CSIS Nilai Dampak Konflik AS Vs Venezuela ke Indonesia Masih Terbatas, Waspadai Risiko Energi Global
- Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela terhadap Indonesia hingga saat ini masih relatif minim, baik terhadap pasar keuangan maupun pergerakan harga komoditas.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan, meski begitu ia mengingatkan risiko geopolitik tetap perlu diwaspadai, terutama jika konflik tersebut berkembang dan melibatkan lebih banyak negara produsen energi sehingga berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
“Tinggal permasalahannya apakah transisi pemerintahan di Venezuela berjalan mulus atau tidak. Yang dikhawatirkan, jika Venezuela kemudian berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat, sementara Iran juga tengah bergejolak, lalu konflik-konflik ini meletup dan menghambat pasokan minyak dunia, itu baru menjadi risiko besar.,” ujar Deni dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Deni mengatakan, risiko utama bukan terletak pada kondisi saat ini, melainkan pada kemungkinan eskalasi konflik yang dapat mengubah tatanan energi global.
Situasi kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan Venezuela untuk memasok 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Washington untuk memperkuat keamanan energinya di tengah dinamika geopolitik global.
Deni menilai konflik AS-Venezuela tidak bisa dilepaskan dari rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China. Venezuela memiliki cadangan minyak dan emas yang besar, yang selama ini menjadi salah satu sumber energi penting bagi China.
“Amerika Serikat mencoba menguasai sumber minyak itu agar pasokan ke China berkurang. Ini bagian dari upaya menyeimbangkan pengaruh China,” jelasnya.
Selain faktor energi, Deni juga menyoroti kepentingan AS dalam mempertahankan dominasi dolar AS melalui sistem petrodolar.
Upaya China, Rusia, dan sejumlah negara lain untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar dinilai menjadi ancaman bagi posisi dolar sebagai mata uang utama dunia.
Sementara bagi Indonesia, dampak lanjutan dari konflik tersebut dinilai bersifat dua arah. Jika pasokan minyak Venezuela ke China terganggu, Indonesia berpotensi terdampak secara tidak langsung mengingat kuatnya keterkaitan ekonomi dengan China.
Namun, di sisi lain kondisi tersebut juga bisa membuka peluang. Jika pasokan ke China berkurang, Negeri Tirai Bambu akan mencari sumber komoditas alternatif, yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap ekspor komoditas Indonesia.
Deni juga mengakui, kenaikan harga minyak global pada dasarnya merugikan Indonesia karena berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak.
Meski demikian, lonjakan harga minyak umumnya diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO), di mana Indonesia memiliki keunggulan.
Untuk menghadapi ketidakpastian global tersebut, Deni menegaskan pentingnya strategi diversifikasi, baik dari sisi pasar ekspor maupun sumber energi.
Diversifikasi pasar dinilai krusial agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu atau dua negara mitra utama.
“Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada China atau Amerika Serikat saja. Masih ada Uni Eropa dan pasar-pasar lain yang perlu terus diperkuat,” pungkasnya.
Tag: #csis #nilai #dampak #konflik #venezuela #indonesia #masih #terbatas #waspadai #risiko #energi #global