Penyakit Jantung Bawaan Baru Terdeteksi saat Dewasa, Ini Penyebabnya
– Penyakit jantung bawaan (PJB) identik dengan bayi dan anak-anak. Namun, di Indonesia, tidak sedikit kasus yang justru baru terdiagnosis saat pasien sudah berusia 30 hingga 40 tahun.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA, menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti penyakitnya baru muncul saat dewasa.
“Bukan berarti dia telat. Timbulnya memang dari lahir,” ujarnya dalam rangkaian skrining PJB di SDN 03 Makasar, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, istilah “bawaan” berarti kelainan tersebut sudah ada sejak bayi lahir, hanya saja deteksinya bisa terlambat.
Baca juga: 6 Faktor Risiko Penyakit Jantung Bawaan, Waspadai Sejak Kehamilan
Gejalanya Bisa Samar
Salah satu penyebab keterlambatan diagnosis adalah gejala yang tidak khas, terutama pada jenis PJB yang tidak menyebabkan kebiruan.
Kondisi ini kerap menimbulkan keluhan ringan yang sering disalahartikan sebagai gangguan pernapasan biasa.
“Kadang-kadang gejalanya cuma sering batuk panas atau infeksi paru. Kita pikir cuma infeksi biasa,” jelas dr. Oktavia.
Menurutnya, salah satu jenis PJB dengan gejala samar tersebut adalah atrial septal defect (ASD), yaitu lubang pada sekat antara dua serambi jantung (atrium kanan dan kiri).
Baca juga: Persalinan Terencana Tingkatkan Keselamatan Bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan
Jika pada VSD lubang berada di bilik jantung, maka pada ASD lubang berada di bagian atas jantung.
Karena keluhannya ringan, banyak pasien tidak menyadari adanya kelainan jantung sejak dini.
Pada sebagian kasus ASD, gejala baru muncul saat memasuki usia dewasa, ketika tekanan di paru-paru mulai meningkat.
“Baru kelihatan bergejala di usia 30–40 tahun. Mulai cepat capek, bahkan bisa biru,” katanya.
Baca juga: Upaya Menurunkan Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan
Faktor Akses dan Pembiayaan
Selain gejala yang samar, faktor akses pelayanan kesehatan juga berperan besar.
Dr. Oktavia menjelaskan bahwa beberapa tahun ke belakang, tidak semua pasien memiliki akses terhadap operasi jantung bawaan karena keterbatasan pembiayaan.
“Dulu tidak ada asuransi yang mau cover penyakit jantung bawaan,” ujarnya.
Akibatnya, hanya pasien dengan akses tertentu, misalnya melalui institusi atau bantuan sosial yang bisa mendapatkan pelayanan sejak dini.
Baca juga: Aktivitas yang Aman untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan
Sebagian orangtua bahkan memilih membawa pulang anaknya tanpa tindakan karena alasan biaya.
Kini, dengan adanya sistem jaminan kesehatan nasional seperti BPJS, lebih banyak pasien memiliki kesempatan untuk mendapatkan perawatan.
Namun, sebagian dari mereka datang kembali dalam kondisi sudah dewasa dan disertai komplikasi.
“Mereka datang lagi, tapi sudah dalam kondisi dewasa. Dengan penyulit atau komplikasi yang mungkin lebih banyak,” jelasnya.
Baca juga: Penyakit Jantung Bawaan Sering Tak Terdeteksi, PERKI Gelar Skrining Nasional
Tantangan Khas di Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama GE HealthCare menggelar skrining Penyakit Jantung Bawaan di SDN Makasar 03, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2026). Ini merupakan kegiatan berseri di 27 kota di Indonesia pada 23 Januari hingga 14 Februari 2026 yang menyasar siswa Sekolah Dasar.
Menurut dr. Oktavia, situasi ini jarang ditemukan di negara maju. Di banyak negara dengan sistem deteksi dini yang baik, kelainan jantung bawaan biasanya sudah diperbaiki sejak masa bayi atau anak-anak.
“Begitu mereka dapat jantung bawaan, sudah langsung dilakukan reparasi sejak dini,” katanya.
Maka dari itu, Indonesia memiliki populasi pasien PJB dewasa yang relatif lebih banyak dibandingkan negara dengan sistem skrining dan intervensi dini yang mapan.
Baca juga: 4 Penyebab Penyakit Jantung Bawaan, Bukan Hanya Faktor Genetik
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri, karena penanganan PJB pada usia dewasa sering kali lebih kompleks akibat komplikasi yang sudah berkembang.
Selain itu, keterbatasan jumlah dokter spesialis jantung anak serta fasilitas layanan jantung anak di Indonesia juga turut memengaruhi keterlambatan diagnosis dan penanganan.
Kondisi ini membuat akses terhadap pemeriksaan dan intervensi dini belum merata di berbagai daerah.
Tag: #penyakit #jantung #bawaan #baru #terdeteksi #saat #dewasa #penyebabnya