Purbaya soal Utang Kereta Cepat Whoosh: Belum Ada Petunjuk Khusus dari Presiden
Menteri Keuangan Purbaya kepada awak media di Kompleks Parlemen pada Rabu (18/2/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
11:40
19 Februari 2026

Purbaya soal Utang Kereta Cepat Whoosh: Belum Ada Petunjuk Khusus dari Presiden

- Skema membiayaan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh nampak masih belum menemukan titik terang.

Menteri Keuangan (menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku, dirinya masih menunggu petunjuk dari Presiden Prabowo Subianto terkait skema pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, yang kabarnya akan 100 persen menggunakan dana APBN.

Namun sayangnya hingga kini Menkeu Purbaya belum bisa memastikan soal skema pembayaran utang proyek Whoosh tersebut. Lantaran belum ada arahan yang jelas dari Presiden Prabowo.

"Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Adanya dari Rosan (CEO Danantara), dari itu kan belum clear," kata Purbaya di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Menkeu Purbaya Belum Pastikan APBN untuk Utang Kereta Cepat

Ia menyebut apabila sudah ada petunjuk dan arahan khusus dari Presiden Prabowo terkait hal itu, baru hal tersebut akan dilaksanakannya.

Sampai saat ini, solusi terkait pembayaran utang proyek Whoosh itu diakuinya memang baru muncul dari Rosan Roeslani selaku CEO Danantara.

"Kalau ada petunjuk Presiden, saya kerjain. Nah, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm," ujarnya.

Ditemui terpisah Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, bahwa penggunaan APBN sudah diputuskan Presiden Prabowo Subianto

"Ya kita tunggu saja, kan sudah diputuskan presiden," ujar Dony kepada awak media di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Namun berapa presentase penggunaan APBN untuk utang tersebut Dony hanya mengatakan menunggu kepastian dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

"Ya enggak apa-apa, kita tunggu dari Pak Purbaya," kata Dony.

Bunga utang Kereta Cepat Jakarta Bandung.Dokumentasi KCIC Bunga utang Kereta Cepat Jakarta Bandung.Berdasarkan catatan Kompas.com, proyek Kereta Cepat Whoosh menimbulkan beban utang yang cukup besar.

Total utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai sekitar 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 120,38 triliun (kurs Rp 16.500 per dollar AS).

Dari total itu, 75 persen dibiayai melalui pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga dua persen per tahun dan tenor 40 tahun.

Seiring berjalannya waktu, biaya proyek membengkak akibat cost overrun hingga 1,2 miliar dollar AS. Tambahan utang tersebut dikenakan bunga di atas tiga persen per tahun.

Pinjaman tambahan sebesar 542,7 juta dollar AS digunakan untuk menutup pembengkakan biaya yang menjadi tanggungan konsorsium Indonesia sebesar 75 persen.

Sisanya dipenuhi melalui penyertaan modal negara (PMN) dari APBN.

Di sisi lain, bisnis Kereta Cepat Whoosh masih mencatatkan kerugian sejak beroperasi pada 17 Oktober 2023. KAI bersama dengan tiga BUMN lainnya harus menanggung renteng kerugian dari Whoosh sesuai porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI).

Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited) yang dipublikasikan di situs resminya, entitas anak KAI, PT PSBI, tercatat merugi hingga Rp 4,195 triliun sepanjang 2024.

Artinya, dalam sehari saja bila menghitung dalam setahun ada 365 hari, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung rugi dari beban KCIC sebesar Rp 11,493 miliar per hari.

Baca juga: IMF Sarankan Pajak Penghasilan Karyawan Dinaikkan, Purbaya: Anda Mau?

Tag:  #purbaya #soal #utang #kereta #cepat #whoosh #belum #petunjuk #khusus #dari #presiden

KOMENTAR