Tur Operator Rugi Imbas Penutupan Akses ke TN Komodo Secara Beruntun
Kapal wisata sedang berlabuh di perairan Labuan Bajo(Kompas.com/nansianustaris)
17:07
31 Januari 2026

Tur Operator Rugi Imbas Penutupan Akses ke TN Komodo Secara Beruntun

– Rangkaian penutupan akses wisata ke Taman Nasional (TN) Komodo sejak akhir Desember 2025 membuat para pelaku usaha perjalanan wisata di Labuan Bajo menanggung kerugian besar.

Penutupan yang dilakukan KSOP Labuan Bajo pascainsiden tenggelamnya kapal KM Putri Sakinah pada 26 Desember 2025 itu dinilai menyebabkan tingginya pembatalan trip hingga polemik pengembalian dana (refund) kepada wisatawan.

Sejak insiden tersebut, Kompas.com mencatat KSOP Labuan Bajo telah mengeluarkan delapan kali maklumat penutupan pelayaran wisata.

Baca juga: Wisata ke TN Komodo Ditutup Hampir Sebulan, Masalah Bermunculan

Dimulai dari

  • 29 Desember 2025,
  • kemudian beruntun pada 2–6 Januari, 5–8 Januari, 12–15 Januari, 14–20 Januari, 20–27 Januari, 27–29 Januari,
  • hingga yang terbaru 29 Januari sampai 1 Februari 2026.

Semua penutupan diberlakukan karena potensi cuaca buruk, khususnya angin kencang dan gelombang tinggi di kawasan TN Komodo.

Trip dibatal­kan, refund kacau, tur operator rugi

Ketua ASITA NTT, Oyan Kristian, mengungkapkan bahwa rentetan penutupan sejak Desember hingga Januari membuat banyak paket perjalanan yang sudah dipesan wisatawan terpaksa dibatalkan.

“Terjadi banyak permasalahan soal proses refund. Tidak ada keseragaman aturan yang ditetapkan booth operator, tour operator, hingga hotel terkait pengembalian uang tamu,” ujar Oyan, Jumat (30/1/2026).

Baca juga: Mesti Sabar Kalau Mau ke TN Komodo, Penutupan Diperpanjang sampai 1 Februari karena Alasan Ini

Menurutnya, beberapa operator kapal bersedia mengembalikan dana 100 persen karena situasinya force majeure akibat larangan berlayar dari syahbandar.

Namun sebagian lainnya menolak karena biaya operasional sudah terlanjur dikeluarkan, seperti pembelian logistik, BBM, hingga biaya izin pelayaran.

Di sisi lain, sejumlah tour operator menawarkan solusi berupa floating deposit untuk digunakan pada reservasi berikutnya. Namun banyak tamu menolak karena belum tentu dapat kembali ke Labuan Bajo dalam waktu dekat.

Hotel tidak refund, tamu kecewa

Masalah turut muncul di sektor perhotelan. Oyan menjelaskan bahwa sebagian hotel tidak dapat memberikan refund karena penerbangan menuju Labuan Bajo tetap beroperasi. Artinya, tamu masih bisa datang dan menginap sesuai jadwal.

“Persoalannya, wisatawan datang bukan hanya untuk tidur di hotel, tetapi untuk beraktivitas di perairan TN Komodo. Akhirnya terjadi ketidaksamaan posisi antara hotel dan operator kapal yang justru memicu masalah baru,” katanya.

Dampak ekonomi mulai terasa

Larangan pelayaran ke TN Komodo disebut Oyan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal.

Ilustrasi komodo, spesies hewan endemik IndonesiaDok. Shutterstock/Sergey Uryadnikov Ilustrasi komodo, spesies hewan endemik Indonesia

Banyak warga yang menggantungkan pendapatan pada sektor wisata, mulai dari pemilik kapal, pemandu wisata, kuliner, hingga UMKM pendukung.

“Dengan adanya pembatalan trip, ekonomi masyarakat NTT, khususnya Labuan Bajo, ikut terpukul,” tegasnya.

ASITA minta penutupan ditinjau, usul buka parsial

ASITA NTT meminta KSOP dan pihak terkait untuk meninjau kebijakan penutupan total. Menurut Oyan, pembukaan akses secara parsial dapat menjadi solusi agar aktivitas wisata tidak benar-benar mati.

Ia mengusulkan agar destinasi yang berjarak jauh seperti Pulau Padar atau Komodo tetap ditutup jika cuaca berbahaya, tetapi spot yang lebih dekat dan relatif aman bisa dibuka.

Baca juga: Pembatasan Kuota 1.000 Turis ke TN Komodo Diuji Coba Januari 2026

“Misalnya melihat komodo di Rinca, atau snorkeling di area dekat Labuan Bajo seperti Pulau Seraya dan sekitarnya. Yang penting tetap aman,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa keselamatan wisatawan adalah prioritas utama, namun diharapkan kebijakan dapat mempertimbangkan aspek ekonomi masyarakat.

Tag:  #operator #rugi #imbas #penutupan #akses #komodo #secara #beruntun

KOMENTAR