Pertumbuhan Ekonomi Singapura Tembus 4,8 Persen pada 2025
Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan pada 2025, meski dunia dibayangi ketegangan perdagangan dan geopolitik global.
Perdana Menteri Lawrence Wong mengatakan, ekonomi Singapura tumbuh 4,8 persen tahun ini, melampaui proyeksi awal pemerintah maupun perkiraan ekonom sektor swasta.
“Ini adalah hasil yang lebih baik dari yang kami perkirakan, mengingat keadaan yang ada,” kata Wong dalam pesan Tahun Baru pada Rabu (31/12/2025), dikutip dari Channel News Asia, Kamis (1/1/2025).
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Singapura, pada Jumat (30/5/2025).
Namun, Wong menegaskan, capaian pertumbuhan ekonomi Singapura tersebut tidak serta-merta mudah dipertahankan. Menurut dia, warga Singapura perlu bersikap realistis karena tantangan ke depan akan semakin besar.
“Mempertahankan laju pertumbuhan ini akan menjadi tantangan,” ujarnya.
Untuk tetap kompetitif, pemerintah menilai Singapura tidak bisa sekadar melanjutkan strategi lama.
“Kita tidak bisa hanya melakukan hal yang sama. Kita harus memikirkan kembali, mengatur ulang, dan menyegarkan strategi ekonomi kita,” kata Wong.
Ia menyampaikan, Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong, yang juga menjabat Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, memimpin tim pejabat politik muda untuk merumuskan arah baru tersebut.
Serangkaian proposal awal dari tim ini disebut akan segera dirilis dan menjadi bahan respons pemerintah dalam Anggaran 2026.
Secara kinerja, pertumbuhan ekonomi Singapura 2025 ini melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar 4,4 persen.
Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sektor swasta sebesar 4,1 persen dan proyeksi resmi Otoritas Moneter Singapura (MAS) yang berada di kisaran 4 persen.
Singapura jadi negara paling aman di dunia menurut data The Global Safety Report 2025.
Menurut Wong, kinerja ekonomi Singapura pada 2025 ditopang oleh kondisi global yang ternyata lebih tangguh dari perkiraan awal.
Salah satunya, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan lebih lambat dan pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan kekhawatiran banyak pihak.
Selain itu, Singapura mendapat manfaat dari lonjakan permintaan semikonduktor dan elektronik yang didorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Akibatnya, pengangguran dan inflasi tetap rendah, dan pendapatan riil meningkat di semua sektor,” tutur Wong.
Meski demikian, ia menilai ketegangan perdagangan dan geopolitik yang terfragmentasi kini menjadi ciri permanen dunia.
Ke depan, Singapura akan menghadapi lebih banyak hambatan terhadap pertumbuhan ekonomi serta tekanan inflasi yang lebih besar.
Sebagai ekonomi kecil dan terbuka, tantangan-tantangan tersebut, menurut Wong, tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Singapura sendiri.
Dunia makin terfragmentasi
Wong menilai tahun lalu menjadi “titik balik utama” bagi tatanan global yang selama ini dijalankan banyak negara.
Asumsi lama mengenai pasar terbuka dan kerja sama saling menguntungkan, kata dia, semakin sering dipertanyakan dan bahkan ditolak.
“Negara-negara sedang mengonfigurasi ulang jaringan perdagangan dan rantai pasokan atas nama ketahanan dan keamanan,” terang Wong.
Ia juga menyoroti semakin dalamnya ketegangan geopolitik global, mulai dari perang di Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir hingga situasi di Gaza yang tetap genting.
Perdana Menteri Lawrence Wong dari Partai Aksi Rakyat (PAP) merayakan kemenangannya dalam pemilu Singapura, Sabtu (3/5/2025).
Di berbagai belahan dunia lain, ketegangan berbasis identitas dan kepercayaan pun terus berkembang menjadi kekerasan.
Di kawasan Asia Tenggara, Wong menyinggung bentrokan antara Thailand dan Kamboja terkait wilayah perbatasan yang disengketakan.
Meski gencatan senjata telah dicapai, ia menilai pengekangan diri dan dialog berkelanjutan tetap krusial untuk memastikan perdamaian jangka panjang.
“Secara keseluruhan, perkembangan ini telah membuat dunia menjadi kurang dapat diprediksi dan aman. Kita harus tetap waspada terhadap ancaman keamanan,” ucap Wong.
