Kekhawatiran AI Bayangi Saham Teknologi, Wall Street Merah
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu setempat. Pelemahan dipicu kekhawatiran investor bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) justru akan meningkatkan persaingan di industri perangkat lunak, sekaligus menekan margin keuntungan.
Sentimen tersebut menguat menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, termasuk Alphabet dan Amazon, pada pekan ini.
Mengutip Reuters Rabu (4/2/2026), indeks S&P 500 turun 0,84 persen ke level 6.917,81.
Indeks Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 1,43 persen ke posisi 23.255,19, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,34 persen ke level 49.240,99.
Baca juga: OJK-BEI Rombak Klasifikasi Investor Jadi 27 Kelompok Pemegang Saham, Ini Rinciannya
Sebanyak enam dari 11 sektor dalam S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi informasi memimpin penurunan setelah anjlok 2,17 persen.
Volume perdagangan saham di bursa AS tercatat mencapai 23,5 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 19,6 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Tekanan paling besar terjadi pada saham-saham raksasa teknologi berbasis AI.
Saham Nvidia dan Microsoft masing-masing melemah hampir 3 persen.
Saham Alphabet turun 1,2 persen menjelang laporan keuangan pada Rabu, sementara saham Amazon terkoreksi 1,8 persen menjelang rilis kinerja kuartalan pada Kamis.
Dalam beberapa bulan terakhir, investor mulai bersikap lebih selektif terhadap saham-saham terkait AI.
Pasar kini menuntut bukti imbal hasil yang terukur dari besarnya investasi perusahaan pada teknologi tersebut.
Fokus Wall Street pada Selasa bergeser ke perusahaan perangkat lunak yang dinilai berpotensi menghadapi tekanan persaingan lebih ketat serta margin keuntungan yang menurun akibat kemajuan AI.
Salah satu pemicu kekhawatiran pasar adalah peluncuran alat hukum oleh Anthropic untuk chatbot AI Claude.
“Kami melihat banyak nama perusahaan perangkat lunak yang dianggap sebagai perusahaan yang mungkin akan terganggu ketika kita mulai melihat kemajuan kecerdasan buatan. Kita melihat banyak perusahaan perangkat lunak di berbagai sektor mengalami penurunan,” ujar Art Hogan, Kepala Strategi Pasar di B. Riley Wealth.
Saham Salesforce, Datadog, dan Adobe masing-masing ambles sekitar 7 persen.
Saham Synopsys dan Atlassian turun sekitar 8 persen, sementara saham Intuit merosot hingga 11 persen.
Di tengah tekanan pasar, saham Palantir justru bergerak berlawanan arah.
Saham perusahaan data AI tersebut melonjak hampir 7 persen setelah membukukan kinerja kuartalan yang solid pada Senin malam.
Meski demikian, indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 tetap turun 3,8 persen dan mencatat pelemahan untuk hari kelima berturut-turut.
“Kita berada di pasar yang mahal dan ekspektasi sangat tinggi. Banyak area, terutama di sekitar AI, dihargai dengan asumsi kesempurnaan. Ini menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpastian,” kata John Campbell, Manajer Portofolio Senior di Allspring Global Investments.
Tekanan juga terjadi pada sektor kesehatan.
Saham Novo Nordisk, produsen obat penurun berat badan Wegovy, anjlok hampir 15 persen di pasar AS setelah perusahaan memperingatkan potensi penurunan tajam penjualan tahunan.
Sekitar seperempat dari konstituen S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pada pekan ini.
Analis memperkirakan laba perusahaan akan tumbuh hampir 11 persen pada kuartal Desember, meningkat dari proyeksi sekitar 9 persen pada awal Januari, menurut data LSEG.
Sementara itu, rancangan undang-undang untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintah AS nyaris lolos dari rintangan prosedural di Dewan Perwakilan Rakyat, membuka jalan bagi pemungutan suara pengesahan akhir pada hari yang sama.
Penutupan sebagian aktivitas pemerintah tersebut sebelumnya telah menunda rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan pada Jumat dan laporan JOLTS yang semula dijadwalkan dirilis pada Selasa.
Tag: #kekhawatiran #bayangi #saham #teknologi #wall #street #merah