Cerita Petani Sawit, ''Boncos'' Panen gara-gara Tertipu Bibit ''Abal-abal''
Peserta mengikuti praktik lapangan Pelatihan Perkasa di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. (DOK. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP))
12:28
19 Februari 2026

Cerita Petani Sawit, ''Boncos'' Panen gara-gara Tertipu Bibit ''Abal-abal''

– Bejo masih mengingat betul hari ketika ia memutuskan membeli bibit sawit dengan harga jauh lebih murah dari pasaran di Desa Suak Putat, Muaro Jambi. Ia tergiur janji panen cepat dengan hasil berlipat. Namun bertahun-tahun kemudian, yang tumbuh di kebunnya bukanlah harapan, melainkan kekecewaan.

“Pertama kali beli bibit itu yang abal-abal, jadi kini hasilnya sangat mengecewakan sekali,” kata Bejo, petani sawit di Muaro Jambi, dikutip Kamis (19/2/2026).

Apa yang dialami Bejo bukanlah kasus tunggal. 

Minimnya pengetahuan teknis serta keterbatasan akses informasi membuat sebagian petani mandiri rentan tertipu bibit sawit yang ditawarkan dengan harga miring, meski kesalahan memilih bibit bisa berujung pada produksi rendah selama puluhan tahun.

Baca juga: POPSI Wanti-wanti B50: Pungutan Ekspor Naik, Petani Sawit Terancam

Tantangan serupa juga dialami Sumarni Ningsih, petani di Desa Long Tesak, Kutai Timur. 

Ia mengaku selama bertahun-tahun berkebun sawit hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa benar-benar memahami dasar agronomi, mulai dari pemilihan bibit hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.

“Saya dulu hanya ikut cara orang-orang sebelumnya. Tidak tahu apakah itu sudah benar atau belum,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat banyak petani tidak menyadari bahwa langkah dasar seperti memilih bibit dan cara pemupukan memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas tanaman. 

Bagi sebagian petani, ini bahkan baru dipahami setelah mereka mengikuti pelatihan Perkasa (Petani Berkualitas dan Sejahtera), inisiatif TAP untuk Negeri dari PT Triputra Agro Persada Tbk yang berfokus pada peningkatan kualitas agronomi.

Baca juga: Kementan Targetkan 30.000 Petani Sawit Dapat Bantuan Dana dari BPDP

Selama tiga hari pelatihan, sekitar 60 persen sesi diisi dengan praktik langsung di lapangan, mulai dari mengidentifikasi bibit bersertifikat, teknik pemupukan yang tepat, hingga metode panen yang benar.

“Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan yang benar tentang berkebun sawit saat mengikuti pelatihan Perkasa dari PT Triputra Agro Persada Tbk,” kata Sumarni.

Ia pun mulai memahami bahwa memilih bibit tidak boleh sembarangan dan pemupukan perlu dilakukan dengan dosis serta cara yang tepat agar hasil panen bisa lebih baik.

"Semoga setelah melalui pelatihan ini dengan cara berkebun yang baik dan benar, kami bisa meningkatkan pendapatan,” harap Sumarni.

Baca juga: Baru 5,3 Persen Petani Sawit Swadaya Dapat Sertifikat Berkelanjutan

Sebagai catatan, hingga akhir 2025, pelatihan Perkasa yang dimulai sejak akhir 2024 telah menjangkau petani mandiri di 69 desa pada 10 kabupaten di wilayah Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Pelatihan ini "membuka mata" petani, terutama praktik bertani yang lebih baik. 

Perubahan praktik bertani inilah yang dirasakan Subeki, petani Desa Baung, Seruyan, Kalimantan Tengah. Ia mengaku, kini lebih disiplin dalam melakukan aktivitas pruning atau pemotongan pelepah sebelum panen.

"Dulu saya pikir asal pelepah dipotong saja sudah cukup," kata Subeki.

Ia merasakan manfaat pelatihan. Ia bercerita, setelah ikut pelatihan Perkasa, justru baru tahu kalau pruning itu ada aturannya dan sangat berperan penting untuk tumbuh kembang tanaman sawit serta kemudahan saat panen nanti.

"Tim dari perusahaan juga rutin datang untuk memantau dan memberikan masukan-masukan," jelas Subeki.

Baca juga: Pentingnya Sinkronisasi Kebijakan untuk Sektor Sawit

Perlahan, para petani seperti Bejo, Sumarni hingga Subekti mulai melihat kebun bukan sekadar lahan warisan, tetapi juga ruang belajar untuk memperbaiki cara bertani agar produktivitas hasil buah dapat lebih optimal dan berdampak pada kesejahteraan keluarga.

Sebagai tambahan informasi, industri sawit Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi, menyumbang devisa ekspor sekitar 27 miliar dollar AS pada 2024 dan menyerap 16 juta tenaga kerja. 

Meskipun kontribusinya besar, sektor ini menghadapi tantangan terkait tata kelola lahan, isu lingkungan, dan fluktuasi harga global. 

Baca juga: Sawit Menuju 2026: Produksi Naik, Pasar Domestik Kian Menentukan

Tag:  #cerita #petani #sawit #boncos #panen #gara #gara #tertipu #bibit #abal #abal

KOMENTAR