MSCI Rebalancing, Outlook Moody’s Negatif, Seberapa Besar Risiko ke Pasar Saham?
Indeks MSCI (MSCI)
12:12
11 Februari 2026

MSCI Rebalancing, Outlook Moody’s Negatif, Seberapa Besar Risiko ke Pasar Saham?

Arus dana asing di pasar keuangan Indonesia berada di titik krusial di tengah sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s sebagai lembaga pemeringkat kredit global.

Kedua institusi tersebut dinilai memiliki pengaruh berbeda terhadap pergerakan modal di dalam negeri.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai dampak MSCI terhadap arus dana asing bersifat lebih langsung. Hal ini karena MSCI menjadi acuan utama bagi dana pasif global dalam menentukan komposisi portofolio.

Setiap perubahan metodologi, komposisi indeks, maupun hasil tinjauan berkala berpotensi memicu arus masuk atau keluar dana dalam jangka pendek, terutama dari fund manager yang wajib menyesuaikan portofolionya.

“Dari sisi pengaruh terhadap arus dana asing, peran MSCI dan Moody’s sebenarnya berbeda. MSCI memiliki dampak paling langsung karena menjadi acuan utama dana pasif global, sehingga perubahan metodologi atau keputusan indeks bisa memicu outflow teknikal dalam jangka pendek,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (11/2/2026).

Baca juga: Rebalancing MSCI Februari 2026: INDF Turun Kelas, ACES dan CLEO Terdepak

Sebaliknya, Moody’s dinilai lebih berperan dalam membentuk persepsi risiko investor terhadap suatu negara. Perubahan outlook atau rating kredit akan memengaruhi keputusan investasi, khususnya bagi investor aktif dengan horizon jangka menengah hingga panjang.

Dampaknya terhadap pasar cenderung lebih gradual dan tidak selalu diikuti aksi jual besar-besaran, kecuali jika terjadi penurunan peringkat yang signifikan dan berdampak material terhadap profil risiko serta biaya pendanaan.

“Moody’s lebih mempengaruhi keputusan investor aktif jangka menengah dan panjang melalui perubahan persepsi risiko sebuah negara. Karena itu, reaksi pasar terhadap Moody’s biasanya bertahap dan tidak selalu diikuti aksi jual besar-besaran, kecuali disertai penurunan rating yang signifikan,” paparnya.

Senada, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, memandang sentimen dari MSCI dan Moody’s tetap berpengaruh terhadap pasar keuangan, terutama pasar modal, karena keduanya berkaitan langsung dengan persepsi dan alokasi dana investor global.

Ketika muncul sentimen negatif atau potensi arus keluar dana asing, pasar cenderung bergerak lebih volatil akibat tekanan jual dalam waktu relatif singkat.

“Tentunya ini berpengaruh karena keluarnya dana asing ini akan membuat pasar bergerak sangat volatil,” ucapnya kepada Kompas.com.

Meski demikian, Faris mengingatkan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang April 2025 hingga Januari 2026 tidak sepenuhnya ditopang arus masuk dana asing.

Kenaikan indeks pada periode tersebut lebih banyak didorong likuiditas domestik dan partisipasi investor dalam negeri. Dengan demikian, struktur pasar dinilai lebih resilien dibandingkan periode yang sangat bergantung pada foreign flow.

Terkait kekhawatiran atas defisit fiskal yang menjadi perhatian lembaga pemeringkat, Faris menilai pemerintah mulai membangun bantalan fiskal baru melalui strategi swasembada energi.

Hal itu tercermin dari peningkatan lifting minyak Indonesia yang telah berada di kisaran 600.000 barel per hari dan diarahkan menuju target 1 juta barel per hari pada 2029. Peningkatan produksi tersebut diharapkan mampu menekan impor energi dan memperbaiki fundamental eksternal.

Selain itu, optimalisasi operasional BUMN di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai dapat menciptakan efisiensi dan nilai tambah yang lebih besar.

“Dari optimalisasi operasional BUMN dibawah Danantara juga akan membantu memberikan nilai tambah sehingga bisa memenuhi anggaran program pemerintah yang dijalankan,” katanya.

Baca juga: Sentimen MSCI, Moody’s, dan Geopolitik Global Tekan IHSG, Analis Rekomendasikan PNLF, ADRO, PANI, dan XIHD

Sebagai informasi, MSCI telah mengumumkan hasil tinjauan berkala (index review) periode Maret 2026. Perubahan hasil rebalancing tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dan efektif mulai 2 Maret 2026.

Dalam tinjauan tersebut, MSCI merombak komposisi saham Indonesia. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes.

Sementara itu, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dikeluarkan dari MSCI Small Cap Indexes sehingga tidak lagi tercakup dalam indeks global tersebut.

Di sisi lain, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bernegosiasi dengan MSCI pada Rabu (11/2/2026) untuk membahas sejumlah usulan perubahan kebijakan pasar modal Indonesia. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dialog antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization yang digelar pada 2 dan 5 Februari 2025, setelah otoritas pasar modal menyampaikan proposal resmi kepada MSCI.

Baca juga: Di Tengah Negosiasi dengan MSCI, Investor Diimbau Fokus ke Fundamental

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut terdapat tiga pokok usulan yang akan didiskusikan secara mendalam.

“Seperti yang kami sampaikan tadi bahwa tanggal 5 Februari kita sudah menyampaikan proposal kepada MSCI. Yang tiga poin tadi, yaitu tadi granularisasi dari kategori investor,” ujar Jeffrey saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin (29/2/2026).

Sementara itu, Moody’s menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, namun mempertahankan peringkat kredit di level Baa2 atau masih dalam kategori investment grade. Status tersebut menjadi faktor penahan utama agar tekanan terhadap pasar keuangan, khususnya pasar saham, tidak semakin dalam.

Jeffrey menegaskan dari perspektif mikro pasar modal, fundamental perusahaan tercatat sejauh ini masih cukup kuat.

“Terkait dengan outlook, kami tentu secara mikro di pasar melihat bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita masih kuat,” ungkap Jeffrey.

BEI pun mengingatkan investor agar tidak bereaksi berlebihan dan tetap menjadikan analisis fundamental sebagai dasar utama pengambilan keputusan investasi.

“Jadi seperti yang selalu kami sampaikan kepada para investor untuk selalu secara rasional memperhatikan fundamental perusahaan dan selalu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mungkin itu respons kami,” tukasnya.

Tag:  #msci #rebalancing #outlook #moodys #negatif #seberapa #besar #risiko #pasar #saham

KOMENTAR