Festival Bunga Sakura Gunung Fuji 2026 Batal karena Overtourism
- Festival Bunga Sakura yang menawarkan pemandangan Gunung Fuji, Jepang tahun ini batal digelar karena overtourism (pariwisata berlebihan) yang sudah mengganggu kenyamanan warga lokal.
"Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga negara kita, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini," kata Walikota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNA, Jumat (6/2/2026).
Biasanya, acara yang berlangsung selama beberapa minggu ini akan menarik sekitar 200.000 orang untuk berkunjung.
Acara ini biasanya digelar di Kota Fujiyoshida, tepatnya di sebuah taman yang langsung menghadap Gunung Fuji, pohon sakura, dan pagoda lima lantai.
Menambahkan dari BBC, Kota Fujiyoshida merupakan destinasi popular selama musim semi.
Baca juga: China dan Jepang Masih Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Indonesia
Karena, di sana pohon sakura Jepang yang terkenal di dunia sedang mekar penuh. Pemandangan ini dapat dilihat dengan latar belakang Gunung Fuji.
Apa itu Festival Bunga Sakura?
Festival Bunga Sakura ini pada awalnya merupakan ide pihak berwenang pada April 2016 silam. Mereka membuka gerbang Taman Arakurayama Sengen untuk menyambut wisatawan selama musim sakura.
Taman ini menawarkan pemandangan kota yang panoramik dari pagodanya, dengan beberapa tempat yang layak difoto dan "Instagramable".
Pemerintah Fujiyoshida mulai menyelenggarakan acara tahunan ini di Taman Arakurayama Sengen.
Harapannya, acara ini bisa meningkatkan daya tarik kawasan tersebut, dan menambah jumlah pengunjung dengan menciptakan suasana meriah di kawasan tersebut.
Namun, pihak berwenang mengatakan bahwa jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat secara drastis, dan sudah melebihi kapasitas kota.
Baca juga: Jadwal Mekarnya Sakura 2026 di Jepang, Tokyo Mulai 19 Maret
Kondisi ini mengakibatkan pariwisata berlebihan (overtourism), yang berdampak serius pada lingkungan hidup penduduk setempat.
Overtourism di Jepang ganggu warga
Secara keseluruhan, terhitung ada sekitar 42,7 juta wisatawan yang mengunjungi Jepang pada 2025.
Jumlah tersebut merupakan capaian tertinggi sepanjang masa, melampaui rekor jumlah turis tahun 2024 yang mencapai 37 juta kunjungan.
Menambahkan dari BBC, kini tercatat ada sebanyak 10.000 turis yang berkunjung ke Fujiyoshida setiap hari selama puncak musim mekarnya bunga sakura.
Adapun salah satu faktor utama kondisi ini yaitu nilai tukar yen yang melemah. Sehingga, menjadikan Jepang masuk ke dalam daftar negara impian yang ingin dikunjungi oleh turis.
Baca juga: Waktu Terbaik ke Jepang, Bisa Lihat Sakura
Seiring meningkatnya jumlah turis yang berkunjung ke Jepang, kondisi ini memicu kepadatan pengunjung. Terutama, di tempat-tempat wisata popular seperti Kyoto.
Namun sayangnya, kepadatan pengunjung ini juga disertai dengan tingkah laku turis yang menggangu kenyamanan warga lokal.
Misalnya, ada turis yang tidak sopan, dinilai mengganggu para penari geisha berkimono, karena turis tersebut ingin berfoto.
Khusus di Fujiyooshida, masuknya turis asing telah menyebabkan kemacetan lalu lintas kronis, dan puntung rokok berserakan.
Kemudian, ada pula laporan warga setempat yang mengatakan ada turis yang telah melanggar batas, bahkan ada yang buang air besar di kebun pribadi milik warga.
"Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang sangat kuat," kata Shigeru.
Meskipun festival ini dibatalkan, pemerintah memprediksi akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung jelang musim semi.
Pemerintah Kota juga sedang mempersiapkan diri untuk peningkatan jumlah pengunjung selama bulan April dan Mei.
Tag: #festival #bunga #sakura #gunung #fuji #2026 #batal #karena #overtourism