Dana Darurat Bukan Uang Dingin: Ini Perbedaan Fungsi dan Risikonya
- Di banyak obrolan soal finansial, istilah uang dingin kerap muncul beriringan dengan dana darurat.
Keduanya terdengar mirip, sama-sama uang yang tidak dipakai untuk belanja harian, tetapi tujuan, cara menyimpan, dan risiko yang boleh ditanggung sebenarnya berbeda.
Perbedaan ini menjadi penting karena salah kaprah biasanya berujung pada dua hal. Pertama, dana darurat diinvestasikan ke aset berisiko sehingga sulit dicairkan saat krisis.
Ilustrasi dana darurat.
Kedua, uang dingin dibiarkan menganggur padahal sebenarnya bisa dialokasikan untuk tujuan jangka panjang.
Di Indonesia, persoalan ini juga terkait kesiapan rumah tangga menghadapi guncangan.
Dikutip dari Antara, perencana keuangan Annisa Steviani menyebut fenomena minimnya dana darurat masih terlihat di masyarakat.
"Perencanaan keuangan dibutuhkan bukan hanya agar kita bisa tenang setelah pensiun nanti tapi tenang selama kita hidup sekarang ini,” kata Annisa.
Definisi dana darurat: “payung” yang harus mudah dibuka kapan saja
Pada dasarnya, dana darurat adalah cadangan kas untuk menutup pengeluaran tak terduga tanpa memaksa orang berutang atau mengorbankan aset penting.
Dikutip dari Investopedia, dana darurat adalah uang yang disisihkan untuk menutupi pengeluaran tak terduga.
Membangun dana darurat memberi Anda jaring pengaman finansial setiap kali Anda menghadapi keadaan yang tak terduga, termasuk pengeluaran sehari-hari setelah kehilangan pekerjaan atau tagihan medis yang tak terduga, dan lain sebagainya.
Ilustrasi dana darurat.
Ukuran idealnya sering diringkas sebagai tiga sampai enam bulan pengeluaran.
Dana darurat sebaiknya disiapkan di tempat yang mudah diakses jika dibutuhkan. Dana darurat tidak boleh digunakan untuk membayar pengeluaran yang tidak penting, tetapi harus diisi kembali setiap kali digunakan.
Definisi uang dingin: “modal tenang” untuk tujuan jangka menengah hingga panjang
Sementara itu, uang dingin adalah dana yang tidak akan dipakai dalam waktu dekat dan tidak mengganggu kebutuhan primer bila nilainya berfluktuasi.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menjelaskan prinsip uang dingin untuk investasi.
“investasi mengunakan uang dingin memberikan rasa aman karena dana yang diinvestasikan tidak mengganggu kebutuhan primer,” tutur Ariston, dikutip dari Kontan.
Intinya, uang dingin adalah dana yang “boleh bekerja”, baik di deposito, obligasi, reksa dana, saham, emas, atau instrumen lain, karena secara perencanaan, kebutuhan hidup harian, cicilan, serta perlindungan dasar termasuk dana darurat sudah ditopang pos lain.
Perbedaan dana darurat dan uang dingin
Berikut perbedaan dana darurat dan uang dingin yang perlu Anda ketahui agar tidak salah kaprah.
1. Tujuan: proteksi vs pertumbuhan
- Dana darurat: tujuan utamanya untuk proteksi (menjaga stabilitas hidup saat ada guncangan).
- Uang dingin: tujuan utamanya bisa pertumbuhan atau pencapaian target (misalnya DP rumah 3 sampai 5 tahun, dana pendidikan, pensiun), tergantung horizon waktu dan toleransi risiko.
Ilustrasi mengatur keuangan.
Karena tujuan berbeda, ukuran keberhasilannya pun berbeda. Dana darurat “berhasil” saat Anda tidak perlu panik ketika krisis terjadi.
Uang dingin “berhasil” saat nilainya bertumbuh sesuai rencana atau setidaknya tidak memaksa Anda menjual rugi untuk kebutuhan mendesak.
2. Akses dan likuiditas: harus instan vs boleh bertahap
Dana darurat idealnya berada di instrumen yang sangat likuid: mudah dicairkan, minim penalti, tidak bergantung jam bursa, dan nilainya relatif stabil.
Uang dingin boleh ditempatkan di instrumen yang likuiditasnya tidak secepat dana darurat, selama sesuai rencana, misal ada potensi turun-naik dan butuh waktu pemulihan.
Cara Anda mencapai tujuan dana darurat dapat bervariasi tergantung pada pendapatan dan anggaran.
Akan tetapi, memulai dengan tujuan kecil yang dapat dicapai dapat membantu Anda membangun dana darurat tanpa merasa terbebani secara finansial.
“Memulai dari yang kecil tidak apa-apa. Hal-hal kecil itu dapat bertambah,” ungkap Jaime Eckles, perencana keuangan bersertifikat dan wealth management leader di Plante Moran Financial Advisors, dikutip dari AP.
Pesan kuncinya adalah, dana darurat harus praktis dulu, baru ideal.
3. Risiko yang boleh ditanggung: rendah vs bisa menengah atau tinggi
Dana darurat tidak dirancang untuk mengejar imbal hasil tinggi. Risiko penurunan nilai atau risiko tidak bisa dicairkan saat dibutuhkan adalah musuh utamanya.
