Jika Kerja di Jakarta, Lebih Untung Tinggal Dekat KRL Depok atau Pusat Kota?
– Bagi pekerja kantoran di Jakarta, memilih tempat tinggal kerap menjadi dilema antara hunian yang dekat dengan pusat aktivitas kota atau yang berada di kawasan penyangga seperti Depok, khususnya yang terhubung langsung dengan moda transportasi massal seperti KRL Commuter Line.
Menurut Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, faktor harga, waktu tempuh, hingga kualitas hidup menjadi pertimbangan utama masyarakat pekerja perkantoran ibu kota dalam memilih hunian.
“Banyak pertimbangan ya ini, kalau untuk memilih tempat tinggal. Jadi mungkin bisa lebih melakukan pertimbangan-pertimbangan,” kata Ferry secara virtual, Rabu (7/1/2026).
Dia mengatakan bahwa pilihan antara tinggal di dekat KRL Depok atau di apartemen pusat kota tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan dan kemampuan masing-masing pekerja.
Menurutnya, ada banyak variabel yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan. Dari sisi harga, Ferry menegaskan bahwa apartemen di pusat kota Jakarta dan apartemen di kawasan Depok memiliki perbedaan yang cukup jauh.
“Kalau kita bandingkan apartemen di Depok dengan di pusat kota, kisaran harganya udah enggak bisa dibandingkan gitu ya,” jelas Ferry.
Dengan luasan unit yang relatif sama, harga apartemen di pusat kota bisa berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan hunian yang berada di sekitar stasiun KRL di Depok.
Hal ini membuat kawasan penyangga menjadi opsi yang lebih realistis bagi pekerja dengan anggaran terbatas.
Jarak vs harga properti
Namun, harga bukan satu-satunya faktor penentu. Tinggal di pusat kota menawarkan keuntungan berupa jarak yang lebih dekat ke kantor, sehingga waktu perjalanan bisa ditekan dan kualitas hidup berpotensi meningkat karena berkurangnya waktu di perjalanan.
Di sisi lain, biaya hidup yang lebih tinggi dan harga properti yang mahal menjadi konsekuensi yang harus diterima. Sementara itu, memilih hunian di Depok yang dekat dengan KRL tentu harganya yang lebih terjangkau dan akses transportasi yang memadai.
“Kalau misalnya dengan unit yang yang sama, dan ukuran yang sama, dengan lokasi yang berbeda itu, gimana kira-kira perbedaan harganya, itu juga menjadi pertimbangan,” tegas dia.
Menimbang apartemen TOD
Dengan memanfaatkan KRL, pekerja masih bisa menjangkau pusat bisnis Jakarta dengan waktu tempuh yang relatif konsisten, meski harus menghadapi kepadatan penumpang pada jam sibuk.
Di sisi lain, Colliers menilai bahwa apartemen dengan konsep Transit-Oriented Development (TOD) masih diminati namun jumlahnya tidak signifikan. Ferry bilang, untuk pembangunan baru, diperkirakan tidak terlalu banyak di tahun 2026.
“Ya mungkin ada, tapi memang mungkin kayak TOD-MRT yang sudah existing, itu ada pertambahan. Kalau (ditanya) apakah jadi melonjak, nggak juga,” ujar Ferry.
Ferry menilai bahwa apartemen dengan konsep TOD memiliki nilai investasi yang tidak sedikit. Di sisi lain demand masyarakat saat ini belum dapat terukur dengan jelas.
“Jadi demannya masih belum tertakar, apalagi kalau kita bicara TOD itu kan investasi yang cukup besar juga. Belum terlihat apakah ada benar-benar signifikan increment atau signifikan additional demand buat apartemen dekat TOD, dan sektor ini masih lemah,” tegasnya.
Tag: #jika #kerja #jakarta #lebih #untung #tinggal #dekat #depok #atau #pusat #kota