Tekanan Politik ke The Fed Guncang Pasar, Emas dan Perak Sentuh Rekor
Gejolak kembali mengguncang pasar keuangan global setelah Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengonfirmasi bahwa dirinya tengah diselidiki oleh Jaksa AS.
Penyelidikan ini terkait kesaksian yang ia sampaikan di hadapan Senat AS pada Juni 2025 lalu mengenai proyek renovasi gedung-gedung The Fed.
Pengungkapan itu, yang pertama kali dilaporkan The New York Times, segera memicu reaksi keras di pasar, memicu aksi jual di bursa saham dan mendorong lonjakan tajam harga aset safe haven seperti emas dan perak.
Gubernur dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Kontrak berjangka ekuitas Amerika Serikat anjlok tajam pada Minggu (11/1/2026) malam waktu setempat.
Kontrak berjangka Nasdaq 100 memimpin penurunan dengan koreksi sekitar 0,8 persen, mencerminkan tekanan yang sangat besar pada saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 0,5 persen, sementara kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average melemah sekitar 0,4 persen berdasarkan harga perdagangan larut malam.
Pelemahan pasar saham terjadi seiring investor mencoba mencerna implikasi politik dan moneter dari penyelidikan terhadap Powell.
Isu tersebut bukan sekadar persoalan hukum personal, tetapi dinilai pasar berpotensi mengancam salah satu fondasi terpenting sistem keuangan AS, yakni independensi bank sentral.
Selama bertahun-tahun, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik dan menekan Federal Reserve agar memangkas suku bunga lebih agresif. Namun, selama periode tersebut Powell sebagian besar memilih tetap diam dan menjaga jarak dari konfrontasi langsung.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menggelar konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela, di kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Negara Bagian Florida, 3 Januari 2026.
Situasi berubah drastis setelah muncul ancaman penyelidikan pidana yang kini menyeret namanya.
Dalam pernyataan tertulis, Powell menegaskan bahwa meskipun ia menghormati supremasi hukum, tindakan yang diarahkan kepadanya harus dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Ia menulis bahwa meskipun, “Tidak seorang pun, tentu saja bukan ketua Federal Reserve, berada di atas hukum,” serangan yang kini dihadapinya perlu dipahami dalam “konteks yang lebih luas dari ancaman dan tekanan berkelanjutan pemerintah.”
Powell juga secara eksplisit menolak anggapan bahwa penyelidikan tersebut murni terkait dengan kesaksiannya atau proyek renovasi gedung bank sentral.
“Ancaman baru ini bukan tentang kesaksian saya Juni lalu atau tentang renovasi gedung Federal Reserve. Itu hanyalah dalih. Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang akan melayani publik, daripada mengikuti preferensi Presiden,” tulis Powell.
Pernyataan itu secara langsung mengaitkan eskalasi tekanan hukum dengan kebijakan moneter The Fed, yang selama ini berusaha menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja melalui pendekatan berbasis data, bukan tekanan politik.
Investor beralih ke safe haven
Kegelisahan pasar segera tercermin dalam pergerakan aset-aset perlindungan nilai. Kontrak berjangka emas melonjak 1,7 persen menjadi sekitar 4.578 dollar AS per ons.
Perak bahkan naik lebih tajam, melonjak lebih dari 4 persen, mencerminkan derasnya arus dana yang mencari perlindungan dari ketidakpastian politik dan moneter.
Di pasar valuta asing, dollar AS sedikit melemah terhadap beberapa mata uang utama, termasuk franc Swiss dan yen Jepang, dua mata uang yang secara tradisional juga dipandang sebagai safe haven.
Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia
Lonjakan harga logam mulia terjadi di tengah kekhawatiran bahwa konflik antara Gedung Putih dan The Fed dapat berubah dari sekadar retorika menjadi intervensi nyata terhadap kebijakan moneter.
Bagi investor global, risiko tersebut berarti potensi meningkatnya inflasi jangka panjang, volatilitas suku bunga, serta ketidakstabilan nilai tukar.
Para ekonom pun mulai mengingatkan bahwa apa yang sedang terjadi bisa menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya” (self-fulfilling prophecy) terkait inflasi yang lebih tinggi di masa depan.
Jika pasar meyakini bahwa The Fed kehilangan independensinya, ekspektasi inflasi dapat melonjak, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pinjaman, yang pada akhirnya benar-benar memicu tekanan harga.
Dikutip dari Fortune, Oxford Economics, dalam analisisnya, menyebut bahwa setiap celah dalam independensi The Fed dapat menyebar dengan cepat ke seluruh sistem keuangan.
Seperti dicatat lembaga tersebut, setiap tanda bahwa bank sentral tidak lagi bebas dari tekanan politik dapat mendorong investor menuntut premi risiko yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya “meningkatkan biaya pinjaman bagi bisnis yang ingin dilindungi pemerintah dengan suku bunga rendah.”
Peringatan dari perbankan global
Kekhawatiran serupa juga datang dari kalangan perbankan internasional. Dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada Juli lalu, ketika Trump secara terbuka mengancam akan memecat Powell, Deutsche Bank telah memperingatkan bahwa langkah semacam itu dapat memicu gangguan pasar yang parah.
