Sering Meragukan Perasaan Pasangan? Kenali Relationship Anxiety
Merasa ragu terhadap perasaan pasangan bisa terjadi pada siapa saja.
Namun, ketika keraguan itu muncul terus-menerus, bahkan saat hubungan terlihat baik-baik saja, kondisi ini bisa jadi bukan sekadar kurang percaya diri.
"Ya, kecemasan hubungan sangat umum," kata psikoterapis Astrid Robertson, seperti dikutip dari Healthline, Sabtu (31/1/2026).
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai relationship anxiety atau kecemasan dalam hubungan.
Relationship anxiety menggambarkan situasi ketika seseorang terus diliputi kekhawatiran tentang hubungan romantisnya.
Bukan hanya soal takut ditinggalkan, tetapi juga muncul dalam bentuk mempertanyakan cinta pasangan, masa depan hubungan, hingga mempertanyakan apakah hubungan tersebut “cukup tepat”.
Apa itu relationship anxiety?
Astrid Robertson menjelaskan, relationship anxiety bukan diagnosis klinis tersendiri, tetapi istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola kecemasan yang berulang dalam hubungan.
Seseorang yang mengalaminya bisa merasa cemas meski tidak ada masalah nyata dengan pasangannya.
Menariknya, kecemasan ini justru sering muncul dalam hubungan yang relatif stabil.
Hubungan berjalan normal, komunikasi baik, tidak ada konflik besar, tetapi pikiran terus dipenuhi pertanyaan seperti, “Apakah dia benar-benar mencintaiku?” atau “Bagaimana kalau dia tiba-tiba berubah?”
Baca juga: Psikolog Jelaskan Attachment Style di Balik Keputusan Brooklyn Beckham
Sering merasa lelah, cemas, atau terkuras setelah bertemu pasangan? Bisa jadi itu tanda hubungan toksik. Kenali ciri-cirinya menurut pakar.
Tanda-tanda relationship anxiety
Relationship anxiety bisa muncul secara halus dan sering kali tidak disadari.
Beberapa tanda yang umum antara lain:
- Terus-menerus meragukan perasaan pasangan meski tidak ada tanda negatif
- Takut berlebihan akan kemungkinan putus atau ditinggalkan
- Sering menafsirkan sikap kecil pasangan secara negatif
- Overthinking soal masa depan hubungan
- Sulit menikmati momen bahagia karena pikiran dipenuhi kekhawatiran
- Dorongan untuk terus mencari validasi atau kepastian dari pasangan
Dalam beberapa kasus, kecemasan ini juga bisa mendorong seseorang secara tidak sadar “menguji” pasangan, misalnya dengan memicu konflik kecil hanya untuk melihat reaksi pasangannya.
Mengapa seseorang bisa mengalaminya?
Ada banyak faktor yang dapat memicu relationship anxiety. Salah satunya adalah pengalaman hubungan di masa lalu.
Pernah diselingkuhi, ditinggalkan secara tiba-tiba, atau mengalami hubungan yang tidak sehat dapat meninggalkan bekas emosional.
Faktor lain adalah perasaan harga diri yang rendah. Ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup layak dicintai, ia cenderung sulit mempercayai bahwa pasangannya benar-benar tulus.
Selain itu, gaya keterikatan (attachment style) juga berperan. Individu dengan anxious attachment cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sikap pasangan dan lebih mudah merasa terancam.
Di era digital, media sosial juga ikut memperbesar kecemasan.
Membandingkan hubungan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial bisa memperkuat rasa tidak aman dan keraguan yang sebenarnya tidak berdasar.
Dampaknya pada hubungan
Jika dibiarkan, relationship anxiety dapat menguras energi emosional dan memengaruhi kualitas hubungan.
Komunikasi bisa menjadi tidak sehat, hubungan terasa melelahkan, dan kedekatan emosional justru menurun.
Pasangan pun bisa merasa tertekan karena harus terus meyakinkan atau membuktikan perasaannya.
Padahal, hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman dan kepercayaan, bukan kepastian yang diminta berulang-ulang.
Baca juga: Supaya Hubungan Menjadi Sehat, Kenali Teori Secure Attachment Style
Cara mengelola relationship anxiety
Mengelola relationship anxiety bukan berarti menekan perasaan cemas, melainkan memahami dan meresponsnya dengan lebih sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
-
Mengenali pola pikiran sendiri
Sadari kapan pikiran mulai dipenuhi asumsi negatif tanpa bukti nyata.
Fokus pada realitas, bukan skenario terburuk. Bedakan antara fakta dan ketakutan.
-
Menjaga identitas diri
Memiliki kehidupan, minat, dan tujuan pribadi di luar hubungan membantu membangun rasa aman.
-
Komunikasi terbuka
Membicarakan perasaan dengan pasangan secara jujur, tanpa menyalahkan, dapat memperkuat kepercayaan.
-
Mencari bantuan profesional
Jika kecemasan terasa berlebihan dan mengganggu keseharian, berkonsultasi dengan psikolog bisa menjadi langkah bijak.
Relationship anxiety bukan tanda bahwa hubungan pasti bermasalah atau cinta tidak cukup kuat.
Dalam banyak kasus, kecemasan justru mencerminkan keinginan untuk mempertahankan hubungan.
Dengan pemahaman dan pendekatan yang tepat, rasa cemas ini dapat dikelola sehingga hubungan menjadi lebih sehat dan menenangkan.
Tag: #sering #meragukan #perasaan #pasangan #kenali #relationship #anxiety