Impor Sawit China Melambat, Alternatif Lebih Murah Kian Dominan
Ilustrasi minyak kelapa sawit(BPDP)
10:44
11 Februari 2026

Impor Sawit China Melambat, Alternatif Lebih Murah Kian Dominan

Permintaan minyak sawit (crude palm oil/CPO) China diperkirakan melemah pada 2026 seiring meningkatnya penggunaan minyak nabati alternatif yang lebih murah seperti minyak kedelai dan minyak canola.

Sejumlah analis pasar menyebut, perubahan struktur harga dan pasokan global membuat pembeli di Negeri Tirai Bambu memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Dikutip dari Reuters, Rabu (11/2/2026), kenaikan pasokan minyak nabati lain serta dinamika harga di bursa domestik China menjadi faktor utama yang menekan permintaan sawit impor.

Baca juga: UMKM Sawit Binaan BPDP Perkuat Daya Saing Lewat Hilirisasi

Ilustrasi minyak kelapa sawit. SHUTTERSTOCK/MERCURY STUDIO Ilustrasi minyak kelapa sawit.

Seorang analis berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, pembeli China kini tidak berada dalam posisi terdesak untuk membeli sawit.

“Saya rasa, dalam beberapa hal, pihak China tidak terlalu putus asa karena mereka memiliki banyak pilihan dibandingkan dengan India. Pihak China masih cukup memperhatikan harga di Dalian,” katanya kepada Reuters.

Pernyataan tersebut merujuk pada harga minyak nabati yang diperdagangkan di Bursa Komoditas Dalian, yang menjadi referensi penting bagi importir China dalam menentukan waktu dan volume pembelian.

Alternatif lebih murah menekan sawit

Anilkumar Bagani, Head of Research Sunvin Group yang berbasis di Mumbai menuturkan, kombinasi peningkatan impor kedelai dan aktivitas pengolahan (crushing) domestik menjadi salah satu penyebab berkurangnya kebutuhan impor sawit China.

Baca juga: Petani Minta Rencana Pajak Pohon Sawit Dikaji Ulang

“China telah mengimpor lebih banyak kedelai dan mengolahnya lebih banyak di dalam negeri, yang membatasi kebutuhan impor minyak sawit,” ujar Bagani.

Ia juga menambahkan, masuknya pasokan canola yang lebih kompetitif turut mempengaruhi struktur permintaan.

Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit menunjukkan buah kelapa sawit di Meulaboh, Aceh, 28 Maret 2019. Indonesia adalah produsen utama minyak sawit, bahan baku berbagai produk, mulai dari minyak goreng, kosmetik, hingga biodiesel. AFP via VOA INDONESIA Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit menunjukkan buah kelapa sawit di Meulaboh, Aceh, 28 Maret 2019. Indonesia adalah produsen utama minyak sawit, bahan baku berbagai produk, mulai dari minyak goreng, kosmetik, hingga biodiesel.

“Dengan tersedianya pasokan minyak canola yang lebih murah, permintaan minyak sawit kemungkinan akan tetap rendah,” katanya.

Dalam laporan yang sama, pelaku industri Malaysia menyebut bahwa pembelian sawit China saat ini cenderung terbatas pada kebutuhan inti (core demand), bukan untuk ekspansi stok.

Baca juga: Pentingnya Sinkronisasi Kebijakan untuk Sektor Sawit

“Permintaan dari China terbatas pada kebutuhan intinya,” terang seorang eksekutif perusahaan perkebunan Malaysia kepada Reuters.

Kondisi ini berbeda dengan India yang disebut analis masih relatif lebih sensitif terhadap diskon harga sawit dibanding minyak kedelai.

Data impor sawit China sepanjang 2025

Berdasarkan data resmi Administrasi Kepabeanan China (General Administration of Customs/ GACC), impor minyak sawit China sepanjang 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan tren historis sebelum pandemi.

Data perdagangan menunjukkan, impor sawit China pada 2025 berada di kisaran sekitar 5 juta ton, dengan penurunan pada beberapa bulan ketika selisih harga terhadap minyak kedelai dan minyak canola melebar.

Baca juga: BPDP Sebut Peremajaan Sawit Rakyat Kunci Percepatan Produktivitas

Sepanjang Januari hingga September 2025, volume impor tercatat turun dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan pergeseran pembelian ke minyak nabati alternatif.

Sebagai pembanding, dalam beberapa tahun sebelumnya impor sawit China konsisten berada di atas 5 juta ton per tahun.

Namun pada 2025, fluktuasi harga global serta meningkatnya impor kedelai untuk kebutuhan crushing domestik menahan laju pembelian CPO.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan China tetap menjadi salah satu tujuan utama ekspor sawit Indonesia pada paruh pertama 2025.

Baca juga: Amran Sebut Sawit Bisa Jadi Kekuatan Politik Luar Negeri Indonesia

Ilustrasi kelapa sawit, perkebunan kelapa sawit.SHUTTERSTOCK/litalalla Ilustrasi kelapa sawit, perkebunan kelapa sawit.

Menurut BPS, ekspor sawit Indonesia ke China pada semester I 2025 mencapai sekitar 1,7 juta ton, menjadikan China salah satu pasar terbesar setelah India.

Di sisi Malaysia, data dari Malaysian Palm Oil Board menunjukkan ekspor sawit Malaysia ke China mengalami penurunan signifikan pada 2025.