Gubernur dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
“Baik pasar mata uang maupun pasar obligasi dapat runtuh,” tulis Deutsche Bank dalam catatan tersebut, seraya mengutip meningkatnya risiko inflasi dan ketidakstabilan keuangan.
Bank tersebut juga menekankan bahwa “bukti empiris dan akademis tentang dampak hilangnya independensi bank sentral cukup jelas,” rujukan pada berbagai studi yang menunjukkan bahwa bank sentral yang dikendalikan politik cenderung menghasilkan inflasi lebih tinggi dan volatilitas makroekonomi yang lebih besar.
Dari AS sendiri, peringatan keras juga datang dari para eksekutif perbankan. Brian Moynihan, CEO Bank of America, baru-baru ini menyatakan bahwa pasar tidak akan memaafkan jika independensi Federal Reserve terkikis.
“Pasar akan menghukum orang jika kita tidak memiliki Fed yang independen,” kata Moynihan.
Perak menjadi sorotan
Di tengah gejolak tersebut, pasar perak menjadi salah satu titik fokus utama.
Menurut laporan dari Livemint, harga perak di bursa COMEX diperdagangkan stabil di dekat level 83 dollar AS per ons, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Ponmudi R, CEO Enrich Money, mengatakan bahwa perak tetap berada jauh di atas rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah setelah terobosan yang menentukan dari fase konsolidasi.
“Momentum terus didorong oleh pembeli, didukung oleh meningkatnya permintaan industri dari sektor energi surya, kendaraan listrik, AI, dan elektronik, bersamaan dengan aliran dana ke aset aman yang berkelanjutan,” kata Ponmudi.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun zona harga perak 83 dollar AS per ons berpotensi mengalami aksi ambil untung secara berkala, struktur pasar masih sangat kuat.
“Meskipun zona 83 dollar AS mungkin mengalami aksi ambil untung secara berkala, terobosan yang jelas di atas 85 dollar As dapat memicu kenaikan (harga perak) selanjutnya menuju 90 sampai 95 dollar AS. Permintaan yang kuat mendukung zona 78 sampai 80 dollar AS sebagai basis dukungan yang solid,” tambahnya.
Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak naik lebih dari 6,5 persen pada Jumat (9/1/2026) dan kembali menembus angka 80 dollar AS. Lonjakan ini terjadi setelah sebelumnya harga sempat turun cukup dalam dalam beberapa hari terakhir.
Kombinasi antara permintaan industri yang kuat dan peran perak sebagai aset safe haven membuat logam ini mendapat perhatian besar dari investor global, terutama di saat ketidakpastian politik dan moneter meningkat.
Faktor geopolitik dan moneter
Lonjakan harga perak dan emas tidak hanya dipicu oleh isu Federal Reserve, tetapi juga oleh perkembangan geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat yang melemah.
Menurut Ajay Kedia, Direktur Kedia Advisory, meningkatnya ketegangan global memperkuat daya tarik logam mulia sebagai perlindungan nilai.
Ia menyoroti situasi di Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama. Protes nasional yang terus berlanjut di Iran, yang dilaporkan menimbulkan banyak korban jiwa, membuat pasar tetap waspada.
“Retorika keras yang dipertukarkan antara pejabat AS dan Iran menambah ketegangan. Perkembangan ini meningkatkan permintaan logam mulia sebagai aset safe haven tradisional,” kata Kedia.
Di sisi lain, data ekonomi AS juga memberikan dukungan bagi harga emas dan perak. Pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan dalam laporan penggajian terbaru memperkuat spekulasi bahwa The Fed dapat menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini.
Meskipun The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam jangka pendek, ekspektasi pelonggaran moneter di masa depan tetap menjadi faktor pendukung utama bagi harga logam mulia.
Selain itu, dollar AS melemah setelah reli singkat. Pelemahan tersebut terjadi karena investor bereaksi terhadap meningkatnya ketidakpastian seputar independensi The Fed serta sinyal ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan.
Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve
Dollar AS yang lemah mendukung harga emas dan perak. Pasalnya, logam mulia yang diperdagangkan dalam dollar AS menjadi lebih murah bagi investor global.
Pasar di tengah persimpangan politik dan ekonomi
Perkembangan terbaru menempatkan pasar global pada persimpangan yang sensitif antara politik dan ekonomi. Di satu sisi, investor memantau setiap sinyal mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama terkait potensi penurunan suku bunga.
Di sisi lain, mereka juga harus memperhitungkan risiko bahwa lembaga paling berpengaruh di dunia dalam hal kebijakan uang dapat terjebak dalam konflik politik yang berkepanjangan.
Reaksi cepat di pasar saham, mata uang, dan komoditas mencerminkan betapa besar sensitivitas sistem keuangan global terhadap isu independensi The Fed.
Dari Wall Street hingga pasar komoditas di Asia, isu yang berpusat pada Washington DC kini bergaung luas, memengaruhi keputusan investasi di berbagai belahan dunia.
Dalam situasi seperti ini, aset-aset yang dianggap aman seperti emas, perak, franc Swiss, dan yen Jepang, kembali memainkan peran klasiknya sebagai tempat berlindung ketika kepercayaan terhadap stabilitas institusional terguncang.
Tag: #tekanan #politik #guncang #pasar #emas #perak #sentuh #rekor