Tompi Kritik Materi Pandji soal Mata Gibran, Sebut Itu Kondisi Medis Bernama Ptosis
Musisi Tompi saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2023). Tompi mengkritik materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung mata Gibran, dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut secara medis dikenal sebagai ptosis dan bukan bahan lelucon.(KOMPAS.com/VINCENTIUS MARIO)
14:36
5 Januari 2026

Tompi Kritik Materi Pandji soal Mata Gibran, Sebut Itu Kondisi Medis Bernama Ptosis

Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik Tompi mengkritik materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, karena dinilai menertawakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis.

Kritik tersebut disampaikan Tompi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, setelah Pandji melontarkan guyonan tentang mata Gibran yang terlihat sayu dan dianggap seperti orang mengantuk dalam materi komedinya yang tayang di Netflix.

Tompi: Ptosis bukan bahan lelucon

Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” bukan persoalan estetika atau ekspresi, melainkan kondisi medis yang memiliki penjelasan ilmiah.

“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, seperti dikutip Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kritik, satir, dan humor sah dalam demokrasi, tetapi menyerang kondisi fisik yang tidak bisa dipilih oleh seseorang menunjukkan kemalasan berpikir.

“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjut Tompi.

Apa itu ptosis dalam dunia medis?

Wapres Gibran Rakabuming di Sesi ke-3 KTT G20 di Afrika Selatan. (Dok Setwapres) Tompi mengkritik materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung mata Gibran, dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut secara medis dikenal sebagai ptosis dan bukan bahan lelucon.Setwapres Wapres Gibran Rakabuming di Sesi ke-3 KTT G20 di Afrika Selatan. (Dok Setwapres) Tompi mengkritik materi komedi Pandji Pragiwaksono yang menyinggung mata Gibran, dengan menegaskan bahwa kondisi tersebut secara medis dikenal sebagai ptosis dan bukan bahan lelucon.

Dikutip dari laman Health, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas terkulai, baik sebagian maupun hampir menutupi pupil, akibat gangguan pada otot pengangkat kelopak mata yang disebut otot levator.

Ptosis dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa dan tidak selalu berkaitan dengan rasa lelah atau mengantuk.

Dokter spesialis bedah plastik okulo-fasial sekaligus juru bicara American Academy of Ophthalmology, dr. Philip Rizzuto, menjelaskan bahwa ptosis pada anak bisa mengganggu perkembangan penglihatan jika tidak ditangani.

“Seorang anak tidak akan mengembangkan penglihatan normal jika kelopak matanya menghalangi mata, karena rangsangan cahaya dan warna sangat penting bagi perkembangan saraf mata dan otak,” ujar Rizzuto.

Sementara pada orang dewasa, ptosis sering terjadi akibat proses penuaan, cedera mata, kerusakan saraf, penyakit autoimun seperti myasthenia gravis, hingga efek samping operasi mata.

Dampak ptosis tidak sekadar penampilan

Secara medis, ptosis tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, mata cepat lelah, penglihatan ganda, hingga nyeri di dahi akibat kompensasi otot wajah.

Dalam beberapa kasus, penderita ptosis bahkan harus mendongakkan kepala atau mengangkat alis untuk bisa melihat lebih jelas.

Penanganan ptosis bergantung pada penyebab

Disatikan dari Cleveland Clinic dan American Academy of Ophthalmology, ptosis dapat ditangani dengan berbagai metode tergantung penyebab dan tingkat keparahannya.

Jika ptosis disebabkan oleh penyakit tertentu, pengobatan kondisi dasar dapat memperbaiki keluhan, sementara kasus lain memerlukan operasi sederhana untuk memperkuat atau menyambung kembali otot kelopak mata.

Selain operasi, tersedia pula obat tetes mata khusus hingga alat bantu seperti kacamata penyangga kelopak mata untuk kasus tertentu.

Tompi mengajak publik untuk menaikkan standar diskusi dengan mengkritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan publik figur, bukan kondisi fisik yang berada di luar kendali seseorang.

“Martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” tegas Tompi.

Meski memberikan kritik tajam, Tompi tetap mengapresiasi pertunjukan Mens Rea secara keseluruhan dan menyebut banyak materi Pandji yang relevan dan tepat sasaran.

Pandji Pragiwaksono sendiri merespons kritik tersebut dengan terbuka dan menyampaikan terima kasih atas koreksi yang diberikan.

Tag:  #tompi #kritik #materi #pandji #soal #mata #gibran #sebut #kondisi #medis #bernama #ptosis

KOMENTAR