Sementara itu, uang dingin bisa menanggung risiko lebih besar karena Anda tidak bergantung pada dana itu untuk kebutuhan mendesak. Namun, ini hanya benar jika dana darurat dan kebutuhan rutin sudah aman.
Ilustrasi dana darurat.
Oleh karena itu, menaruh dana darurat ke instrumen berfluktuasi berpotensi membuat orang menjual saat harga turun, bukan karena strategi, melainkan karena terpaksa.
4. Cara menghitung: berbasis pengeluaran vs berbasis target
Cara menghitung dana darurat umumnya dihitung dari biaya hidup bulanan, yakni pengeluaran rutin, bukan gaya hidup ideal.
Patokan yang sering dipakai adalah tiga sampai enam bulan pengeluaran, dengan variasi tergantung tanggungan, stabilitas pekerjaan, dan sumber penghasilan.
Uang dingin lebih cocok dihitung dari target finansial dan horizon waktu, misalnya target DP rumah Rp X dalam Y tahun.
Kenapa orang sering tertukar antara dana darurat dan uang dingin?
Berikut beberapa penyebab kenapa pemahaman mengenai dana darurat dan uang dingin sering tertukar.
1. Sama-sama uang menganggur
Secara kasat mata, dana darurat dan uang dingin sama-sama tidak dipakai sekarang. Bedanya, dana darurat memang disengaja menganggur demi kesiapsiagaan.
Uang dingin justru biasanya menganggur karena belum "ditugaskan" untuk kebutuhan dekat, sehingga bisa dialihkan ke instrumen yang produktif.
2. Dorongan mengejar imbal hasil
Saat suku bunga atau return investasi ramai dibicarakan, banyak orang tergoda mengoptimalkan semua saldo mengendap. Di titik ini, dana darurat rawan “dipaksa produktif” pada aset yang tidak sesuai fungsinya.
Ilustrasi dana darurat. Dana darurat adalah simpanan yang digunakan dalam kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau hal mendesak lainnya
Padahal, logika dana darurat mirip premi ketenangan. Anda “membayar” opportunity cost (imbalan tidak maksimal) untuk memperoleh kepastian akses saat keadaan mendesak.
3. Dana darurat dipakai untuk hal yang bukan darurat
Perlu diingat, dana darurat semestinya dipakai untuk kebutuhan tak terduga, bukan pengeluaran non-esensial. Masalahnya, definisi “darurat” sering meluas, mulai dari diskon gadget, liburan mendadak, sampai “talangin” kebutuhan gaya hidup.
Akibatnya, pos yang seharusnya stabil menjadi bolong-bolong. Lalu, ketika kejadian benar-benar darurat muncul, keuangan rumah tangga kembali rentan.
Panduan praktis: memposisikan dana darurat dan uang dingin dalam arsitektur keuangan
Berikut cara memposisikan dana darurat dan uang dingin dalam perencanaan keuangan Anda agar tidak tertukar dan penggunaannya tepat sasaran.
1. Urutan prioritas: stabilkan dulu, baru bertumbuh
Urutan yang lazim dipakai dalam perencanaan keuangan adalah sebagai berikut.
- Kebutuhan hidup rutin (biaya bulanan).
- Kewajiban tetap (cicilan atau tagihan).
- Proteksi dasar (minimal dana darurat, juga perlindungan risiko sesuai kebutuhan).
- Baru kemudian investasi atau tujuan finansial (uang dingin).
2. Pisahkan rekening dan “label” uangnya
Langkah paling sederhana untuk mencegah tertukar adalah memisahkan rekening sebagai berikut.
- Rekening atau pos dana darurat (akses mudah, jelas batasan pemakaian).
- Rekening atau pos uang dingin (alokasi investasi atau tabungan target).
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah
Eckels menyarankan kliennya untuk membuka rekening terpisah untuk dana darurat, yang tidak berada di bank yang sama dengan rekening transaksi rutin mereka, agar mereka tidak tergoda untuk mentransfer uang tersebut dalam situasi non-darurat.
3. Definisikan “darurat” sebelum darurat terjadi
Agar tidak menjadi pos serbaguna, tuliskan contoh yang termasuk darurat, misalnya kehilangan pekerjaan, biaya rawat inap, serta perbaikan kendaraan untuk bekerja, dan yang tidak termasuk darurat, misalnya ganti ponsel karena model baru, belanja promo.
Dengan definisi yang disepakati dari awal, dana darurat tidak ikut terbakar oleh keputusan emosional.
4. Uang dingin tetap perlu aturan risiko
Walau uang dingin lebih bebas, bukan berarti tanpa batas. Uang dingin memberi rasa aman karena tidak mengganggu kebutuhan primer, tetap mensyaratkan disiplin pemisahan pos.
Artinya, sebelum menyebut suatu dana sebagai uang dingin, pastikan:
- Kebutuhan primer aman.
- Dana darurat aman.
- Kewajiban jangka pendek tidak bergantung pada dana itu.
Dana darurat dan uang dingin: dua pos, dua fungsi, dua jenis ketenangan
Kesimpulannya, dana darurat memberi ketenangan karena Anda punya bantalan saat kejadian tak terduga datang, dan definisinya jelas sebagai cadangan kas untuk biaya mendadak.
Sementara itu, uang dingin memberi ketenangan karena Anda berinvestasi tanpa mengorbankan kebutuhan primer.
Tag: #dana #darurat #bukan #uang #dingin #perbedaan #fungsi #risikonya