Musim Hujan Bikin Superflu Mudah Menyebar, Pakar Ungkap Peran Ruang Tertutup
Ilustrasi flu. Musim hujan dan kebiasaan beraktivitas di ruang tertutup membuat penularan superflu lebih mudah terjadi, sehingga pakar mengingatkan pentingnya ventilasi dan perilaku sehat sehari-hari.(Freepik)
14:06
11 Januari 2026

Musim Hujan Bikin Superflu Mudah Menyebar, Pakar Ungkap Peran Ruang Tertutup

Meningkatnya kasus influenza A subclade K atau yang populer disebut “super flu” tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan, terutama musim hujan dan kebiasaan masyarakat yang lebih sering beraktivitas di ruang tertutup.

Para ahli menegaskan bahwa kondisi ini membuat virus flu lebih mudah menyebar, meskipun varian tersebut tidak terbukti lebih ganas dibandingkan influenza musiman yang selama ini beredar.

Mengapa flu mudah menyebar saat musim hujan

Dosen Mikrobiologi FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), menjelaskan bahwa influenza pada dasarnya adalah virus saluran pernapasan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

“Pada musim hujan, orang cenderung lebih banyak berada di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas, sehingga peluang penularan virus meningkat,” kata Tri, seperti dikuitp dari laman Universitas Gadjah Mada, Jumat (9/1/2026).

Selain itu, kelembapan udara yang tinggi dan sirkulasi udara yang kurang optimal dapat memperpanjang keberadaan droplet pernapasan di udara, terutama di ruang tertutup yang padat.

Ruang tertutup jadi faktor kunci penularan

Dokter spesialis anak konsultan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menambahkan bahwa istilah “super flu” muncul salah satunya karena kecepatan penularannya di lingkungan tertentu.

Penularan influenza sangat dipengaruhi oleh jarak dekat dan kontak intens, misalnya di rumah, sekolah, kantor, atau transportasi umum yang tertutup,” ujar Nastiti, seperti dikutip dari Antara, Minggu (4/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya, terutama bila berada di ruang dengan ventilasi buruk.

Kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele

Menurut Tri, banyak kebiasaan harian yang tanpa disadari meningkatkan risiko penularan flu, seperti jarang membuka jendela, enggan menggunakan masker saat pilek, atau tetap beraktivitas meski sedang sakit.

“Virus influenza tidak mengenal batas ruang. Ketika seseorang batuk atau bersin di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, virus dapat bertahan lebih lama di udara,” jelasnya.

Kondisi ini menjadi lebih berisiko bagi kelompok rentan, seperti lansia, anak balita, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.

Ventilasi jadi kunci pencegahan di rumah dan kantor

Baik Tri maupun Nastiti menekankan bahwa ventilasi yang baik merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menekan penularan super flu.

Membuka jendela secara berkala, memastikan aliran udara silang, dan mengurangi kepadatan orang di satu ruangan dapat membantu menurunkan konsentrasi virus di udara.

“Ventilasi yang cukup membantu mengencerkan partikel virus, sehingga risiko penularan menjadi lebih rendah,” kata Tri.

Perilaku sehat tetap jadi benteng utama

Selain ventilasi, para ahli mengingatkan pentingnya etika batuk, penggunaan masker saat mengalami gejala flu, serta kebiasaan mencuci tangan secara rutin.

Nastiti juga menegaskan bahwa vaksinasi influenza tahunan tetap relevan, terutama bagi kelompok berisiko, meskipun virus terus bermutasi.

“Vaksinasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membantu mengurangi beban penularan di masyarakat,” ujarnya.

Para pakar sepakat bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi istilah super flu, namun juga tidak boleh menganggap remeh influenza, terutama di musim hujan.

Dengan memperbaiki kebiasaan di ruang tertutup, menjaga ventilasi, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.

Tag:  #musim #hujan #bikin #superflu #mudah #menyebar #pakar #ungkap #peran #ruang #tertutup

KOMENTAR