Teknologi Robotik Membantu Tindakan Bedah Kanker Prostat Lebih Presisi
Ilustrasi penyebab kanker prostat. (Dok. Shutterstock/ R Photography Background)
10:06
15 Januari 2026

Teknologi Robotik Membantu Tindakan Bedah Kanker Prostat Lebih Presisi

- Sistem bedah robotik Da Vinci XI kini membantu operasi kanker prostat dilakukan dengan tingkat presisi lebih baik. Teknologi ini memungkinkan dokter menjaga organ dan saraf di sekitar prostat.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi, saat Media Meet Up di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2026).

Menurut dr. Agus, letak prostat yang berada jauh di dalam rongga panggul membuat operasi kanker prostat menjadi salah satu tindakan bedah yang paling menantang.

“Seperti diketahui, prostat itu letaknya di dalam di rongga pelvis, di rongga panggul. Letaknya di dalam dan banyak organ-organ dan saraf yang harus kita preservasi dengan robot,” jelasnya.

Di sekitar prostat, terdapat banyak struktur penting yang berperan dalam fungsi berkemih dan seksual. Karena itu, ketepatan gerakan saat operasi menjadi faktor krusial.

Robotik bantu jaga organ dan saraf

Dr. Agus menjelaskan, sistem robotik Da Vinci XI memungkinkan dokter melakukan pembedahan dengan kontrol yang lebih stabil dan presisi dibandingkan teknik konvensional.

“Data-data sekarang menunjukkan bahwa dengan operasi robotik itu kita bisa mempreservasi organ-organ sehingga efek samping yang terjadi akibat operasi pengangkatan kanker prostat itu jauh lebih baik” terangnya.

Presisi tersebut berperan besar dalam mengurangi risiko kerusakan saraf dan jaringan di sekitar prostat. Dengan demikian, kualitas hidup pasien setelah operasi dapat lebih terjaga.

Menurut dr. Agus, perkembangan ini menjadi salah satu kemajuan penting dalam dunia urologi onkologi, terutama untuk kanker prostat yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Deteksi dini tetap menentukan

Meski teknologi operasi makin canggih, dr. Agus menegaskan bahwa hasil terbaik tetap sangat bergantung pada waktu deteksi kanker.

Ia mengingatkan bahwa kanker prostat sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru datang saat kondisi sudah lanjut.

“Kalau gejala awal itu tidak ada. Dia enggak kontrol, tapi begitu datang, ternyata kanker prostatnya udah menyebar,” ujar dr. Agus.

Jika kanker sudah menyebar, tindakan operasi tidak lagi dapat dilakukan. Pada kondisi tersebut, pengobatan hanya bertujuan memperlambat perkembangan penyakit.

Gejala sering tidak terasa

Dr. Agus juga mengungkapkan, sekitar separuh pasien kanker prostat datang tanpa keluhan apa pun. Namun, setelah pemeriksaan lanjutan dan biopsi dilakukan, barulah kanker ditemukan.

“Mungkin sekarang pasien saya 50 persen enggak ada gejala. Begitu kita periksa, kita biopsi, ternyata ada kanker,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemeriksaan rutin memiliki peran penting dalam membuka peluang tindakan medis lebih optimal.

Dr. Agus menuturkan, di negara-negara dengan tingkat deteksi dini yang tinggi, hasil pengobatan kanker prostat jauh lebih baik.

Dengan dukungan teknologi robotik, operasi kanker prostat kini dapat dilakukan dengan presisi lebih tinggi. Namun, dr. Agus mengingatkan bahwa teknologi tersebut baru bisa dimanfaatkan secara optimal bila kanker ditemukan sebelum mencapai stadium lanjut.

Tag:  #teknologi #robotik #membantu #tindakan #bedah #kanker #prostat #lebih #presisi

KOMENTAR