Simak Proyeksi Harga Emas Sepekan ke Depan
Pada pekan kedua Februari, gejolak harga emas masih akan menjadi perhatian.
Pasalnya, faktor-faktor pendorong kenaikan harga emas belum hilang.
Di sisi lain, faktor lain yang dapat melemahkan harga emas juga mulai menguat.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan dua skenario harga emas sepekan ke depan.
Ketika harga emas turun, rentang support yang pertama adalah di level 4.831 dollar AS per troy ounce.
Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Naik Rp 60.000, Kini di Level Rp 2,92 Juta Per Gram
Sedangkan harga logam mulia diperkirakan ada di level Rp 2.725.000 per gram.
Adapun, ketika harga terus turun support kedua berada di level 4.719 dollar AS per troy ounce.
Sementara harga logam mulia berada di kisaran Rp 2.620.000 per gram.
Sebaliknya, ketika harga pekan depan naik, emas dunia diproyeksikan akan mencapai level 5.057 dollar AS per troy ounce sebagai resistance pertama.
Sementara itu, harga logam mulia berada di level Rp 2.800.000 per gram.
Kemudian, resistance kedua harga emas global akan berada di level 5.170 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia di level Rp 2.900.000 per gram.
Sebagai catatan, harga emas dunia berada pada level 4.964 dollar AS per troy ounce pada penutupan Sabtu (7/2/2026) kemarin.
Sementara harga logam mulia di pasar domestik tercatat senilai Rp 2.761.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia.
Faktor yang pertama adalah adanya penundaan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pada Januari ini.
Pengumuman yang semula dijadwalkan pada Jumat (6/2/2026) mundur jadi Rabu (11/2/2026).
"Data ketenagakerjaan tersebut bisa melihat sejauh mana bank sentral AS akan menurunkan suku bunga atau mempertahankan," kata dia kepada awak media, Minggu (8/2/2026).
Ia menambahkan, fluktuasi harga emas juga dipengaruhi oleh langkah Bank of England dan bank sentral Eropa yang masih mempertahankan suku bunga acuan.
Selain itu, ketegangan di Timur Tengah juga menjadi faktor lain yang membuat harga emas bergejolak.
Di tengah faktor pendorong harga emas tersebut, Ibrahim menjelaskan, masih terdapat beberapa faktor yang menahan laju harga emas.
Ilustrasi emas Antam.Salah satu faktornya adalah pencalonan Kevin Walsh sebagai calon Ketua The Fed yang dipandang pasar cenderung pro terhadap suku bunga tinggi.
"Meski sudah dibantah Trump, kalau seandainya tidak mengikuti keinginan Trump, kemungkinan akan dipecat juga. Tetapi rupanya pasar ini masih cenderung negatif, taking profit terhadap harga emas," ujar dia.
Adapun, Ibrahim menilai penurunan harga emas masih berpeluang berlanjut lantaran Chicago Mercantile Exchange (CME) belum menurunkan margin jaminan transaksi.
Ia menilai kondisi di CME kurang menarik karena margin jaminan per lot yang tinggi dan spread yang melebar.
Menurut Ibrahim, fluktuasi harga emas masih cenderung menuju ke pelemahan sembari menunggu deeskalasi kondisi geopolitik global, perang dagang, hingga dinamika internal AS.
"Hanya fokus pada kebijakan Trump yang memiliki Kevin Walsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS, itu yang dijadikan sebagai acuan," kata dia.
Baca juga: Harga Emas Bergejolak, Bank Sentral China Tetap Tambah Cadangan