Literasi Konsumen terhadap Produk Herbal Masih Rendah, Ini Tantangan Industri Lokal
Ilustrasi herbal. Tidak semua gula darah tinggi harus langsung ditangani dengan obat, karena dalam kondisi tertentu beberapa bahan herbal dapat membantu menurunkannya secara bertahap bila dikonsumsi dengan cara dan jumlah yang tepat.(Shutterstock/Africa Studio)
20:48
25 Februari 2026

Literasi Konsumen terhadap Produk Herbal Masih Rendah, Ini Tantangan Industri Lokal

Minat masyarakat Indonesia terhadap produk herbal terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pergeseran gaya hidup menuju pendekatan yang lebih alami, meningkatnya kesadaran akan kesehatan preventif, serta keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah menjadi faktor pendorong berkembangnya pasar herbal domestik.

Pertumbuhan ini tercermin dari semakin luasnya penggunaan produk berbasis bahan alami sebagai bagian dari perawatan sehari-hari.

Baca juga: Indonesia Pacu Industri Obat Herbal, BPOM Gandeng WHO Perkuat Regulasi

ilustrasi jamu. Ramuan itu dikenal dengan nama jamu, sebuah warisan pengetahuan tradisional yang telah menjadi bagian dari peradaban Nusantara sejak berabad-abad lalu.freepik ilustrasi jamu. Ramuan itu dikenal dengan nama jamu, sebuah warisan pengetahuan tradisional yang telah menjadi bagian dari peradaban Nusantara sejak berabad-abad lalu.

Namun, di balik tren tersebut, industri herbal lokal masih menghadapi persoalan mendasar: rendahnya literasi konsumen.

Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk memanfaatkan produk kesehatan non-medis sebagai bagian dari rutinitas perawatan.

Meski demikian, data tersebut juga mencerminkan adanya kesenjangan pemahaman konsumen terkait klasifikasi produk kesehatan, fungsi, serta batasan penggunaan produk herbal.

Kondisi ini menempatkan industri herbal pada posisi yang unik.

Baca juga: Kementan Gelar Jalan Sehat dan Minum Herbal dengan Peserta Terbanyak, Pecahkan Rekor Dunia

Di satu sisi, permintaan pasar terus tumbuh. Di sisi lain, ekspektasi konsumen kerap tidak sejalan dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan berkelanjutan, bukan solusi instan.

“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” ujar pemegang jenama Kutus Kutus Fazli Hasniel dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).

Fazli menjelaskan, rendahnya literasi konsumen membuat pasar herbal berkembang secara tidak merata.

Ilustrasi jamu. Jamu menjadi salah satu warisan budaya Indonesia.DOK. SHUTTERSTOCK/Fadhal_firmansyh Ilustrasi jamu. Jamu menjadi salah satu warisan budaya Indonesia.

Produk dengan klaim berlebihan sering kali lebih cepat menarik perhatian, sementara pelaku usaha yang menekankan edukasi justru menghadapi tantangan komunikasi.

Baca juga: Potensi Besar, Kemendag Bakal Genjot Ekspor Tanaman Herbal Kratom

Akibatnya, persaingan di pasar tidak selalu ditentukan oleh kualitas dan konsistensi, melainkan oleh persepsi jangka pendek.

Situasi ini diperparah dengan maraknya produk herbal tanpa informasi memadai di pasaran. Bagi konsumen awam, membedakan produk yang aman, terdaftar, dan digunakan secara tepat menjadi tantangan tersendiri.

Risiko salah penggunaan pun meningkat.

Dia menilai, rendahnya literasi ini berpotensi merugikan dua pihak sekaligus. Konsumen berisiko mengalami kekecewaan atau kesalahpahaman, sementara industri lokal yang berupaya menjaga standar harus bekerja ekstra untuk membangun kepercayaan publik.

Baca juga: Perusahaan Arab Saudi Minati Produk Jamu Herbal Indonesia

“Industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa itu, pasar akan terus didominasi oleh narasi instan yang tidak berkelanjutan,” katanya.

Tantangan strategis jangka panjang

Bagi pelaku industri herbal lokal, persoalan literasi konsumen bukan sekadar isu komunikasi, melainkan tantangan strategis jangka panjang.

Edukasi membutuhkan waktu dan konsistensi, serta sering kali tidak memberikan dampak penjualan instan. Namun, tanpa edukasi, pertumbuhan industri dinilai berisiko rapuh.

Literasi konsumen disebut sebagai fondasi utama keberlangsungan industri.

Baca juga: Kemendag Gencarkan Promosi Produk Herbal RI ke Berbagai Negara di Dunia

Keberhasilan produk herbal tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi juga oleh pemahaman konsumen terhadap cara dan tujuan penggunaannya.

Ilustrasi jamu. Kemenkes tegaskan komitmen integrasi jamu dan obat bahan alam ke dalam sistem kesehatan nasional sebagai wujud kearifan lokal dan solusi kesehatan modern.SHUTTERSTOCK W1SNU.COM Ilustrasi jamu. Kemenkes tegaskan komitmen integrasi jamu dan obat bahan alam ke dalam sistem kesehatan nasional sebagai wujud kearifan lokal dan solusi kesehatan modern.

“Produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Jika ekspektasi ini sejak awal keliru, maka hubungan antara produk dan konsumen tidak akan sehat,” ujar Fazli.

Dalam praktiknya, edukasi yang konsisten kerap menuntut pelaku usaha untuk menahan diri dari klaim berlebihan demi menjaga transparansi informasi.

Di tengah persaingan pasar yang semakin padat, pendekatan ini tidak selalu mudah dijalankan.

Baca juga: Bisnis Minuman Herbal Makin Hangat di Musim Hujan

Di sisi regulasi, penguatan pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi faktor penting untuk melindungi konsumen sekaligus mendorong persaingan usaha yang sehat.

Tanpa pengawasan yang memadai, produk dengan klaim berlebihan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap seluruh industri herbal.

Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan media dinilai perlu diperkuat agar pasar herbal domestik tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas.

Tag:  #literasi #konsumen #terhadap #produk #herbal #masih #rendah #tantangan #industri #lokal

KOMENTAR