Dalam laporan yang dikutip Reuters, disebutkan bahwa ekspor Malaysia ke China turun sekitar 35,7 persen pada tahun sebelumnya karena daya saing harga yang melemah.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa meskipun China tetap menjadi pasar besar, volume pembelian sangat sensitif terhadap dinamika harga relatif.

Baca juga: Satgas PKH Kantongi Rp 7 T dari Denda 48 Perusahaan Sawit dan Tambang, Salim Group Paling Besar

Proyeksi impor sawit China 2026

Untuk 2026, analis memperkirakan impor sawit China akan berada pada level yang relatif stagnan atau sedikit lebih rendah dibanding 2025.

Beberapa proyeksi perdagangan global memperkirakan volume impor akan berada sedikit di bawah kisaran 5,5 juta ton.

Reuters melaporkan, sejumlah pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada lonjakan permintaan signifikan dari China selama selisih harga dengan minyak kedelai dan canola tetap lebar.

“Impor minyak sawit China kemungkinan tidak akan pulih tajam kecuali terjadi koreksi harga yang signifikan,” ujar seorang analis.

Baca juga: Wamendag: Pakistan Mitra Penting Perdagangan Sawit

Analis tersebut menekankan keputusan pembelian China sangat dipengaruhi oleh spread harga antara CPO dan soyoil di pasar domestik.

Selain faktor harga, kebijakan perdagangan dan hubungan dagang juga menjadi pertimbangan. Perjanjian perdagangan yang mempermudah akses minyak canola dari Kanada dan Australia dinilai memberikan China opsi tambahan untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati.

Produksi global dan dampaknya

Ilustrasi kelapa sawit, tandan buah segar kelapa sawit. SHUTTERSTOCK/SAMSUL SAID Ilustrasi kelapa sawit, tandan buah segar kelapa sawit.

Di sisi pasokan, Indonesia dan Malaysia tetap menjadi dua produsen utama sawit dunia. Produksi yang stabil atau meningkat di kedua negara tersebut membuat pasokan global relatif mencukupi.

Namun, ketika permintaan dari salah satu pembeli terbesar seperti China melemah, tekanan harga global dapat meningkat. Pasar kini lebih memperhatikan arah permintaan India dan negara berkembang lain untuk menyerap kelebihan pasokan.

Baca juga: Banjir Bandang di Sumatera Utara, Kajian IPB Bantah Sawit Jadi Biang Kerok

India disebut berpotensi meningkatkan impor sawit pada 2026 jika harga sawit diperdagangkan pada diskon terhadap minyak kedelai. Hal ini berbeda dengan China yang lebih mengandalkan kalkulasi spread harga domestik.

Struktur permintaan yang berubah

Perubahan pola impor China tidak hanya dipengaruhi oleh harga, tetapi juga oleh strategi industri pengolahan domestik.

Peningkatan impor kedelai memungkinkan China memproduksi lebih banyak minyak kedelai di dalam negeri, sehingga mengurangi kebutuhan impor minyak jadi seperti CPO.

Bagani menjelaskan, peningkatan kapasitas crushing domestik menjadi faktor struktural yang membedakan situasi China dengan India.

Baca juga: Temuan Purbaya: Baja dan Sawit RI Laris, tapi Pajaknya Bocor Bertahun-tahun...

“Mereka memiliki banyak kedelai yang masuk dan mereka sedang melakukan penggilingan secara agresif,” kata Bagani.

Kondisi tersebut berarti, selama pasokan kedelai tetap kuat dan margin crushing menguntungkan, impor sawit kemungkinan akan tetap berada dalam tekanan.

Posisi Indonesia dan Malaysia

Bagi Indonesia sebagai eksportir sawit terbesar dunia, dinamika permintaan China menjadi faktor penting dalam strategi ekspor. China selama ini menjadi salah satu dari tiga pasar utama selain India dan Uni Eropa.

Ilustrasi kelapa sawitAFP PHOTO / ADEK BERRY Ilustrasi kelapa sawit

Sementara itu, Malaysia mencatat penurunan ekspor ke China pada 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan harga yang kurang kompetitif dibandingkan alternatif lain.

Baca juga: Prabowo: Kita Akan Sita 4 atau 5 juta Hektar Lahan Sawit Lagi...

Dalam konteks global, setiap perubahan permintaan dari China dapat berdampak langsung terhadap harga kontrak berjangka di Bursa Malaysia Derivatives dan pasar regional lainnya.

Gambaran ke depan

Data resmi perdagangan 2025 menunjukkan bahwa impor sawit China tidak mengalami ekspansi signifikan.

Proyeksi 2026 pun mengindikasikan tren yang relatif datar atau sedikit melemah, selama faktor harga dan pasokan alternatif tetap mendukung.

Pelaku pasar belum melihat katalis kuat yang dapat mendorong lonjakan pembelian China dalam waktu dekat.

Baca juga: Sawit Menuju 2026: Produksi Naik, Pasar Domestik Kian Menentukan

Dengan meningkatnya opsi pasokan minyak nabati dan kapasitas pengolahan domestik, struktur permintaan China terhadap sawit menunjukkan perubahan yang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi musiman.

Tag:  #impor #sawit #china #melambat #alternatif #lebih #murah #kian #dominan

KOMENTAR