Siapa Raja Ekspor Beras Dunia 2025? India di Posisi Teratas
Ilustrasi beras.(Dok. Freepik)
17:32
28 Desember 2025

Siapa Raja Ekspor Beras Dunia 2025? India di Posisi Teratas

Pasar beras global pada 2025 bergerak dalam lanskap yang berbeda dibanding dua tahun sebelumnya.

Setelah periode harga tinggi dan pembatasan ekspor dari India pada 2023–2024, tahun 2025 ditandai oleh pasokan yang kembali melimpah dan kompetisi harga yang kian ketat.

Dampaknya paling terasa pada negara-negara eksportir utama: India semakin dominan, sementara Thailand dan Vietnam menghadapi tekanan dari penguatan mata uang, turunnya harga ekspor, hingga perubahan kebijakan importir besar seperti Filipina.

Ilustrasi beras.  PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

Laporan Reuters pada Mei 2025 menggambarkan situasi itu sebagai pasar yang “mencapai lantai” harga, tetapi peluang kenaikan dibatasi oleh banjir pasokan dari India.

Dalam laporan yang sama, asosiasi perdagangan di Thailand dan Vietnam memproyeksikan penurunan ekspor keduanya pada 2025, seiring pembeli beralih ke beras India yang lebih kompetitif. 

Berikut gambaran negara-negara eksportir beras terbesar di dunia pada 2025, dengan fokus pada lima pemain utama yang secara konsisten mendominasi perdagangan global, yakni India, Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Amerika Serikat (AS). 

1. India: mesin ekspor yang kembali menyala

India hampir sepanjang 2025 mengukuhkan posisinya sebagai negara eksportir beras nomor satu dunia.

Reuters melaporkan ekspor beras India pada 10 bulan pertama 2025 mencapai 18,49 juta ton, naik 37 persen secara tahunan, dan diproyeksikan menembus rekor 22,5 juta ton pada akhir tahun. 

Kekuatan India pada 2025 bukan hanya pada volume produksi, tetapi juga pada stok pemerintah yang menumpuk, kebijakan ekspor yang lebih longgar dibanding periode pembatasan, serta faktor kurs yang mendukung daya saing.

Ilustrasi beras basmati.PIXABAY/NUTRISCAN APP Ilustrasi beras basmati.

Dalam laporan Reuters pada Oktober 2025, Dev Garg, Wakil Presiden Federasi Eksportir Beras India menyebut strategi eksportir India untuk memperluas pasar di tengah produksi dan stok yang kuat.

"India sudah menjadi pemain utama dalam perdagangan beras global, dan tujuan kami sekarang adalah untuk menjangkau pembeli di pasar yang kurang terlayani guna lebih meningkatkan ekspor pada saat produksi dan stok sedang kuat," ujar Garg.

India menyumbang sekitar 40 persen ekspor beras global, bahkan disebut lebih besar daripada gabungan pengiriman empat eksportir besar berikutnya, yakni Thailand, Vietnam, Pakistan, dan AS. 

Dari sisi kebijakan, pelonggaran pembatasan ekspor ikut memperbesar ruang gerak eksportir.

Reuters pada Maret 2025 melaporkan India kembali mengizinkan ekspor beras patah (broken rice), yang sebelumnya dilarang sejak 2022.

“Karena ekspor beras pecah sekarang sudah diperbolehkan, kami memperkirakan akan mengekspor sekitar 2 juta ton beras jenis ini pada tahun 2025," kata B.V. Krishna Rao, Presiden Asosiasi Eksportir Beras.

Di sisi lain, harga tetap menjadi variabel kunci. Himanshu Agrawal, direktur eksekutf Satyam Balajee, menilai India punya ruang menambah ekspor saat stok pesaing menipis.

“Namun, negara-negara pesaing ini memiliki stok yang terbatas. Seiring menipisnya stok mereka, pembeli akan beralih ke India, dan ekspor akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Agarwal.

