Dokter Jelaskan Mengapa Berbuka Puasa Disarankan Konsumsi yang Manis
- Berbuka puasa tanpa hidangan pembuka alias takjil yang manis tak lengkap rasanya. Konsumsi makanan atau minuman yang manis ini ternyata juga direkomendasikan oleh dokter.
Menurut penjelasan dr. Suwito Indra, Sp.PD-KGEH, FINASIM, aturan berbuka puasa dengan yang manis-manis sudah tepat. Ia merujuk pada sunah berbuka puasa mengikuti cara Nabi Muhammad SAW, yang berbuka dengan mengonsumsi kurma seperlunya dan minum air putih.
Jika tidak memiliki kurma, makanan atau minuman apapun yang manis, boleh dikonsumsi. Asalkan, porsinya sedikit untuk membiasakan saluran pencernaan terisi, setelah seharian kosong karena berpuasa.
Baca juga: Kapan Puasa Ramadhan 2026 Dimulai? Simak Perkiraan Awal dan Persiapannya
Mengapa harus yang manis-manis?
Kebiasaan berbuka dengan yang manis kerap dianggap sekadar tradisi. Namun, dr. Suwito menjelaskan bahwa anjuran tersebut ada dasar logisnya.
“Kita bisa bayangkan, setelah kira-kira 12 jam atau lebih, orang tidak makan dan tidak minum. Gula di darahnya kan sudah rendah karena dipakai seharian,” tutur dia.
Selama berpuasa, tubuh tetap menggunakan energi untuk beraktivitas. Kadar gula darah pun menurun karena dipakai terus-menerus.
Apa yang dibutuhkan saat waktunya berbuka puasa adalah yang manis-manis guna mengembalikan kembali energi, misalnya dari makanan atau minuman manis.
“Minum air gula sedikit atau makanan manis sedikit, supaya kadar gulanya agak naik di darah, sehingga merasa segar badannya,” terang dr. Suwito.
Baca juga: Gula Darah Puasa dan Sewaktu, Ini Penentu Diabetes Menurut Dokter
Jangan langsung makan besar
Setelah asupan awal yang ringan, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri sebelum menerima makanan dalam jumlah besar.
“Minum air yang cukup sehingga dahaganya hilang, kemudian makan sedikit. Setelah badan merasa enak, baru makan besar,” kata dr. Suwito.
Pendekatan bertahap ini membantu sistem pencernaan bekerja lebih nyaman. Lambung yang sebelumnya kosong akan kembali menerima makanan secara perlahan, bukan mendadak penuh.
Kondisi perut yang terlalu penuh sekaligus setelah lama kosong, bisa menimbulkan rasa begah atau tidak nyaman.
Terkait jarak waktu antara camilan awal dan makan besar, dr. Suwito menuturkan bahwa tidak ada aturan baku yang harus diikuti semua orang.
“Badan manusia tidak ada yang sama, jadi ada variasi antara satu orang dengan orang lainnya,” kata dia.
Artinya, setiap orang bisa memiliki kenyamanan yang berbeda dalam menentukan jeda waktu tersebut.
“Setengah jam boleh, satu jam boleh, tergantung orangnya, senyamannya orangnya. Tidak ada suatu ketentuan harus berapa lama,” lanjut dr. Suwito.
Baca juga: Manfaat Makan Semangka untuk Kesehatan Jantung, Pencernaan, dan Kulit
Tag: #dokter #jelaskan #mengapa #berbuka #puasa #disarankan #konsumsi #yang #manis