Viral Anak 7 Tahun Alami Pubertas Dini, Dokter Jelaskan Tanda dan Penyebabnya
Ilustrasi anak dan orangtua. Kasus pubertas dini pada anak usia 7 tahun yang viral di media sosial mengingatkan orangtua untuk mengenali tanda awal, dampak jangka panjang, dan pentingnya pemeriksaan medis sejak dini.(freepik.com)
18:48
6 Januari 2026

Viral Anak 7 Tahun Alami Pubertas Dini, Dokter Jelaskan Tanda dan Penyebabnya

Kasus seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang mengalami pubertas dini viral di media sosial setelah orangtuanya membagikan perubahan fisik yang dialami sang anak, mulai dari tumbuhnya payudara hingga bau badan yang berbeda dari anak seusianya.

Fenomena tersebut kembali membuka diskusi publik mengenai pubertas dini atau pubertas prekoks, kondisi ketika tanda-tanda pubertas muncul lebih cepat dari rentang usia normal pada anak.

Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi dari FK Unpad, Dr. Faisal, SpA, SubSp. Endo (K), M.Kes, menjelaskan bahwa secara medis pubertas disebut dini bila tanda awal pubertas muncul sebelum usia tertentu.

“Pada anak perempuan, pubertas dikatakan dini jika payudara mulai tumbuh sebelum usia 8 tahun, sedangkan pada anak laki-laki jika pembesaran testis terjadi sebelum usia 9 tahun,” ujar Faisal saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (6/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi ini tidak bisa disamakan dengan sekadar pertumbuhan cepat, karena berkaitan langsung dengan aktivasi hormon pubertas di dalam tubuh.

Tanda-tanda pubertas dini yang paling sering terlihat

Menurut Faisal, tanda pubertas dini paling mudah dikenali pada anak perempuan melalui pertumbuhan payudara yang disertai lonjakan tinggi badan dalam waktu relatif singkat.

Sementara pada anak laki-laki, tanda utama berupa pembesaran testis yang biasanya hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan dokter menggunakan alat khusus bernama orchidometer.

“Selain itu, orangtua juga sering mengeluhkan perubahan bau badan, muncul jerawat, atau perubahan emosi, lalu berkata, ‘Kok anak saya seperti bukan anak-anak lagi?’,” kata Faisal, yang juga aktif sebagai health educator.

Penyebab pubertas dini tidak selalu berbahaya

Ilustrasi remaja. Kasus pubertas dini pada anak usia 7 tahun yang viral di media sosial mengingatkan orangtua untuk mengenali tanda awal, dampak jangka panjang, dan pentingnya pemeriksaan medis sejak dini.SHUTTERSTOCK Ilustrasi remaja. Kasus pubertas dini pada anak usia 7 tahun yang viral di media sosial mengingatkan orangtua untuk mengenali tanda awal, dampak jangka panjang, dan pentingnya pemeriksaan medis sejak dini.

Faisal menekankan bahwa meskipun pubertas dini berkaitan dengan hormon, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh penyakit serius.

“Pada anak perempuan, sebagian besar kasus bersifat idiopatik, artinya tidak ditemukan penyebab berbahaya,” jelasnya.

Sebaliknya, pada anak laki-laki, pubertas dini lebih sering berkaitan dengan kondisi medis tertentu sehingga memerlukan evaluasi yang lebih teliti.

Beberapa faktor yang dapat berperan, yakni:

  • Aktivasi dini hormon pubertas dari otak
  • Obesitas
  • Paparan hormon dari luar
  • Faktor genetik,
  • Gangguan tertentu pada jalur hormonal di otak

Dampak pubertas terlalu cepat pada anak

Dampak pubertas dini tidak hanya menyangkut perubahan fisik, tetapi juga aspek psikologis anak.

Secara fisik, anak dengan pubertas dini kerap tampak lebih tinggi dibanding teman sebayanya, namun justru berisiko memiliki tinggi badan akhir yang lebih pendek.

“Lempeng pertumbuhan bisa menutup lebih cepat sehingga waktu tumbuh anak menjadi lebih singkat,” ujar Faisal.

Dari sisi psikologis, anak sering kali belum siap menghadapi perubahan tubuhnya sendiri.

“Bisa muncul rasa minder, cemas, bingung, bahkan masalah kepercayaan diri dan interaksi sosial,” tambahnya.

Tahapan pemeriksaan pubertas dini

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan dilakukan secara bertahap dan tidak sembarangan.

Langkah awal dimulai dari pemeriksaan fisik dan riwayat pertumbuhan, dilanjutkan dengan foto rontgen usia tulang.

Pemeriksaan hormon melalui tes darah dan USG, terutama pada anak perempuan, juga kerap dilakukan.

“Pada kondisi tertentu, terutama pada anak laki-laki, MRI otak bisa diperlukan, tetapi prinsipnya rasional, bertahap, dan sesuai indikasi,” jelas Faisal.

Apakah pubertas dini harus selalu diobati?

Tidak semua kasus pubertas dini langsung memerlukan terapi.

Terapi biasanya dipertimbangkan jika usia anak sangat muda, usia tulang sudah jauh lebih maju, ada risiko tinggi tinggi badan akhir menjadi pendek, atau anak mengalami gangguan psikologis.

“Tujuan terapi bukan menghentikan pubertas selamanya, tetapi memperlambat atau menghentikan sementara proses pubertas agar anak punya waktu tumbuh yang cukup,” kata Faisal.

Terapi umumnya berupa injeksi hormon tertentu yang diberikan dan dipantau oleh dokter anak konsultan endokrinologi.

Faisal menegaskan bahwa terapi pubertas dini telah digunakan selama puluhan tahun dan aman bila diberikan dengan indikasi yang tepat.

“Terapi ini tidak mengganggu kesuburan anak di masa depan, dan efek sampingnya umumnya ringan serta sementara, seperti nyeri di tempat suntikan atau sakit kepala ringan di awal terapi,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa terapi harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dan bukan berdasarkan tren atau kekhawatiran berlebihan.

Untuk pencegahan, orangtua disarankan menjaga berat badan anak tetap sehat, membatasi makanan ultra-proses, memastikan anak tidur cukup, aktif bergerak, serta berhati-hati terhadap penggunaan produk yang mengandung hormon.

“Yang paling penting, jangan mendiagnosis sendiri. Jangan panik, tapi juga jangan abai. Kalau ragu, periksakan lebih awal ke dokter karena pada pubertas, waktu itu sangat menentukan,” pungkas Faisal.

Tag:  #viral #anak #tahun #alami #pubertas #dini #dokter #jelaskan #tanda #penyebabnya

KOMENTAR