Indef: Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Masih Ditopang Bantuan dan Stimulus
- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental. Meski secara angka pertumbuhan tercatat lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, sumber pertumbuhan tersebut dinilai masih rapuh karena sangat bergantung pada faktor musiman dan stimulus pemerintah.
Peneliti Indef, Ahmad Heri Firdaus, mengatakan bahwa jika ditelisik dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menunjukkan perbaikan. Namun, perbaikan itu perlu dikaji lebih dalam untuk memastikan apakah benar berasal dari peningkatan produktivitas sektor-sektor ekonomi atau sekadar terdorong bantuan sementara.
“Kalau kita lihat secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 memang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi pertanyaannya, apakah ini karena kinerja sektoral yang semakin produktif, atau justru dibantu faktor musiman dan stimulus anggaran pemerintah yang biasanya deras di triwulan empat,” ujar Heri secara virtual, Kamis (6/2/2026).
Baca juga: Airlangga Ungkap Alasan Moodys Pangkas Outlook Peringkat Utang RI Jadi Negatif
Menurut Heri, ketergantungan pada faktor bantuan menjadi persoalan serius. Sebab, tanpa stimulus dan dorongan musiman, ekonomi berisiko kembali melemah.
“Jadi ekonomi kita itu jadi ketergantungan bantuan, bantuan oleh musiman dan bantuan oleh stimulus. Artinya di sini pembenahan dalam memperbaiki fundamental ekonomi khusus sektoril, di sini belum terlihat secara jelas,” tegasnya.
Ia menilai sepanjang 2025 arah pembangunan ekonomi sektoral juga belum terlihat tegas. Meski pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen dan secara tahunan tumbuh 5,11 persen, akselerasinya dinilai belum signifikan.
“Memang betul triwulan empat tumbuh 5,39 persen, tapi itu faktor utamanya didorong musiman akhir tahun. Secara tahunan 5,11 persen memang di atas 5, tapi akselerasinya belum terlihat kuat,” jelas Heri.
Dari sisi pengeluaran, Indef mencermati bahwa investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sepanjang 2025 hanya tumbuh sekitar 5,09 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan dua kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kalau kita lihat detailnya, yang tumbuh di atas 5,11 persen itu hanya ekspor dan konsumsi LNPRT (Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga). Sementara konsumsi rumah tangga dan investasi, yang seharusnya menjadi tulang punggung, justru tumbuh di bawah angka pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang terjadi belum bersifat struktural dan belum cukup kuat untuk mendorong transformasi ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi yang terjadi ini belum menunjukkan perbaikan dari sisi struktural maupun fundamentalnya, sehingga sulit untuk transformasi,” ujar Heri.
Ilustrasi ekonomi.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai tantangan eksternal dan domestik, mulai dari bencana alam, gejolak pasar saham, hingga tekanan global, berpotensi menjadi bom waktu bagi perekonomian jika tidak segera diantisipasi.
“Kalau tantangan-tantangan tersebut sulit untuk kita atasi, maka akan berdampak terhadap ekonomi secara riil,” katanya.
Lebih lanjut, Heri menyoroti kinerja sektor industri pengolahan yang hingga kini masih menjadi kontributor terbesar PDB dengan porsi sekitar 19,07 persen. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor ini meningkat hingga di atas 28 persen, namun menurutnya hal itu sulit tercapai tanpa akselerasi nyata.
“Tanpa ada pertumbuhan industri pengolahan yang bisa terakselerasi, maka akan sulit untuk industri memberikan kontribusi besar terhadap PDB,” tegasnya.
Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat Usai Moodys Turunkan Peringkat Utang AS
Ia juga menyinggung sejumlah program unggulan pemerintah seperti makan bergizi gratis yang seharusnya mendorong sektor pertanian dan agroindustri. Namun, dampaknya dinilai belum optimal meski anggaran yang digelontorkan sangat besar.
“Harusnya sektor pertanian dan agroindustri bisa terakselerasi, tapi kalau kita lihat kinerjanya biasa-biasa saja. Padahal anggarannya puluhan triliun rupiah,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas stimulus dalam mendorong sektor-sektor strategis.
“Ini yang jadi pertanyaan, sudah dibantu tapi kok sulit untuk ngegas,” tegas Heri.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kinerja ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu tak lepas dari kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen (yoy). Lebih tinggi ketimbang pertumbuhan kuartal III-2025 yang sebesar 5,04 persen yoy.
"Secara kumulatif ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen," jelasnya dalam rilis BPS di Jakarta pada Kamis (5/1/2026).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor manufaktor dengan pertumbuhan 5,3 persen, dimana terjadi permintaan yang tinggi pada industri pengolahan baik dari pasar domestik maupun mancanegara.
“Jika dilihat secara rinci berdasarkan lapangan usaha, sumber pertumbuhan terbesar adalah industri pengolahan,” kata Amalia.
Sementara itu, sektor perdangan tumbuh 5,49 persen, dilanjutkan pertanian 5,3 persen, serta konstruksi 3,81 persen.
“Pertumbuhan peternakan ditopang peningkatan produksi telur dan daging ayam ras untuk memenuhi konsumsi domestik, termasuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG),” tegasnya.
Tag: #indef #pertumbuhan #ekonomi #2025 #masih #ditopang #bantuan #stimulus