Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah, Ditutup Rp 16.978 per Dollar AS
Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
Rupiah ditutup melemah 0,14 persen ke posisi Rp 16.978 per dollar AS pada perdagangan Selasa (20/1/2026).
Tekanan lebih dalam terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia. Nilai tukar versi Jisdor melemah 46 poin atau 0,27 persen ke level Rp 16.981 per dollar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut rupiah sempat membaik pada paruh akhir perdagangan. Perbaikan terjadi seiring penurunan tajam indeks dollar AS, yang memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.
“Rupiah ditutup melemah tipis, membalikkan sebagian besar perlemahan awal, didukung oleh penurunan tajam pada indeks dollar AS,” ujar Lukman kepada Kompas.com, Selasa sore.
Meski begitu, penguatan tersebut belum cukup membawa rupiah ke zona positif. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter membuat investor menahan transaksi dan mengambil posisi menunggu.
Sentimen domestik turut membebani pergerakan rupiah. Isu pencalonan keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral.
Isu tersebut menambah tekanan psikologis, meski belum berdampak langsung pada kebijakan moneter.
“Namun rupiah masih gagal bangkit, dengan investor waswas mengantisipasi hasil RDG BI besok. Rupiah juga terbebani oleh berita pencalonan keponakan Prabowo sebagai deputi gubernur BI, yang semakin memicu kekuatiran independensi BI,” kata Lukman.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas dalam jangka pendek. Investor diprediksi tetap menunggu kepastian hasil RDG BI sebelum mengambil langkah agresif.
“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan walau investor masih wait and see menantikan hasil RDG BI besok. Range Rp 16.900–Rp 17.000,” ujar Lukman.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan pelaku pasar, terutama spekulator, agar tidak mengambil posisi terlalu agresif di tengah pelemahan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dollar AS.
Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional yang terus membaik. Ia menyoroti derasnya arus modal masuk serta kinerja pasar modal yang solid.
Indeks Harga Saham Gabungan tercatat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,41 pada Senin (19/1/2026).
“Untuk spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long. Long itu beli di depan. Fondasi ekonomi kita tidak akan terganggu dengan pelemahan rupiah dan justru akan terus membaik,” ujar Purbaya dikutip dari Kontan.id.
Ia mempertanyakan tekanan rupiah di tengah membaiknya indikator ekonomi domestik. Aktivitas ekonomi dan arus modal dinilai masih kuat menopang kepercayaan investor.
Dari sisi pasokan devisa, Purbaya menilai tidak ada indikasi kekurangan dollar AS di dalam negeri. Pelemahan rupiah dinilai tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara riil.
“Kalau ekonomi kita jaga terus dan kita perbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Tidak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini,” lanjutnya.
Purbaya juga menyinggung penguatan pasar modal sebagai cerminan kepercayaan investor. Menurut dia, kenaikan IHSG tidak mungkin terjadi tanpa dukungan arus dana.
“Coba lihat pasar modal, kan naik. Pasar modal tidak mungkin naik kalau tidak ada investor asing atau investor domestik yang masuk,” kata Purbaya.
Meski begitu, ia menegaskan kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di bawah kewenangan bank sentral. Pemerintah tidak memiliki ruang untuk melakukan intervensi langsung.
“Silahkan ditanyakan ke bank sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk besar, kenapa rupiahnya melemah? Karena saya tidak bisa intervensi kebijakan nilai tukar. Itu otoritas bank sentral,” ujar Purbaya.
Tag: #rupiah #sentuh #level #terlemah #sepanjang #sejarah #ditutup #16978 #dollar