Ekonom Perkirakan BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan, Ini Pertimbangannya
Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate. (FREEPIK/FREEPIK)
11:16
19 Februari 2026

Ekonom Perkirakan BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan, Ini Pertimbangannya

- Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Februari 2026.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, BI rate akan kembali dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah risiko pasar keuangan global yang meningkat.

"BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga BI sebesar 4,75 persen pada RDG bulan Februari 2026," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terbang ke Level Baru

Menurutnya, tekanan pasar muncul setelah peringatan dari dua lembaga internasional, yaitu Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait free float dan Moody's Ratings yang merevisi prospek utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat.

Oleh karenanya, Josua menilai BI akan lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan sentimen investor ketimbang pelonggaran moneter jangka pendek. "Sehingga ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik," ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky. Menurut dia, BI akan menahan suku bunga acuannya di level 4,75 persen.

Hal ini mempertimbangkan lonjakan inflasi pada awal tahun yang turut mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Pada Januari 2026, inflasi umum tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan. Ini menjadi inflasi tertinggi sejak Mei 2023.

Utamanya didorong oleh low-base effect akibat pemberian diskon 50 persen pada tagihan listrik bagi kelompok rumah tangga tertentu di bulan Januari dan Februari 2025.

Tekanan inflasi diestimasi akan terus berlanjut dalam jangka pendek menyusul datangnya periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Dari sisi eksternal, Riefky menilai tekanan semakin kuat pasca pengumuman dari MSCI dan revisi prospek oleh Moody’s yang memicu arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi domestik.

Sentimen tersebut dinilai memperbesar risiko volatilitas pasar keuangan.

Selain itu, isu terkait independensi BI terkait penunjukkan keponakan Presiden Prabowo Subianto yakni Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur BI juga dinilai memengaruhi persepsi investor.

Karena itu, bank sentral perlu memastikan kredibilitas dan independensinya tetap terjaga guna mempertahankan kepercayaan pasar.

"Melihat kondisi saat ini, BI sebaiknya mempertimbangkan menahan suku bunga acuannya di 4,75 persen pada rapat dewan gubernur mendatang sebagai langkah yang tepat," jelas Riefky kepada Kompas.com, Kamis.

"Mengingat pemotongan suku bunga berpotensi memperparah arus modal keluar dan kenaikan suku bunga acuan akan berdampak negatif terhadap permintaan, sedangkan berbagai daerah di Indonesia masih dalam tahap pemulihan pasca bencana," lanjutnya.

Baca juga: BI Nilai Masih Ada Ruang Turunkan Suku Bunga Acuan

Tag:  #ekonom #perkirakan #bakal #pertahankan #suku #bunga #acuan #pertimbangannya

KOMENTAR