2025, Produksi Daging Sapi–Kerbau 515.597 Ton, Konsumsi 787.415 Ton
Ilustrasi daging sapi. (UNSPLASH/DAVID FOODPHOTOTASTY)
12:20
13 Januari 2026

2025, Produksi Daging Sapi–Kerbau 515.597 Ton, Konsumsi 787.415 Ton

— Kinerja subsektor peternakan sepanjang 2025 memperlihatkan fase pemulihan setelah kontraksi tajam pada 2023.

Hal itu tercermin pada data produksi dan konsumsi daging sapi dan kerbau yang menjadi dua komoditas utama protein hewani berbasis ruminansia di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Peternakan dalam Angka 2025 melaporkan bahwa dinamika produksi daging sapi dan kerbau sangat berkaitan dengan perubahan populasi ternak dalam beberapa tahun terakhir.

Ilustrasi daging sapi. UNSPLASH/SERGEY KOTENEV Ilustrasi daging sapi.

Setelah populasi sapi potong di Indonesia anjlok 38,48 persen pada 2023, jumlah ternak mulai pulih pada 2024 dan berlanjut pada 2025, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 22,53 persen dan 2,12 persen.

Pemulihan ini menjadi basis utama peningkatan kembali kapasitas produksi daging nasional pada 2025.

Produksi daging sapi dan kerbau 2025

BPS mencatat produksi daging sapi dan kerbau 2025 tersebar tidak merata antarwilayah. Pulau Jawa tetap menjadi kontributor terbesar terhadap total produksi nasional, sejalan dengan posisinya sebagai sentra utama populasi sapi potong.

Pada tingkat provinsi, sentra produksi daging sapi dan kerbau sangat berkorelasi dengan daerah yang memiliki populasi ternak terbesar.

Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat berada di kelompok teratas, diikuti provinsi-provinsi di Nusa Tenggara dan Sumatera.

Ilustrasi daging sapi. SHUTTERSTOCK/K_SAMURKAS Ilustrasi daging sapi.

Dalam publikasi tersebut dijelaskan bahwa Pulau Jawa pada 2025 menjadi kawasan dengan produksi daging sapi dan kerbau terbesar di Indonesia, didukung oleh populasi sapi potong yang mencapai 5,60 juta ekor.

Sementara itu, kawasan Bali dan Nusa Tenggara, meskipun secara geografis lebih kecil, memiliki peran penting karena menjadi salah satu lumbung ternak nasional, khususnya Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Provinsi-provinsi ini juga menjadi pemasok utama sapi bakalan dan sapi siap potong ke wilayah konsumsi besar seperti Jawa.

Secara spesifik, BPS melaporkan produksi daging sapi dan kerbau nasional pada 2025 mencapai 515.597 ton, naik dibandingkan 488.217 ton pada 2024.

Kenaikan produksi tersebut terutama ditopang oleh wilayah Pulau Jawa yang tetap menjadi pusat utama industri daging sapi nasional.

Sepanjang 2025, Jawa memproduksi 304.231 ton daging sapi dan kerbau, meningkat dari 291.645 ton pada 2024. Dengan angka itu, Jawa menyumbang hampir 60 persen dari total produksi nasional.

Di luar Jawa, Sumatera menghasilkan 122.607 ton, naik dari 114.794 ton pada 2024. Sulawesi juga mencatat peningkatan dari 34.938 ton menjadi 35.860 ton, sementara Bali dan Nusa Tenggara naik dari 22.705 ton menjadi 26.930 ton.

Kalimantan memproduksi 20.105 ton dan Maluku–Papua sebesar 5.864 ton pada 2025.

Pada tingkat provinsi, Jawa Timur menjadi produsen terbesar daging sapi dan kerbau nasional dengan produksi 100.875 ton pada 2025, naik dari 89.902 ton setahun sebelumnya. Diikuti Jawa Tengah dengan 81.831 ton dan Jawa Barat sebesar 80.729 ton.

Di luar Jawa, Lampung memproduksi 18.523 ton, Sumatera Utara 23.622 ton, dan Sulawesi Selatan 18.364 ton.

Konsumsi daging sapi dan kerbau 2025

Ilustrasi daging kerbau.FREEPIK/LIFEFORSTOCK Ilustrasi daging kerbau.

Di sisi permintaan, BPS mencatat konsumsi daging sapi dan kerbau pada 2025 masih terkonsentrasi di wilayah dengan jumlah penduduk besar dan tingkat urbanisasi tinggi.

Pulau Jawa menjadi pusat konsumsi terbesar secara nasional. BPS menegaskan bahwa konsumsi daging sapi dan kerbau tertinggi secara absolut berada di Pulau Jawa, sejalan dengan konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi.

Di dalam Jawa, provinsi-provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta menjadi pasar utama daging sapi dan kerbau, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun sektor jasa makanan.

