Menanti Arah BI Rate 2026 di Tengah Dinamika Global
Kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate atau BI7DRR) memasuki 2026 dengan dua narasi yang berjalan beriringan.
Di satu sisi, ruang pelonggaran BI Rate masih disebut terbuka. Di sisi lain, waktu dan besarnya pemangkasan disebut akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, dinamika inflasi, serta arah kebijakan suku bunga global, terutama Amerika Serikat (AS).
Pada penghujung 2025, BI menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen. BI menegaskan pertimbangan stabilitas dan prospek inflasi yang dinilai tetap berada dalam sasaran, sembari menjaga dukungan terhadap pertumbuhan.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI November 2025 lalu, Gubernur Perry Warjiyo menyatakan, bank sentral akan terus mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut.
"Dengan prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta perlunya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," tutur Perry.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi juga menjadi latar penting.
Dalam RDG BI Desember 2025, BI menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 diperkirakan pada kisaran 4,7 sampai 5,5 persen dan meningkat menjadi 4,9 sampai 5,7 persen pada 2026.
Dari titik inilah, berbagai “ramalan” bermunculan, mulai dari proyeksi pelonggaran kebijakan moneter yang agresif hingga yang lebih berhati-hati, dengan benang merah yang sama, yaitu BI dinilai akan tetap menempatkan stabilitas rupiah sebagai prasyarat.
Sinyal BI: “Masih ada ruang”, tetapi dievaluasi bulan ke bulan
Ilustrasi Bank Indonesia
Kepastian arah 2026 memang belum ditetapkan dalam angka, tetapi BI secara eksplisit memberi sinyal bahwa pemangkasan suku bunga tetap mungkin dilakukan.
Pada RDG Desember 2025, Perry menyebut dasar pertimbangan ruang penurunan BI Rate ke depan adalah proyeksi inflasi yang tetap rendah dan terkendali, serta kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bersama pemerintah dan berbagai pihak.
Namun, ia menekankan keputusan akan dilakukan hati-hati, karena “besarnya berapa, waktunya kapan” akan dievaluasi dari RDG ke RDG.
Pernyataan itu sejalan dengan pesan BI bahwa instrumen kebijakan 2026 tidak hanya soal suku bunga, tetapi juga stabilisasi rupiah dan pengelolaan likuiditas.
Perry menyebut penurunan maupun waktunya akan dievaluasi dari bulan ke bulan, dengan asesmen mencakup inflasi, pertumbuhan, stabilitas nilai tukar, dan kondisi moneter lainnya.
Pada tahap ini, pesan BI yang muncul adalah, pintu pelonggaran tidak tertutup, tetapi tidak otomatis.
Proyeksi BI Rate 2026 dari perbankan
Dari sisi pelaku pasar dan ekonom perbankan, prediksi yang banyak diutarakan adalah kemungkinan pemangkasan BI Rate bertahap sepanjang 2026.
Head of Macroeconomics and Financial Market Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Dian Ayu Yustina memproyeksikan BI berpotensi menurunkan suku bunga acuan BI Rate dua kali atau total 50 basis poin (bps) pada 2026.
Dalam laporan Mandiri Macro and Market Brief, Dian menyoroti keseimbangan fokus BI antara stabilitas nilai tukar dan dorongan pertumbuhan, serta perlunya mencermati dampak dinamika global terhadap rupiah.
“Perkembangan tersebut perlu dicermati karena berdampak pada rupiah,” kata Dian, dikutip Kontan.
Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.
Jika skenario ini terjadi, maka pelonggaran berjalan moderat, bukan turun cepat, namun cukup untuk menambah dorongan moneter saat inflasi tetap terkendali.
Di sisi yang lebih agresif, proyeksi PT Bank HSBC Indonesia menempatkan peluang penurunan BI Rate lebih besar.
HSBC memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter berlanjut pada 2026.
Pranjul Bhandari, Chief India Economist and Macro Strategist serta ASEAN Economist HSBC, memperkirakan BI dapat menurunkan suku bunga total 75 bps menjadi 4 persen, dilakukan bertahap tiga kali dari kuartal I hingga kuartal III 2026.
"Selama setahun, dalam periode 12 bulan, kita masih bisa melihat tiga kali lagi penurunan suku bunga pada tahun 2026,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Namun, HSBC juga menggarisbawahi syarat penting, yakni momentum pemangkasan BI Rate dinilai sangat bergantung pada kondisi dollar AS dan ruang pergerakan rupiah.
“Pemangkasan suku bunga pada tahun 2026 akan bersifat oportunistik. Bank Indonesia akan mencari peluang ketika dollar terlihat sedikit lemah dan ada ruang untuk memangkas suku bunga,” kata Bhandari.
Bila diurutkan, ini menempatkan variabel eksternal, terutama kekuatan dollar AS dan volatilitas global, sebagai “gerbang” sebelum BI masuk ke fase pemangkasan suku bunga acuan lanjutan.
Mengapa rupiah dan arus modal jadi faktor sensitif?
Alasan “kehati-hatian” itu kerap kembali pada dua kata kunci, yaitu nilai tukar rupiah dan arus modal.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai BI perlu menahan suku bunga pada saat rupiah bergerak fluktuatif.
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro ketika ditemui di Jakarta, Kamis (13/3/2025).
"Risiko capital outflow (arus modal asing keluar) dan pelemahan rupiah masih cukup besar. BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar di samping juga konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Andry, dikutip dari Antara.
Sementara itu, dalam RDG BI Desember 2025, Perry menyebut langkah stabilisasi rupiah ditempuh melalui intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, pasar valas domestik (tunai dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Rangkaian kebijakan ini memperlihatkan bahwa penurunan suku bunga, jika terjadi, akan dibaca pasar bersama dengan paket stabilisasi rupiah, bukan berdiri sendiri.
Latar global: ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed dan pengaruhnya ke BI Rate
Variabel lain yang berkali-kali muncul dalam proyeksi BI Rate 2026 adalah arah suku bunga AS, karena berpengaruh ke dollar AS dan aliran portofolio.
Tahun lalu, BI menilai ruang pelonggaran ditopang ekspektasi inflasi yang rendah hingga 2026 dan stabilitas rupiah, di tengah pertumbuhan ekonomi global yang melambat.
Rentang proyeksi yang sering muncul untuk BI Rate 2026 berada pada spektrum turun terbatas, yakni 25 sampai 50 bps hingga turun lebih dalam, yakni 75 bps, dengan catatan inflasi tetap rendah dan rupiah stabil.
Perbedaan angka proyeksi ini mencerminkan perbedaan asumsi, yaitu seberapa cepat volatilitas global mereda, seberapa kuat rupiah bertahan, dan bagaimana jalur suku bunga global terbentuk pada 2026.
Yang dipantau sepanjang 2026: inflasi, pertumbuhan, stabilitas rupiah, dan likuiditas
Perry menegaskan BI akan menilai dari sisi inflasi, pertumbuhan, stabilitas nilai tukar, dan kondisi moneter lain.
Bank sentral menautkan keputusan suku bunga dengan konsistensi menjaga inflasi tetap rendah dalam sasaran dan menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Di titik ini, berbagai “ramalan” BI Rate 2026 bergerak mengikuti kerangka yang sama: seberapa besar ruang kebijakan bisa dibuka tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar, dan bagaimana BI memanfaatkan momentum ketika kondisi eksternal memberi “celah”.