Saham Prajogo Pangestu (PTRO) Rontok Parah, Tersungkur hingga ARB
Harga saham emiten milik Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO), tertekan tajam menjelang penutupan perdagangan Jumat (23/1/2025).
Pantauan Kompas.com melalui aplikasi Stockbit pukul 15.45 WIB menunjukkan saham emiten jasa pertambangan tersebut menyentuh auto rejection bawah. Saham PTRO ditutup di level Rp 9.175. Posisi itu turun 1.600 poin atau 14,85 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Perdagangan dibuka di level Rp 10.225. Harga sempat bergerak naik hingga menyentuh Rp 10.550. Penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual membalikkan arah pergerakan.
Aksi jual terus berlanjut sepanjang sesi. Harga saham akhirnya terkunci di level terendah Rp 9.175 yang sekaligus menjadi batas ARB. Setelah itu, pergerakan saham relatif datar di zona merah bawah.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu'tashim menilai pergerakan PTRO berkaitan erat dengan dinamika isu global. Perhatian pasar tertuju pada perkembangan indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Di kalangan pelaku pasar, PTRO ramai disebut sebagai kandidat konstituen MSCI Standard. Saham ini sebelumnya naik kelas dan masuk kategori Small Cap pada Agustus 2025. Isu tersebut membuat PTRO menjadi sorotan investor domestik dan asing dalam beberapa waktu terakhir.
Pada saat yang sama, MSCI disebut tengah mengkaji perubahan metodologi penilaian indeks. Kebijakan baru tersebut direncanakan berlaku efektif mulai Mei 2026. Pengumuman resmi dijadwalkan pada 30 Januari 2026.
Ketidakpastian arah perubahan metodologi tersebut mendorong sikap defensif di pasar. Saham-saham yang masuk radar kandidat MSCI ikut terkena dampaknya.
“Sebagaimana dirumorkan, PTRO akan menjadi kandidat konstituen MSCI Standard setelah berhasil masuk kategori Small Cap pada Agustus 2025. Di sisi lain, MSCI berpotensi mengubah metodologi penilaian efektif berlaku pada Mei 2026, yang akan diumumkan pada 30 Januari 2026,” ujar Ahmad Faris saat dihubungi Kompas.com.
Pelaku pasar disebut mengambil langkah antisipatif melalui strategi front running. Penyesuaian posisi dilakukan lebih awal sambil menunggu kepastian dari pengumuman MSCI pada Jumat (30/1/2026) pekan depan.
Strategi tersebut tercermin dari derasnya aksi jual pada saham PTRO dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu terjadi meski secara fundamental prospek emiten dinilai masih menarik.
Tekanan serupa juga dialami saham lain yang dikaitkan dengan isu MSCI. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Kamis (22/1/2026) ditutup melemah tajam hingga 9,84 persen akibat aksi jual.
Pada perdagangan Jumat, BUMI mulai menunjukkan pemulihan. Harga saham BUMI mencatatkan kenaikan 3,45 persen dan ditutup di level Rp 360.
“Sehingga, sebagai antisipasi isu tersebut, pelaku pasar bersikap front-runner menunggu konfirmasi pengumuman pada Jumat minggu depan. Tingginya sell off pada PTRO dan saham berkorelasi dengan kandidat MSCI mengalami hal serupa seperti BUMI yang ditutup melemah 9,84 persen pada Kamis kemarin, meskipun hari ini BUMI sudah mencatatkan rebound,” paparnya.
Tag: #saham #prajogo #pangestu #ptro #rontok #parah #tersungkur #hingga