2. Thailand: terjepit kurs baht dan kompetisi harga

Thailand secara historis merupakan eksportir beras utama dunia, terutama untuk beras premium seperti jasmine. Namun pada 2025, posisi Thailand menghadapi guncangan dari dua sisi, yakni harga global yang turun dan baht yang menguat.

Dalam laporan Reuters Mei 2025, Chookiat Ophaswongse, presiden kehormatan Asosiasi Eksportir Beras Thailand menyebut ekspor beras Thailand kuartal I 2025 turun 30 persen menjadi 2,1 juta ton karena India menawarkan harga lebih rendah dan pembeli beralih.

ilustrasi beras. Kementan menemukan praktik beras oplosan, demikian juga Bapanas juga temukan praktik oplosan beras medium dan premium masih terjadi di pasar.FREEPIK/FREEPIK ilustrasi beras. Kementan menemukan praktik beras oplosan, demikian juga Bapanas juga temukan praktik oplosan beras medium dan premium masih terjadi di pasar.

Estimasi asosiasi tersebut, ekspor beras Thailand pada 2025 berpotensi turun 24 persen secara tahunan menjadi sekitar 7,5 juta ton. 

Sementara itu, data Kementerian Perdagangan Thailand, dalam 11 bulan pertama 2025, ekspor beras Thailand turun 21 persen secara tahunan menjadi 7,3 juta ton, dengan nilai ekspor turun 30,3 persen.

Arada Fuangtong, kepala Departemen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdaganggan Thailand, menjelaskan penurunan dipengaruhi produksi melimpah, pelepasan stok India, serta penangguhan impor Filipina.

"Nilai tukar baht yang kuat terus menciptakan masalah bagi ekspor beras," sebut dia.

Kurs menjadi isu yang berulang. Fuangtong menyebut nilai tukar baht 10 hingga 20 persen lebih kuat dibanding mata uang pesaing dan menekankan kebutuhan kurs yang kompetitif dan stabil.

Ini adalah faktor yang menentukan kemampuan Thailand bersaing di pasar ekspor. 

Tekanan dalam ekspor beras Thailand juga terlihat pada kekhawatiran terhadap AS, salah satu pasar bernilai tinggi untuk beras jasmine. Ophaswongse memperingatkan dampak tarif terhadap daya saing beras jasmine.

"Jika AS menerapkan tarif, maka beras jasmine kita akan terlalu mahal untuk bersaing," ucapnya.

3. Vietnam: pasar Filipina menentukan, harga ekspor ikut tertekan

Vietnam berada dalam kelompok eksportir teratas dunia dan pada 2025 kembali dihadapkan pada fluktuasi permintaan importir besar, terutama Filipina.

Estimasi asosiasi perdagangan, ekspor beras Vietnam pada 2025 diperkirakan turun 17 persen menjadi sekitar 7,5 juta ton.

Ketergantungan Vietnam pada Filipina terlihat dari data bea cukai. Dalam tujuh bulan pertama 2025, Vietnam mengekspor 2,44 juta ton beras ke Filipina, setara 44,3 persen dari total ekspor beras Vietnam dalam periode tersebut. 

Ilustrasi beras. freepik.com Ilustrasi beras.

Ketika Filipina mengambil kebijakan penangguhan impor untuk melindungi petani domestik, pelaku pasar Vietnam langsung mengantisipasi tekanan harga. 

Seorang sumber dari industri yang disebut Reuters menilai dampaknya besar bagi Vietnam.

"Filipina adalah pasar ekspor terbesar beras Vietnam dan penangguhan (impor beras) akan memberikan dampak signifikan terhadap produksi beras Vietnam," tuturnya.

Tekanan kebijakan importir juga tercermin pada harga. Penawaran beras patah 5 persen Vietnam berada di sekitar 395 dollar AS per ton pada saat laporan Agustus 2025, turun hampir 30 persen dibanding setahun sebelumnya.

4. Pakistan: pemain utama yang diuntungkan dan dirugikan oleh siklus kebijakan India

Pakistan secara konsisten masuk jajaran eksportir utama beras dunia, terutama untuk varietas beras basmati dan non-basmati.

