Ironi Pekerja Indonesia: Bahagia tetapi Dihantui Burnout
Tingkat kebahagiaan pekerja Indonesia di tempat kerja tertinggi se-Asia Pasifik menurut hasil surivei Jobstreet by SEEK.(Freepik/tirachardz)
08:12
4 Februari 2026

Ironi Pekerja Indonesia: Bahagia tetapi Dihantui Burnout

- Pekerja Indonesia tercatat sebagai yang paling bahagia di kawasan Asia Pasifik.

Namun di balik capaian tersebut, persoalan kelelahan kerja (burnout) masih menghantui hampir separuh karyawan di Tanah Air.

Temuan ini terungkap dalam riset terbaru Jobstreet by SEEK yang melibatkan 1.000 responden dari kalangan pekerja Indonesia usia 18-64 tahun.

Survei yang sama juga dilakukan di 7 negara Asia Pasifik lainnya.

Baca juga: Riset Jobstreet: Pekerja di Indonesia Paling Bahagia se-Asia Pasifik

Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, Wisnu Dharmawan, menyatakan sebanyak 82 persen responden dari Indonesia menyatakan bahagia saat di tempat kerja.

Selain kebahagiaan umum, sebanyak 86 persen pekerja Indonesia merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaan mereka memberikan kepuasan batin.

"Jadi orang Indonesia ini emang happy-happy banget ya dimana happiness index kita ada di 82 persen," ujar Wisnu saat media briefing di kantornya, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Pekerja Indonesia Bahagia 

Indeks Kebahagiaan itu menjadi yang paling tinggi di antara negara kawasan Asia Pasifik.

Setelah Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan New Zealand memiliki indeks kebahagiaan yang tinggi sebesar masing-masing 77 persen, 70 persen, 67 persen, dan 65 persen.

Tidak hanya itu, Indeks Kebahagiaan pekerja Indonesia juga berhasil melampaui negara-negara dengan pasar kerja yang lebih kompetitif seperti Hong Kong sebesar 47 persen, Singapura sebesar 56 persen, dan Australia sebesar 57 persen.

Menurutnya, masyarakat Indonesia cenderung memiliki respons yang lebih positif dalam menghadapi dinamika di tempat kerja.

Sementara negara-negara dengan tingkat kompetisi yang lebih tinggi dan tekanan biaya hidup besar menghadapi tantangan berbeda.

"Kemungkinannya bisa saja mengenai bahwa Indonesia ini kulturnya cukup positif dalam respons. Jadi ini yang mungkin menyebabkan indeks kebahagiaan pekerja itu menjadi lebih tinggi di Indonesia," ucap Wisnu.

Sumber Kebahagiaan Pekerja Indonesia

Riset yang sama mengungkapkan, faktor utama yang membuat pekerja Indonesia merasa bahagia dalam pekerjaan mereka saat ini ialah hubungan dengan rekan kerja atau kolega sebesar 77 persen.

Kemudian disusul oleh faktor lokasi kerja sebesar 76 persen, tujuan bekerja yang bermakna sebesar 75 persen, komitmen perusahaan pada ESG sebesar 75 persen, dan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) sebesar 74 persen.

"Jadi mungkin bahagia tidak bahagia kalau temannya asyik di kantor, jadi senang," kata Wisnu.

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor yang mendorong pekerja Indonesia untuk bisa lebih bahagia.

Namun riset ini mengungkapkan bukan gaji yang menjadi keinginan utama pekerja untuk merasa bahagia di tempat kerja.

Data dari riset tersebut menunjukkan bahwa pendorong kebahagiaan yang sebenarnya adalah work-life balance, tujuan kerja, senior leadership, job security, dan teman kerja atau kolega.

"Gaji yang kompetitif memang penting untuk menarik kandidat, namun kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna dan mereka memiliki keseimbangan untuk menikmati hidup di luar pekerjaan," jelas Wisnu.

Baca juga: Studi: Gaji Besar Bikin Anda Bahagia, tapi Tidak di Tempat Kerja

Ilustrasi bahagiaFreepik Ilustrasi bahagia

Ironi di Balik Kebahagiaan Pekerja

Meski indeks kebahagiaan tinggi, riset ini juga mengungkap ironi besar dimana sebanyak 43 persen responden mengaku mengalami lelah secara mental (burnout) atau kehabisan tenaga.

Bahkan dari 82 persen responden yang mengaku bahagia, sebanyak 40 persennya juga merasakan burnout.

Itu artinya, kebahagiaan tidak selalu sejalan dengan tingkat stres yang rendah di kalangan pekerja.

Selain itu, isu keamanan kerja turut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pekerja Indonesia.

Sekitar 42 persen responden menyatakan cemas terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan pekerjaan mereka, terutama di sektor teknologi.

"Bahkan kalau untuk teman-teman yang bekerja di bidang teknologi, itu malah lebih dari separuh (54 persen) yang khawatir someday mungkin pekerjaan saya akan menjadi bertambah risikonya, mengenai eksistensi dari pekerjaannya. Jadi itu mungkin hal yang sekarang sedang menjadi concern bagi karyawan," tuturnya.

Oleh karena itu, Wisnu menuturkan, pihaknya mendorong perusahaan untuk fokus pada tiga strategi utama yaitu membangun makna kerja bagi setiap level karyawan, mendukung batasan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas, serta mendengarkan kebutuhan spesifik antar-generasi.

Penting bagi perusahaan serta jajaran manajemen untuk menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan sekat komunikasi dan menciptakan lingkungan yang inklusif agar kandidat terbaik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Pasalnya, sebanyak 90 persen karyawan yang merasa bahagia mengaku termotivasi untuk bekerja go above and beyond atau melakukan lebih dari tuntutan pekerjaan.

Sebaliknya, motivasi tersebut jauh lebih rendah pada kelompok karyawan yang kurang bahagia.

Baca juga: Ketika Bahagia Tak Selalu Sejahtera

Tag:  #ironi #pekerja #indonesia #bahagia #tetapi #dihantui #burnout

KOMENTAR