Pajak Januari 2026 Tumbuh 30,7 Persen, Industri dan Perdagangan Jadi Penopang
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam Konpers APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta pada Senin (23/2/2026)(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
14:08
23 Februari 2026

Pajak Januari 2026 Tumbuh 30,7 Persen, Industri dan Perdagangan Jadi Penopang

- Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan penerimaan pajak Januari 2026 tumbuh kuat. Secara neto, penerimaan pajak naik 30,7 persen dibanding Januari 2025.

Januari tahun lalu, penerimaan pajak tercatat Rp 88,9 triliun. Januari tahun ini, realisasi penerimaan pajak neto mencapai Rp 116,2 triliun.

“Jadi kalau kita lihat penerimaan pajak, penerimaan pajak kita di bulan Januari itu tumbuh dengan sangat solid. Netonya 30,7 persen pertumbuhannya,” ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Defisit APBN Rp 54,6 T di Januari 2026, Purbaya: Masih Terkendali

Secara bruto, penerimaan pajak tumbuh 7 persen. Angka itu dinilai sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nominal. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 tercatat 5,39 persen, sementara inflasi berada di level 3 persen.

Suahasil menyebut restitusi pajak dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Direktorat Jenderal Pajak menjaga tata kelola agar penerimaan tetap stabil. Manajemen restitusi tetap menjadi perhatian pemerintah.

Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah atau PPN dan PPN-BM secara bruto mencapai Rp 82,6 triliun. Realisasi ini tumbuh 7,7 persen dibanding tahun lalu.

Ia menjelaskan PPN dibayarkan saat terjadi transaksi ekonomi. Pertumbuhan PPN mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan.

“Jadi ini tanda saja bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus,” ujarnya.

Baca juga: Purbaya soal Penerima LPDP Hina RI: Saya Akan Blacklist Dia di Seluruh Pemerintahan...

Pajak Penghasilan atau PPh secara keseluruhan masih negatif. PPh badan secara neto tercatat positif. Pemerintah memantau perkembangan tersebut.

Industri pengolahan menyumbang 29,4 persen dari total penerimaan pajak. Sektor ini tumbuh 18 persen.

Perdagangan berkontribusi 25,5 persen. Pertumbuhan netonya enam kali lipat dibanding Januari tahun lalu.

Pertambangan tumbuh 10,6 persen. Secara neto, kenaikannya 10,9 persen.

“Tiga sektor ini sekitar 66 persen dari penerimaan pajak kita dan semua tumbuh dengan cukup kuat,” ujarnya.

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN hingga 31 Januari 2026 mencatat defisit Rp 54,6 triliun. Angka ini setara 0,21 persen dari produk domestik bruto atau PDB.

Bulan sebelumnya, defisit APBN tercatat Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB.

Pendapatan negara hingga Januari 2026 mencapai Rp 172,7 triliun. Realisasi ini setara 5,5 persen dari outlook pendapatan negara tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun.

“Dengan dinamika yang saya sebutkan tadi posisi defisit APBN tercatat Rp 54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB, angka ini masih sangat terkendali,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Tag:  #pajak #januari #2026 #tumbuh #persen #industri #perdagangan #jadi #penopang

KOMENTAR