Moody’s Turunkan Outlook Indonesia Jadi Negatif, OJK: Fundamental Tetap Solid
Ilustrasi ekonomi.(canva.com)
11:52
6 Februari 2026

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia Jadi Negatif, OJK: Fundamental Tetap Solid

- Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level Baa2, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif di tengah dinamika global.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati keputusan Moody’s tersebut sebagai penegasan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, meskipun ketidakpastian global meningkat.

OJK menilai afirmasi peringkat tersebut mencerminkan dukungan dari pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, kerangka kebijakan makro yang disiplin, serta ketahanan sektor jasa keuangan.

Baca juga: Moodys Turunkan Outlook Indonesia, BI: Tak Cerminkan Fundamental

Ilustrasi ekonomi, perekonomian. SHUTTERSTOCK/TIPPAPATT Ilustrasi ekonomi, perekonomian.

Moody’s juga menegaskan, perekonomian Indonesia tetap resilien, ditopang oleh kekuatan struktural serta kebijakan fiskal dan moneter yang prudent.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen pada tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Menurut OJK, kinerja tersebut menunjukkan kemampuan perekonomian nasional menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global, sekaligus menjadi penopang penting terhadap ketidakpastian jangka pendek yang tercermin dalam outlook.

Makna outlook negatif

Penurunan outlook menjadi negatif umumnya mencerminkan peningkatan risiko terhadap profil kredit suatu negara dalam jangka menengah, biasanya dalam horizon 12 hingga 18 bulan.

Baca juga: Airlangga Ungkap Alasan Moodys Pangkas Outlook Peringkat Utang RI Jadi Negatif

Outlook negatif tidak serta-merta berarti penurunan peringkat (downgrade), namun mengindikasikan adanya kemungkinan penurunan rating apabila risiko yang diidentifikasi tidak mereda atau memburuk.

Ilustrasi keuangan, sektor keuangan.SHUTTERSTOCK/KATJEN Ilustrasi keuangan, sektor keuangan.

Dalam konteks global, sejumlah lembaga pemeringkat menyoroti meningkatnya ketidakpastian akibat perlambatan ekonomi dunia, volatilitas pasar keuangan, tekanan suku bunga global yang lebih tinggi dalam periode lebih panjang, serta dinamika geopolitik.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar, dan pembiayaan eksternal negara berkembang.

Dengan peringkat Baa2, Indonesia masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi.

Baca juga: Moodys Pangkas Outlook Indonesia jadi Negatif, Pemerintah Upayakan Debottlenecking

Level ini menandakan kapasitas memadai dalam memenuhi kewajiban keuangan, meskipun sensitivitas terhadap perubahan kondisi ekonomi tetap ada.

Perubahan outlook menjadi negatif menjadi sinyal bahwa risiko eksternal dan domestik perlu terus dikelola agar tidak berdampak pada penilaian kredit di masa mendatang.

Respons OJK dan koordinasi kebijakan

OJK menilai prospek perekonomian nasional tetap positif dan berkelanjutan, didukung oleh permintaan domestik yang solid, kontribusi sektor keuangan yang stabil, serta kesinambungan agenda reformasi berkelanjutan.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan OJK akan terus memperkuat perannya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: Moodys Turunkan Outlook Indonesia, BI: Tak Cerminkan Fundamental

“Ke depan, OJK akan secara konsisten menjalankan Program Prioritas 2026 dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, serta pendalaman pasar keuangan secara terukur. Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, mendukung pembiayaan Program Prioritas Pemerintah, serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar dan investor,” ujar Friderica dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari DewiDokumentasi OJK Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi

OJK memandang penilaian Moody’s yang menempatkan Indonesia pada posisi relatif lebih baik dibandingkan negara sekelasnya sebagai cerminan kepercayaan terhadap kapasitas kebijakan nasional.

OJK juga menyatakan akan mendukung penguatan koordinasi nasional untuk menciptakan kebijakan yang lebih selaras dan konsisten.

Sebagai anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK menyatakan akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta memperluas dukungan pembiayaan bagi pembangunan jangka menengah dan panjang.

Baca juga: Outlook Moodys dari Stabil ke Negatif Jadi Sinyal Peringatan untuk RI

Sebagai informasi, Moody’s dalam pernyataannya pada Kamis (5/2/2026) menyatakan, penurunan outlook dari stabil menjadi negatif mencerminkan kekhawatiran terhadap menurunnya prediktabilitas dalam proses perumusan dan komunikasi kebijakan di Indonesia, terutama yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.

Lembaga pemeringkat tersebut menilai ketidakpastian kebijakan ini dapat melemahkan efektivitas kebijakan fiskal dan tata kelola pemerintahan jika terus berlanjut, sehingga berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi dan fiskal Indonesia.

Moody’s juga mengaitkan perubahan outlook dengan indikator pasar yang menunjukkan meningkatnya volatilitas, termasuk tekanan pada nilai tukar dan pasar saham, serta kekhawatiran investor atas arah kebijakan ekonomi yang dinilai kurang konsisten.

Dalam penjelasan lembaga itu, tren yang mengarah pada berkurangnya konsistensi dan koherensi kebijakan tersebut bisa berdampak pada persepsi risiko di pasar modal dan pembiayaan eksternal ke depan.

Baca juga: Moody’s Turunkan Outlook RI Jadi Negatif, Pemerintah dan BI: Fundamental Tetap Kuat

Selain itu, Moody’s menyoroti pembentukan sovereign wealth fund (SWF) baru, Danantara, sebagai faktor yang menambah ketidakpastian.

Lembaga pemeringkat ini memandang, kewenangan Danantara atas aset-aset besar milik negara dapat menimbulkan kewajiban kontinjensi dan menambah pertanyaan seputar prioritas investasi serta kerangka tata kelola jika tidak diimbangi koordinasi yang kuat.

Dalam konteks pasar keuangan, keputusan Moody’s turut memicu tekanan di pasar modal domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan dan rupiah melemah terhadap dollar AS setelah pengumuman penurunan outlook, mencerminkan reaksi investor terhadap meningkatnya persepsi risiko.

Baca juga: Moody’s Turunkan Outlook Indonesia ke Negatif, Rating Tetap Baa2

Beberapa analis memperingatkan outlook negatif ini bisa meningkatkan risk premium aset Indonesia, khususnya pada obligasi jangka panjang, saham perusahaan milik negara besar, serta sentimen terhadap aliran modal asing.

Tag:  #moodys #turunkan #outlook #indonesia #jadi #negatif #fundamental #tetap #solid

KOMENTAR