Menikmati Keindahan Perkebunan Teh Pangalengan yang Tak Pernah Kehilangan Pesona
Keindahan suasana jalan di sekitar Perkebunan Teh Malabar Pangalengan yang selalu Mempesona (dokumen pribadi)(Kompasiana)
12:28
19 Februari 2026

Menikmati Keindahan Perkebunan Teh Pangalengan yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

Jalan-jalan menikmati keindahan alam bisa menjadi aktivitas yang membahagiakan. Tidak perlu biaya mahal, cukup meluangkan sedikit waktu, mengenakan pakaian ternyaman, jangan lupa jaket agar tidak masuk angin, dan pastikan tangki bensin kendaraan terisi penuh.

Itulah yang saya lakukan pada hari Minggu kemarin. Libur kerja menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan semangat yang mulai mengendur.

Memanjakan mata sekaligus menjalin kembali kehangatan hubungan keluarga yang selama lima atau enam hari hanya diisi rutinitas pergi bekerja lalu pulang dengan tubuh lelah.

Maka rasanya, tidak ada salahnya pergi sejenak menikmati keindahan alam. Kali ini, kami memilih berkeliling di pinggiran Kabupaten Bandung.

Hamparan Perkebunan teh Malabar yang disisipi bunga Pacar Air menambah keindahan (dokumen pribadi)Kompasiana Hamparan Perkebunan teh Malabar yang disisipi bunga Pacar Air menambah keindahan (dokumen pribadi)

Berangkat dari rumah pukul sembilan pagi, saya dan suami memang berniat hanya menyusuri jalanan yang sepanjang sisinya dipenuhi pemandangan indah.

Tanpa tiket masuk, tanpa antrean panjang, keindahan itu sudah bisa dinikmati secara cuma-cuma.

Kami melewati hamparan sawah, perkebunan, sesekali pemukiman penduduk, hingga akhirnya tiba di kawasan perkebunan teh Malabar, Pangalengan. 

Bukit hijau perkebunan teh Pangalengan (dokumen pribadi)Kompasiana Bukit hijau perkebunan teh Pangalengan (dokumen pribadi)

Sepanjang perjalanan, saya tak berhenti berdecak kagum. Berulang kali melafalkan pujian dan rasa syukur karena Allah masih memberi kesehatan dan mata yang bisa melihat keindahan ciptaan-Nya.

Udara segar kaya oksigen bisa dihirup tanpa perlu membeli. Angin sepoi dan suhu yang sejuk cenderung dingin menyempurnakan rasa syukur yang saya rasakan saat itu.

Meski mendung dan hujan sempat turun, tidak mengurangi semangat dan tekad kami untuk tetap menikmati hari.

Kami pun berteduh di sebuah lokasi pengumpul teh bersama para pengendara lain sambil menikmati pemandangan yang terasa semakin syahdu saat hujan.

Tak jarang, saya juga menyampaikan terima kasih kepada suami yang selalu saja bisa dan selalu "hayu" ketika saya mengajaknya jalan-jalan.

Ia selalu tahu ke mana saya ingin pergi, apa yang ingin saya lihat, dan bagaimana cara menikmatinya tanpa harus terburu-buru.

Daun teh yang sudah dipetik dikumpulkan di pinggir jalan (dokumen pribadi)Kompasiana Daun teh yang sudah dipetik dikumpulkan di pinggir jalan (dokumen pribadi)

Hamparan kebun teh yang luas seakan tak pernah membosankan untuk diabadikan. Belum lagi, bunga Pacar Air yang berwarna ungu muda ikut menyelinap di antara pohon teh menambah keindahannya.

Beberapa pemetik teh tampak sibuk bekerja dan mengumpulkan karung berisi daun teh segar di pinggir jalan. 

Rasanya ingin setiap meter perjalanan diambil gambarnya. Namun jika terlalu sibuk berfoto, kami justru tak benar-benar menikmati. Kamera bisa mencuri kekhidmatan rasa dan mata yang memandang.

Akhirnya, setelah mengambil beberapa foto, kami memilih menyimpannya dan menikmati pemandangan itu secara langsung, meresapinya pelan-pelan.

Kami sudah beberapa kali melewati kawasan perkebunan teh Malabar. Meski begitu, keindahannya seolah tak pernah habis untuk diceritakan. Justru selalu menimbulkan rasa ingin kembali, lagi dan lagi.

Perkebunan teh Pangalengan selepas hujan (dokumen pribadi)Kompasiana Perkebunan teh Pangalengan selepas hujan (dokumen pribadi)

Dulu, saat masih tinggal di pusat kota, datang ke sini membutuhkan persiapan dan tenaga ekstra. Karena memang lokasinya lumayan jauh. Ini ada di pinggiran, perlu waktu tempuh dua jam lebih untuk sampai.

Sekarang, rumah kami lebih dekat, waktu tempuh pun tak terlalu lama. Tubuh tidak terlalu lelah karena perjalanan yang jauh.

Saat masih muda di awal pernikahan, kami harus benar-benar mengatur waktu. Mempertimbangkan cuaca, perbekalan, dan ongkos yang tidak sedikit.

Kini, asal ada jaket, helm, kamera ponsel, dan tangki bensin penuh, kami sudah bisa pergi sesuka hati.

 Pengendara lain turut mengabadikan foto di perkebunan teh Pangalengan (dokumen pribadi)Kompasiana  Pengendara lain turut mengabadikan foto di perkebunan teh Pangalengan (dokumen pribadi)

Menikmati keindahan alam memang membawa banyak manfaat. Itulah sebabnya kami begitu menyukainya.

Selain jauh lebih hemat dibanding berjalan-jalan ke mal atau wahana hiburan, aktivitas ini menghadirkan rasa tenang, menumbuhkan syukur, membantu menemukan diri sendiri, serta melepaskan penat dan jenuh setelah sepekan berada dalam hiruk-pikuk kota yang penuh kendaraan dan polusi.

Sampai kapan pun, kebun teh akan selalu menjadi pilihan untuk melepas lelah. Dan jika ingin menikmati suasana dengan konsep wisata yang lebih tertata, kami tinggal melanjutkan perjalanan menuju Taman Langit, Sunrise Point Cukul, Situ Cihaniwung, Wayang Windu, dan masih banyak lagi. Murah, terjangkau, dan memuaskan hati.

Kalau kamu, apakah menyukainya juga?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menikmati Keindahan Perkebunan Teh Malabar Pangalengan yang Tak Pernah Kehilangan Pesona"

Tag:  #menikmati #keindahan #perkebunan #pangalengan #yang #pernah #kehilangan #pesona

KOMENTAR