Sejarah RDMP Balikpapan: Dari Sumur Mathilda hingga Jadi ‘Garda Terdepan’ Energi Indonesia Timur
RDMP (Refinery Development Master Plan) Balikpapan/(Istimewa).
10:45
17 Januari 2026

Sejarah RDMP Balikpapan: Dari Sumur Mathilda hingga Jadi ‘Garda Terdepan’ Energi Indonesia Timur

  Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah meresmikan operasional kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada 12 Januari 2026. Peresmian tersebut menandai beroperasinya infrastruktur energi yang akan semakin memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.   Pembangunan RDMP Balikpapan merupakan sebuah langkah besar pemerintah untuk memastikan energi bagi warga - khususnya wilayah Timur Indonesia. Namun, banyak yang belum tahu, sejarah kilang ini bermula jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 10 Februari 1897.    Ditandai dengan ditemukannya sumur minyak pertama di Balikpapan oleh warga negara Belanda, J.H Menten. Tanggal ditemukannya sumur minyak yang diberi nama Mathilda itu, akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan. Sejak saat itu, Balikpapan tumbuh dari kota kecil menjadi kota industri minyak yang sangat diperhitungkan di kancah global.   Sumur Mathilda ada di dalam area Kilang Balikpapan pada masa lampau. Kilang ini punya "nyawa" yang panjang. Ia sempat hancur saat Perang Dunia II, namun kembali bangkit dan terus berkembang. Dari yang awalnya hanya mengolah minyak mentah dalam jumlah kecil, kini Kilang Balikpapan bertransformasi menjadi salah satu kilang paling modern dan terbesar di Indonesia, melalui proyek infrastruktur energi terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.   Proyek RDMP Balikpapan bukan sekadar pengembangan kilang biasa. Ini adalah pembangunan masif yang punya misi besar untuk meningkatkan kapasitas pengolahan naik dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari, meningkatkan kemandirian dalam mengolah dan menyediakan produk BBM, LPG dan Petrokimia.   

  Tak hanya meningkat secara kapasitas, RDMP Balikpapan juga menghasilkan produk yang nantinya setara dengan standar Euro V, yang artinya jauh lebih bersih dan ramah buat bumi. Lebih jauh, dampak dari RDMP Balikpapan adalah mendorong kemandirian energi, melalui pengurangan ketergantungan kita terhadap impor BBM.   Kilang Balikpapan memegang peran yang sangat vital, karena kilang ini menjadi urat nadi di balik distribusi energi di kawasan Indonesia Timur. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, pasokan energinya untuk mobilitas dan perputaran ekonomi bergantung pada performa kilang ini.    VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa sejalan dengan tren global yang memiliki kepedulian tinggi pada isu lingkungan dan keberlanjutan, RDMP Balikpapan hadir dengan teknologi yang mampu mengolah feedstock (bahan baku) yang lebih fleksibel dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Ini adalah bukti bahwa industri energi juga terus beradaptasi untuk menjadi lebih hijau.   Dengan sejarah panjang dan transformasi menuju masa depan, Kilang Balikpapan tetap berdiri kokoh sebagai simbol ketahanan energi nasional yang siap melayani generasi penerus Indonesia di masa yang akan datang. Baron meyakini keterlibatan generasi muda sangat penting untuk memahami nilai historis dan strategis dari aset bangsa ini.    “Balikpapan adalah warisan sejarah yang terus kita modernisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Kami ingin generasi muda tahu bahwa di Balikpapan, para Perwira Pertamina sedang berjuang memastikan setiap tetes energi sampai ke pelosok Indonesia Timur. RDMP adalah bentuk komitmen kami agar Indonesia punya kemandirian energi yang lebih tangguh ke depannya," ujar Baron.

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #sejarah #rdmp #balikpapan #dari #sumur #mathilda #hingga #jadi #garda #terdepan #energi #indonesia #timur

KOMENTAR