker leher rahim di Indonesia kini memasuki babak baru. Terlebih kanker ini menjadi jenis kanker kedua yang paling sering terjadi pada perempuan.
Setiap tahunnya, diperkirakan ada sekitar 36.000 perempuan Indonesia terkena kanker serviks dan 21.000 orang di antaranya meninggal dunia.
Oleh karenanya, pemerintah mulai mendorong penggunaan metode self sampling HPV DNA atau pengambilan sampel secara mandiri sebagai langkah awal untuk memperluas jangkauan deteksi dini kanker leher rahim.
Baca juga: Self-Sampling HPV DNA: Terobosan Pencegahan Kanker Serviks
Efektivitas self sampling HPV DNA dalam mendeteksi kanker serviks
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D. dalam Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam pencegahan kanker serviks.
“Kami juga mempunyai strategi yang lebih inovatif. Dulu dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan pemeriksaan pap smear, kalau sekarang dilakukan pemeriksaan mandiri,” katanya dalam Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: Tes Pap Smear Gratis Pakai BPJS Kesehatan, Begini Prosedurnya
Karena itulah, Kementerian Kesehatan mulai menggeser pendekatan skrining dari yang sebelumnya mengandalkan pap smear yang dilakukan di rumah sakit atau puskesmas, menjadi skrining berbasis pemeriksaan DNA HPV dengan metode pengambilan sampel mandiri.
Ia menjelaskan cara ini punya mekanisme yang cukup sederhana dan lebih nyaman dilakukan pada perempuan.
“Kami akan berikan alatnya, nanti perempuan bisa melakukan swab sendiri. Lalu hasil swab tersebut diberikan ke petugas kesehatan untuk diperiksa ke laboratorium,” jelas dia.
Teknik self sampling HPV DNA ini sudah diuji coba melalui proyek percontohan di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.
Hasilnya menunjukkan metode ini bukan hanya dapat diterima masyarakat, tetapi juga efektif untuk meningkatkan cakupan skrining.
Baca juga: Pentingnya Skrining Dini untuk Mencegah Kanker Serviks
Pilot project di Surabaya dan Sidoarjo dengan model Hub-and-Spoke
Proyek percontohan dilakukan di dua wilayah dengan karakteristik geografis yang berbeda, yakni Kelurahan Manukan Kulon di Kota Surabaya dan Kecamatan Wonoayu di Kabupaten Sidoarjo.
Pelaksanaannya menggunakan pendekatan model hub-and-spoke yang dilakukan April sampai Oktober 2025.
Model ini membangun jaringan rujukan antara laboratorium berkapasitas tinggi di wilayah perkotaan padat penduduk (hub) dengan laboratorium yang kapasitasnya lebih terbatas serta fasilitas layanan kesehatan primer di wilayah pedesaan atau semi-perkotaan (spoke).
Dengan pola tersebut, layanan skrining bisa menjangkau lebih banyak perempuan secara merata dan efisien.
Struktur hub-and-spoke yang diujicobakan dalam studi ini terbukti berhasil menunjukkan peningkatan partisipasi dan aksesibilitas skrining DNA HPV bagi perempuan di Jawa Timur.
Sistem rujukan menjadi lebih jelas, alur pemeriksaan lebih terstruktur, dan beban layanan laboratorium bisa diatur sesuai kapasitas masing-masing wilayah.
Pendekatan ini juga membuka peluang integrasi skrining DNA HPV ke dalam layanan kesehatan primer secara lebih sistematis, sehingga ke depan dapat diterapkan secara nasional.
Baca juga: HPV DNA Self-sampling, Cara Nyaman Deteksi Dini Kanker Serviks
Self sampling HPV DNA menjangkau 5.500 perempuan di Surabaya
Di Surabaya, skrining DNA HPV dilakukan dengan model self sampling. Program ini menjangkau 5.500 perempuan atau sekitar 75 persen dari target total 7.333 perempuan usia sasaran.
Metode ini dinilai diterima dengan baik karena dianggap sederhana, privat, dan mampu mengurangi rasa takut.
Peran kader kesehatan juga sangat penting sebagai rujukan terpercaya di komunitas, sekaligus penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan.
Dari pelaksanaan di Surabaya, pengambilan sampel mandiri mencatat capaian skrining sebesar 54,3 persen dengan positivity rate 4,6 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa metode tersebut cukup efektif dalam menjaring perempuan yang berisiko terinfeksi HPV.
“Dari angka pilot study yang kita lakukan di Surabaya ini, angka invalidnya cuma 1,1 persen,” ungkap Dante.
Baca juga: Bisa Sebabkan Kanker Serviks, Ketahui Gejala hingga Risiko Infeksi HPV
Provider-sampling tetap efektif dengan pendampingan di Sidoarjo
Sementara itu, di Kabupaten Sidoarjo pendekatan yang digunakan berbeda. Skrining dilakukan melalui provider-sampling atau pengambilan sampel oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Wonoayu.
Program ini menjangkau 923 perempuan, setara 75 persen dari target total 1.230 perempuan usia sasaran.
Pendekatan ini juga mendapat respons positif karena peserta memperoleh pendampingan langsung dari tenaga kesehatan.
Di Sidoarjo, capaian skrining tercatat sebesar 45 persen dengan positivity rate 4,3 persen.
Angka ini relatif sebanding dengan Surabaya, menunjukkan bahwa baik self sampling maupun provider-sampling, sama-sama memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Namun, salah satu kendala skrining selama ini adalah faktor psikologis. Dante mengungkapkan, masih banyak perempuan yang merasa kurang nyaman karena harus di-swab vaginanya oleh petugas, sehingga muncul rasa malu dan enggan melakukan pemeriksaan.
Di sinilah self sampling dianggap lebih ramah bagi perempuan karena memberi ruang privasi yang lebih besar.
Baca juga: Deteksi Kanker Serviks di Jateng Terhalang Malu, Takut, dan Anggapan Tabu
Didukung bukti ilmiah dan validasi WHO
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. menegaskan pentingnya hasil studi ini bagi pengembangan kebijakan nasional.
“Studi implementasi ini memberikan bukti penting tentang bagaimana skrining DNA HPV dapat diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer melalui model hub-and-spoke,” ujar dia.
Dukungan juga datang dari lembaga Jhpiego Indonesia. Country Director Jhpiego Indonesia, Maryjane Lacoste menyampaikan, edukasi menjadi bagian penting dari keberhasilan self sampling.
“Kami membantu mengembangkan video untuk menunjukkan kepada perempuan bagaimana cara melakukannya Self Sampling HPV DNA. Hal ini juga penting diketahui para kader, pekerja kesehatan masyarakat yang berkontak langsung dengan warga,” ujarnya.
Jika diimplementasikan secara nasional dengan edukasi yang merata, metode ini berpotensi menjadi fondasi utama dalam membangun sistem deteksi dini yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.
Baca juga: Kasus Kanker Serviks Masih Tinggi, Vaksinasi HPV Diperluas Hingga ke Sekolah
Tag: #efektif #coba #pengambilan #sampel #mandiri #untuk #deteksi #kanker #serviks