Posisi Singapura dinilai kuat
Terlepas dari berbagai tantangan global tersebut, Wong menegaskan Singapura menghadapi situasi ini dari posisi yang relatif kuat. Menurut dia, reputasi internasional Singapura tetap tinggi dan dipercaya.
“Kedudukan internasional Singapura tinggi, dan merek kita dipercaya dan dihormati,” kata dia.
Di tengah ketidakpastian global, Wong mengatakan banyak perusahaan memilih Singapura sebagai basis operasi yang andal karena stabilitas yang ditawarkan.
Ia menyebut sejumlah pemain besar, termasuk raksasa teknologi Microsoft, serta berbagai perusahaan rintisan dan perusahaan berkembang dari berbagai negara.
Dalam kunjungan luar negerinya, Wong mengaku melihat langsung bagaimana reputasi Singapura membuka peluang bagi dunia usaha dan masyarakatnya, dari Afrika hingga Amerika Latin.
“Perusahaan-perusahaan kita sedang menciptakan ceruk baru dan menorehkan prestasi. Kami akan terus mendukung perusahaan-perusahaan kita, saat mereka berkembang, meningkatkan skala, dan meraih peluang di luar negeri,” papar Wong.
Ilustrasi Singapura.
Fokus manfaat bagi warga
Di dalam negeri, pemerintah menegaskan fokus untuk memastikan setiap warga Singapura merasakan manfaat dari kemajuan ekonomi.
Wong mengatakan pemerintah Singapura akan bekerja bersama gerakan buruh dan pengusaha untuk membantu pekerja tumbuh dan maju dalam karier mereka.
“Sehingga mereka dapat melihat keuntungan nyata bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka,” ujarnya.
Di luar aspek ketenagakerjaan, pemerintah berkomitmen terus meningkatkan kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan, perumahan, dan layanan kesehatan, agar warga memiliki rasa aman dan ketenangan pikiran.
Jaringan pengaman sosial juga akan diperkuat untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal.
Wong menambahkan, keluarga berpenghasilan rendah tidak hanya akan dibantu melalui dukungan finansial, tetapi juga diberdayakan agar mampu membangun masa depan yang lebih baik.
Penyandang disabilitas dan para pengasuhnya juga akan memperoleh dukungan tambahan, termasuk peningkatan akses layanan serta perluasan kesempatan kerja yang bermakna.
Tantangan jangka panjang
Dalam jangka panjang, Wong menyoroti sejumlah tantangan struktural yang perlu dihadapi Singapura, antara lain populasi yang menua dan kebutuhan mengamankan pasokan energi bersih.
Seperti banyak negara maju lainnya, Singapura mengalami penuaan penduduk yang cepat di tengah angka kelahiran yang menurun.
Pemerintah, kata Wong, akan terus mendukung warga muda yang ingin menikah dan memiliki anak, dengan mengatasi berbagai kekhawatiran mulai dari perumahan hingga perawatan anak dan pendidikan.
Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong menyampaikan keterangan pers setelah dua jam berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2024).
Usia harapan hidup yang lebih panjang juga dinilai membawa implikasi luas bagi sistem kesehatan, ketenagakerjaan, dan pensiun.
Isu-isu ini tengah dikaji secara menyeluruh, termasuk melalui Kelompok Kerja Tripartit tentang Ketenagakerjaan Lansia yang meninjau strategi agar pekerja lanjut usia tetap dapat bekerja secara bermakna di lingkungan kerja yang ramah usia.
Di sektor energi, Singapura juga berupaya mengamankan pasokan energi bersih yang andal untuk mendukung industri masa depan yang intensif energi, termasuk AI.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah mengimpor energi hijau dan mendorong realisasi Jaringan Listrik ASEAN.
Selain itu, Singapura juga menjajaki solusi domestik seperti hidrogen rendah karbon dan energi nuklir.
Wong mengibaratkan tantangan energi bersih saat ini dengan krisis air pada masa awal pembangunan Singapura.
“Sekarang, energi bersih adalah batas baru kita dan tantangan utama berikutnya. Sama seperti yang kita lakukan dengan air, kita harus mengubah kerentanan ini menjadi sumber kekuatan,” katanya.
Menurut Wong, tantangan di depan bersifat kompleks dan membutuhkan keberanian, kreativitas, serta keterbukaan masyarakat terhadap solusi baru.
Ia mengakui akan ada banyak perdebatan, tetapi menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan.
“Mempertahankan keajaiban Singapura membutuhkan semangat yang sama dari kita semua hari ini,” sebut Wong.
Tag: #pertumbuhan #ekonomi #singapura #tembus #persen #pada #2025