Selain Jawa, Sumatera juga menyumbang porsi konsumsi yang signifikan, terutama di provinsi-provinsi dengan populasi besar seperti Sumatera Utara dan Lampung.

Sementara itu, konsumsi di kawasan timur Indonesia relatif lebih kecil secara volume, meskipun beberapa provinsi seperti Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan peran penting sebagai daerah produsen sekaligus konsumen.

Secara spesifik, BPS mencatat bahwa total konsumsi daging sapi dan kerbau nasional pada 2025 mencapai 787.415 ton, meningkat dari 759.668 ton pada 2024. Angka ini merupakan gabungan konsumsi rumah tangga dan nonrumah tangga.

Pulau Jawa kembali menjadi pasar utama. Sepanjang 2025, konsumsi daging sapi dan kerbau di Jawa mencapai 547.189 ton, naik dari 542.323 ton pada 2024. Angka ini setara dengan sekitar 70 persen dari total konsumsi nasional.

Di luar Jawa, Sumatera mengonsumsi 107.955 ton, Sulawesi 35.478 ton, Kalimantan 34.497 ton, Bali dan Nusa Tenggara 48.002 ton, serta Maluku dan Papua 9.574 ton.

Pada tingkat provinsi, Jawa Barat menjadi wilayah dengan konsumsi tertinggi, yakni 178.105 ton pada 2025, naik dari 173.003 ton pada 2024.

Ilustrasi daging sapi. FREEPIK/MDJAFF Ilustrasi daging sapi.

Jawa Timur mencatat konsumsi 147.700 ton, sementara Jawa Tengah sebesar 99.255 ton. DKI Jakarta mengonsumsi 68.050 ton, sedangkan Banten sebesar 42.544 ton.

Di luar Jawa, Sumatera Utara mengonsumsi 12.074 ton, Lampung 26.492 ton, dan Sulawesi Selatan 27.006 ton. Di kawasan timur, Nusa Tenggara Timur mencatat konsumsi 11.176 ton, sedangkan Papua Tengah 1.131 ton.

Konsumsi daging sapi dan kerbau per kapita

Dalam ukuran per kapita, BPS mencatat bahwa konsumsi daging sapi dan kerbau nasional pada 2025 masih berada pada tingkat yang relatif moderat.

Ketimpangan antarwilayah terlihat jelas, dengan wilayah perkotaan dan pusat ekonomi mencatat konsumsi per kapita yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan dan daerah tertinggal.

BPS melaporkan, Secara nasional, konsumsi daging sapi dan kerbau per kapita pada 2025 tercatat 2,77 kilogram per orang per tahun, naik dari 2,70 kilogram pada 2024.

Konsumsi per kapita tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Barat, yang mencapai 4,65 kg per kapita per tahun, disusul DI Yogyakarta 3,05 kg, Jawa Barat 3,51 kg, dan Jawa Timur 3,05 kg.

Sebaliknya, sejumlah provinsi di Maluku dan Papua masih mencatat konsumsi di bawah 1 kg per kapita, seperti Papua Pegunungan (0,75 kg) dan Maluku (0,91 kg).

Keterkaitan produksi dan konsumsi

BPS menegaskan bahwa data produksi dan konsumsi harus dibaca secara terintegrasi dengan data populasi ternak, distribusi wilayah, serta perdagangan antarprovinsi.

Hal ini karena sebagian besar produksi daging berasal dari wilayah sentra ternak, sementara konsumsi terbesar berada di wilayah padat penduduk yang tidak selalu menjadi sentra produksi.

ilustrasi daging sapi. shutterstock/Alexander Raths ilustrasi daging sapi.

Dalam konteks 2025, pola ini masih sangat terlihat. Daerah-daerah produsen utama seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan berperan sebagai pemasok, sedangkan Jawa Barat, DKI Jakarta, dan provinsi metropolitan lainnya menjadi pasar konsumsi utama.

Produksi dan konsumsi belum seimbang

Perbandingan antara produksi nasional sebesar 515.597 ton dan konsumsi 787.415 ton menunjukkan bahwa kebutuhan daging sapi dan kerbau Indonesia pada 2025 masih jauh lebih besar dibandingkan pasokan dari produksi domestik.

Selisih ini menjadi dasar perlunya pasokan dari luar daerah produksi maupun melalui mekanisme impor dan distribusi antarwilayah.

Kondisi tersebut juga terlihat pada tingkat regional. Jawa sebagai pusat konsumsi (547.189 ton) memproduksi 304.231 ton, sedangkan daerah produsen seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera menjadi penyangga pasokan bagi wilayah dengan permintaan besar, terutama Jawa dan kawasan perkotaan.

Tag:  #2025 #produksi #daging #sapikerbau #515597 #konsumsi #787415

KOMENTAR