Pria Berusia 24 Tahun Meninggal karena Demensia, Penyakit yang Selama Ini Dianggap Menyerang Lansia
Ilustrasi demensia. Penyakit yang identik dengan lansia ini berkembang cepat pada Andre Yarham, merenggut kemampuan bicara, perilaku, dan kemandirian saat hidupnya baru dimulai.(Freepik)
19:06
13 Januari 2026

Pria Berusia 24 Tahun Meninggal karena Demensia, Penyakit yang Selama Ini Dianggap Menyerang Lansia

Demensia selama ini identik dengan usia lanjut, tetapi kisah Andre Yarham membuktikan bahwa penyakit ini juga bisa merenggut masa muda secara brutal.

Andre Yarham, pria asal Norfolk, Inggris, didiagnosis menderita demensia pada usia 22 tahun dan meninggal dunia dua tahun kemudian, tepat saat usianya 24 tahun.

Pada usia ketika sebagian besar otak manusia masih beradaptasi menuju kedewasaan, hasil pemindaian MRI menunjukkan otak Andre justru mengalami penyusutan ekstrem, menyerupai otak seseorang berusia sekitar 70 tahun, sebagaimana dilaporkan The Conversation.

Gejala awal yang sulit dipahami

Perubahan pada diri Andre mulai disadari keluarganya pada 2022, ketika ia menjadi mudah lupa dan kerap menunjukkan ekspresi kosong.

Ibunya, Samantha Fairbairn, mengatakan kepada BBC bahwa perilaku putranya perlahan berubah, termasuk munculnya tindakan yang tidak biasa dan sulit dijelaskan.

Dalam fase akhir hidupnya, Andre kehilangan kemampuan berbicara, tidak lagi mampu merawat dirinya sendiri, menggunakan kursi roda, dan membutuhkan perawatan penuh.

Bukan Alzheimer, tetapi demensia frontotemporal

Ilustrasi otak. Penyakit yang identik dengan lansia ini berkembang cepat pada Andre Yarham, merenggut kemampuan bicara, perilaku, dan kemandirian saat hidupnya baru dimulai.Freepik/kjpargeter Ilustrasi otak. Penyakit yang identik dengan lansia ini berkembang cepat pada Andre Yarham, merenggut kemampuan bicara, perilaku, dan kemandirian saat hidupnya baru dimulai.

Andre didiagnosis menderita frontotemporal dementia (FTD), salah satu jenis demensia yang jauh lebih jarang dibandingkan Alzheimer.

Rahul Sidhu, kandidat doktor bidang neurosains dari University of Sheffield, menjelaskan bahwa FTD menyerang area otak yang mengatur kepribadian, perilaku, dan bahasa.

“Kerusakan di lobus frontal dan temporal dapat mengubah cara seseorang berpikir, berbicara, dan mengendalikan emosi,” tulis Sidhu.

Kondisi ini membuat penderita bisa tampak impulsif, menarik diri, atau kehilangan kemampuan berkomunikasi dalam waktu relatif singkat.

Peran mutasi genetik yang mematikan

Menurut Sidhu, banyak kasus demensia frontotemporal berkaitan dengan mutasi genetik yang mengganggu cara sel otak memproses protein.

Protein yang seharusnya diurai justru menggumpal di dalam neuron, merusak fungsi sel, dan akhirnya menyebabkan kematian sel otak secara cepat.

“Inilah yang membuat otak tidak ‘menua lebih cepat’, melainkan kehilangan jaringan saraf dalam waktu singkat,” jelas Sidhu.

Keputusan keluarga yang mengubah duka menjadi harapan

Menjelang akhir hidupnya, Andre memutuskan untuk mendonorkan otaknya demi penelitian ilmiah.

Kepada The Independent, Samantha Fairbairn menyebut keputusan tersebut sebagai upaya mencegah keluarga lain mengalami penderitaan serupa.

“Jika suatu hari penelitian ini bisa memberi satu keluarga tambahan waktu bersama orang yang mereka cintai, itu sudah sangat berarti,” ujarnya.

Andre meninggal dunia pada 27 Desember, dan otaknya kini diteliti di Addenbrooke’s Hospital, Cambridge.

Sidhu menegaskan bahwa kasus demensia dengan onset sangat dini tergolong sangat langka, tetapi justru sangat berharga bagi ilmu pengetahuan.

“Setiap otak yang didonorkan membantu kami memahami apa yang salah di tingkat sel dan protein, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya lewat pemindaian,” tulisnya.

Pengetahuan tersebut diharapkan membuka jalan bagi pengembangan terapi yang mampu memperlambat, menghentikan, atau bahkan mencegah demensia di masa depan.

Tag:  #pria #berusia #tahun #meninggal #karena #demensia #penyakit #yang #selama #dianggap #menyerang #lansia

KOMENTAR