Ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz Bayangi Pasar Minyak Global
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pasar energi global setelah Teheran menggelar latihan militer di Selat Hormuz di tengah berlangsungnya perundingan nuklir kedua negara di Geneva, Swiss.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia, mengingat peran vital selat tersebut sebagai jalur utama distribusi energi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, atau setara 18 hingga 19 juta barrel per hari (bph) melewati perairan sempit ini, menjadikannya titik kritis bagi perdagangan energi internasional.
Baca juga: Trump dan Netanyahu Tekan Iran untuk Batasi Ekspor Minyak ke China
Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri) saat berlayar di Selat Hormuz pada 19 November 2019. Amerika Serikat mengerahkan kapal yang biasanya mangkal di Pasifik Barat ini untuk mendekat ke Iran, di tengah tensi kedua negara yang semakin memanas.
Pada saat yang sama, Iran dan AS melanjutkan pembicaraan tidak langsung terkait program nuklir Iran di Jenewa, Swiss dengan mediasi Oman.
Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah dan latihan militer besar-besaran yang digelar Iran di sekitar Selat Hormuz.
Latihan militer Iran dan dampaknya terhadap Selat Hormuz
Iran mengumumkan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah pengamanan selama latihan militer yang dilakukan oleh Garda Revolusi Iran, Selasa (17/2/2026).
Dikutip dari Reuters, penutupan tersebut dimaksudkan untuk memastikan keselamatan navigasi selama latihan militer berlangsung.
Baca juga: Iran Buka Peluang Kerja Sama Migas sampai Pesawat dengan AS
Latihan militer ini termasuk uji coba peluncuran rudal dan operasi angkatan laut yang berlangsung di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pembicaraan nuklir yang berlangsung di Jenewa dan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Ilustrasi kapal tanker.
Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar seperempat pengiriman minyak melalui laut dan sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz.
Hal ini membuat setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu dampak signifikan terhadap pasar energi global.
Baca juga: Harga Minyak Turun 1,4 Persen Usai AS-Iran Sepakat Gelar Pembicaraan
Ancaman terhadap jalur ini juga bukan hal baru. Iran sebelumnya telah beberapa kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer dan ekonomi dari AS dan sekutunya.
Perundingan nuklir berlangsung di tengah ancaman konflik
Negosiasi antara Iran dan AS bertujuan untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, dengan fokus pada pembatasan pengayaan uranium dan pemulihan mekanisme pengawasan internasional.
Pembicaraan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian negosiasi yang telah dimulai sejak 2025 dan kembali dilanjutkan setelah sempat terhenti akibat konflik militer di kawasan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya agar perundingan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Kembali Tembus 5.000 Dollar AS Usai Insiden Drone Iran
“Saya harap mereka akan lebih masuk akal,” ujar Trump.
Trump menambahkan, Iran kemungkinan ingin mencapai kesepakatan untuk menghindari konsekuensi yang lebih serius.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap negaranya terkait negosiasi tersebut.
“Saya berada di Jenewa dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata," tutur Araghchi dalam pernyataannya di media sosial.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen di Tengah Ancaman Trump ke Iran
Namun demikian, Iran juga menegaskan mereka tidak akan tunduk pada tekanan. Araghchi menambahkan bahwa yang tidak termasuk dalam negosiasi adalah menyerah sebelum diancam.
Garda Revolusi Iran menyerang kapal angkatan laut dalam latihan militer di Selat Hormuz, 25 Februari 2015. Ketegangan Amerika Serikat-Iran meningkat, seiring 10 kapal perang AS mengepung Iran pada akhir Januari 2026.
Perundingan ini difokuskan pada isu nuklir, termasuk pengurangan stok uranium yang diperkaya dan pemulihan akses bagi badan pengawas nuklir internasional.
Kedua negara juga membahas kemungkinan pengurangan sanksi ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Ketegangan militer meningkat di kawasan Timur Tengah
Negosiasi berlangsung di tengah peningkatan aktivitas militer oleh kedua negara. AS telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah sebagai bagian dari strategi untuk menekan Iran dan memastikan stabilitas regional.
Baca juga: Harga Minyak Anjlok 5 Persen Usai Trump Beri Sinyal Dialog dengan Iran
Sebagai respons, Iran menggelar latihan militer berskala besar di Selat Hormuz untuk menunjukkan kesiapan militernya.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan negaranya siap menghadapi tekanan militer dan tidak akan menyerah pada tuntutan AS.
Latihan militer tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi Iran untuk meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi nuklir. Iran sebelumnya telah menyatakan program misil balistik dan kebijakan regionalnya tidak termasuk dalam agenda negosiasi.
Di sisi lain, dikutip dari The Washington Post, AS tetap menuntut pembatasan program nuklir Iran dan menjadikan pencabutan sanksi sebagai alat tawar dalam negosiasi.
Baca juga: Nilai Tukar Rial Iran Anjlok Parah, Rp 20.000 Kini Setara Jutaan
Dampak terhadap pasar minyak global
Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan minyak global karena menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global. Analis sebelumnya memperingatkan penutupan Selat Hormuz dapat menyebabkan harga minyak melonjak secara signifikan, bahkan melampaui 100 dollar AS per barrel dalam kondisi ekstrem.
Ilustrasi harga minyak mentah.
Selain itu, gangguan terhadap aliran minyak juga dapat berdampak pada inflasi global dan stabilitas ekonomi, mengingat ketergantungan banyak negara terhadap impor energi dari kawasan tersebut.
Situasi ini membuat pasar energi global terus memantau perkembangan perundingan nuklir dan aktivitas militer di kawasan tersebut.
Baca juga: Harga Minyak Turun 3 Persen Setelah Trump Singgung Situasi Iran
Negosiasi berlangsung di tengah ketidakpastian
Pembicaraan di Jenewa menghasilkan kemajuan awal, dengan kedua pihak mencapai kesepakatan mengenai prinsip-prinsip dasar yang akan memandu negosiasi selanjutnya.
Araghchi menyebut pembicaraan tersebut sebagai langkah awal yang konstruktif.
Namun demikian, kedua pihak masih memiliki perbedaan signifikan, termasuk mengenai hak Iran untuk memperkaya uranium dan tuntutan AS terkait program misil Iran serta kebijakan regionalnya.
Meskipun terdapat kemajuan, kesepakatan akhir masih membutuhkan waktu dan negosiasi lanjutan.
Baca juga: Trump Ancam Negara yang Bisnis dengan Iran Bakal Kena Tarif 25 Persen
Kedua negara telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan dan menyusun draft kesepakatan yang berpotensi menjadi dasar resolusi konflik nuklir yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ketegangan militer, latihan angkatan laut, dan ancaman terhadap Selat Hormuz menunjukkan dinamika geopolitik di kawasan tersebut masih sangat fluktuatif.
Dengan posisi strategis Selat Hormuz dalam perdagangan energi global, perkembangan negosiasi antara Iran dan AS akan terus menjadi perhatian utama bagi pasar minyak dunia.
Tag: #ketegangan #iran #selat #hormuz #bayangi #pasar #minyak #global