Namun pada 2025, dinamika Pakistan sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni kembalinya India secara agresif ke pasar ekspor dan gangguan cuaca pada produksi basmati.

Pada September 2025, hujan deras dan banjir di wilayah penghasil basmati India dan Pakistan memicu kekhawatiran penurunan pasokan dan mendorong harga naik.

Menurut Reuters, Nitin Gupta, SVP di Olam Agri India, menyebut kerusakan berpotensi terbatas jika tidak ada hujan tambahan, namun eksportir Pakistan menilai situasinya tetap memukul petani.

Sementara itu, Ibrahim Shafiq, export manager Latif Rice Mills Pvt Ltd, mengatakan banjir menghantam petani saat panen mendekat. Ia menambahkan kerusakan bisa mengurangi pasokan serta mendorong harga beras basmati lebih tinggi. 

"Perkiraan konservatif menyebutkan kerusakan mencapai 20 persen dari beras basmati yang ditanam di Pakistan. Ini pasti akan mendorong kenaikan harga beras basmati di pasar lokal maupun internasional," jelasnya.

Ilustrasi beras. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan kebijakan Indonesia menghentikan impor beras berdampak signifikan terhadap harga beras global.iStockphoto/Oat_Phawat Ilustrasi beras. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan kebijakan Indonesia menghentikan impor beras berdampak signifikan terhadap harga beras global.

Sementara itu, tekanan kompetisi harga dari India ikut memengaruhi daya jual beras Pakistan.

Dalam wawancara dengan Arab News pada November 2025, Muzzammil R Chappal, chairman Cereal Association of Pakistan (CAP), mengatakan, ekspor beras Pakistan jatuh karena harga pasar international.

"Saat ini, India, Thailand, dan Vietnam menawarkan harga yang sangat rendah untuk komoditas ini," kata Chappal.

Kombinasi antara kenaikan harga beras basmati karena banjir dan lemahnya daya saing pada segmen beras lain karena harga global turun membuat Pakistan berada pada situasi yang serba menantang sepanjang 2025.

5. Amerika Serikat: eksportir besar di segmen berbeda

Di luar Asia, Amerika Serikat merupakan eksportir beras utama dunia, terutama untuk pasar yang membutuhkan pasokan stabil dan spesifikasi varietas tertentu, misalnya beras long-grain dan beras medium/short-grain untuk kebutuhan industri maupun konsumen.

Dari sisi angka, laporan Rice Outlook USDA Economic Research Service (ERS) edisi Desember 2025 memproyeksikan ekspor beras AS secara keseluruhan pada musim 2025/2026 sebesar 92,0 juta hundredweight (cwt). 

Dengan konversi 1 cwt sama dengan100 pon, proyeksi itu setara kira-kira 4,17 juta metrik ton.

Dokumen USDA ERS juga menegaskan bahwa penurunan proyeksi bulanannya terutama berasal dari revisi ekspor beras long-grain, menunjukkan betapa perubahan pasokan dan permintaan bisa cepat tercermin dalam proyeksi resmi. 

Harga dan kebijakan jadi penentu

Ilustrasi beras. SHUTTERSTOCK/SURAKIT SAWANGCHIT Ilustrasi beras.

Jika 2023 dan 2024 banyak ditentukan oleh pembatasan ekspor India dan lonjakan harga, maka 2025 lebih ditentukan oleh fase sebaliknya, yakni pasokan yang longgar dan perang harga.

Bagi Thailand dan Vietnam, fase ini berarti target ekspor 2025 harus dinegosiasikan ulang dengan realitas harga dan kurs.

Bagi Pakistan, situasinya campuran, yakni segmen beras basmati terdorong naik oleh risiko cuaca, sementara segmen lainnya terseret kompetisi harga.

Untuk AS, pasar beras global yang lebih “murah” dan kompetitif menuntut presisi pengelolaan pasokan.

Tag:  #siapa #raja #ekspor #beras #dunia #2025 #india #posisi #teratas

KOMENTAR