Pengusaha Logistik Soroti Antrean Kapal dan Lambatnya Bongkar Muat Pelabuhan
Ilustrasi logistik, industri logistik.(PEXELS/TOM FISK)
23:16
17 Februari 2026

Pengusaha Logistik Soroti Antrean Kapal dan Lambatnya Bongkar Muat Pelabuhan

Pelaku usaha logistik dan pemilik kapal menyoroti penurunan layanan bongkar muat di sejumlah pelabuhan di Indonesia.

Penurunan produktivitas alat bongkar muat, keterbatasan fasilitas, serta pendangkalan alur pelabuhan disebut menyebabkan antrean kapal meningkat dan biaya operasional semakin tinggi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan keluhan tersebut terjadi di berbagai pelabuhan, terutama pelabuhan domestik.

Baca juga: Bongkar Muat di Pelabuhan Melambat, Biaya Logistik Terancam Naik

Ilustrasi logistik, industri logistik. PIXABAY/POSTCARDTRIP Ilustrasi logistik, industri logistik.

“Sudah sering dan banyak keluhan dari pelaku usaha hampir di seluruh pelabuhan, khususnya pelabuhan domestik. Keluhan itu terutama masalah keterbatasan jumlah maupun kemampuan kinerja alat bongkar muat pelabuhan yang membuat antrian memanjang,” kata Trismawan dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Menurut Trismawan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pengiriman barang.

Berdasarkan laporan anggota ALFI di berbagai daerah, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pengiriman barang kerap mengalami keterlambatan baik pada saat keberangkatan maupun saat tiba di tujuan.

Keterlambatan tersebut antara lain disebabkan molornya jadwal sandar kapal dan rendahnya produktivitas alat bongkar muat di pelabuhan.

Baca juga: Pelabuhan Patimban Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Jawa Barat

Akibatnya, jadwal distribusi barang menjadi terganggu dan tidak sesuai dengan perencanaan logistik.

Trismawan menambahkan, aktivitas logistik melalui pelabuhan laut saat ini terus meningkat, terutama untuk jalur perdagangan domestik. Karena itu, peningkatan kualitas layanan pelabuhan dinilai penting untuk menjaga efisiensi distribusi.

Ilustrasi logistik, pengiriman barang. PIXABAY/NIKLAS Ilustrasi logistik, pengiriman barang.

“Saat ini kegiatan logistik melalui pelabuhan laut terus meningkat, terutama untuk jalur perdagangan domestik. Karena itu pemerintah semestinya memprioritaskan peningkatan layanan pelabuhan-pelabuhan domestik ini, sehingga proses pengiriman barang menjadi efisien dan konsumen juga tidak terpapar biaya yang kian mahal,” ujarnya.

Dampak terhadap biaya logistik dan utilisasi armada

Kondisi layanan pelabuhan yang tidak optimal juga berdampak pada operasional perusahaan logistik.

Baca juga: Pelabuhan sebagai Ruang Ekonomi Sosial, Wajah Baru Bakauheni

Keterlambatan pengiriman barang memengaruhi tingkat utilisasi armada, khususnya truk logistik, serta menekan kinerja usaha.

Trismawan menjelaskan, keterlambatan membuat tingkat okupansi kegiatan usaha menurun, sementara beban biaya operasional tetap meningkat.

“Pelaku logistik banyak terbebani ketidakpastian peraturan, tumpang tindih aturan serta keterlibatan banyak instansi yang terlibat sehingga menghambat kecepatan dan keberlangsungan kinerja pelaku usaha logistik nasional. Biaya mahal di pelabuhan ini merugikan semua pihak,” kata dia.

Kondisi tersebut menunjukkan layanan pelabuhan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan efisiensi rantai pasok nasional, terutama dalam mendukung distribusi barang antardaerah.

Baca juga: Jadi Pelindo Sinergi Lokaseva, Anak Usaha Pelindo Fokus Integrasi Pelabuhan dan Kawasan Industri

Produktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak menurun

Keluhan serupa juga disampaikan pelaku usaha di Jawa Timur, khususnya di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Ketua ALFI Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan waktu tunggu kapal di pelabuhan tersebut meningkat dibandingkan periode normal.

Ilustrasi bongkar muat peti kemas di terminal yang dikelola PT Pelindo Terminal Petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak, SurabayaDOKUMENTASI PELINDO Ilustrasi bongkar muat peti kemas di terminal yang dikelola PT Pelindo Terminal Petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya

Menurut dia, proses sandar kapal dan kegiatan bongkar muat memerlukan waktu lebih lama dari biasanya. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan alat bongkar muat, termasuk sejumlah crane yang dinilai sudah berusia tua.

Kondisi ini terlihat di Terminal Peti Kemas Nilam dan Terminal Peti Kemas Mirah. Kapasitas ideal Container Processing Area di pelabuhan tersebut berkisar 30 hingga 40 kontainer per jam.

Baca juga: Kinerja Pelabuhan Menguat, Arus Kontainer IPC TPK Naik Hampir 7 Persen

Namun, realisasi di lapangan saat ini hanya mencapai sekitar 10 kontainer per jam.

Penurunan produktivitas tersebut dinilai signifikan dan berdampak terhadap kelancaran arus barang di pelabuhan.

Pendangkalan alur pelabuhan hambat kapal besar

Masalah lain yang dihadapi pelabuhan adalah pendangkalan alur, seperti yang terjadi di Pelabuhan Belawan, Medan.

Ketua ALFI Sumatera Utara Surianto Butong mengatakan kondisi tersebut membatasi kapasitas kapal yang dapat bersandar.

Baca juga: Beri Diskon Pelabuhan 100 Persen, ASDP Siap Kawal Mudik Lebaran 2026

Ia menjelaskan, kapal berukuran besar mengalami kesulitan untuk masuk ke pelabuhan akibat pendangkalan alur.

Akibatnya, kapal yang dapat bersandar hanya kapal berkapasitas lebih kecil, dengan daya angkut sekitar 200 hingga 300 TEUs. Padahal sebelumnya, pelabuhan tersebut dapat melayani kapal dengan kapasitas 400 hingga 500 TEUs, bahkan hingga 1.000 TEUs.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi kapasitas distribusi barang serta efisiensi operasional perusahaan pelayaran.

Waktu tunggu kapal di Merauke mencapai 10 hingga 15 hari

Masalah layanan pelabuhan juga dilaporkan terjadi di Pelabuhan Merauke, Papua Selatan. Ketua DPC ALFI Merauke Abi Bakri Alhamid mengatakan kapal mengalami keterlambatan sandar hingga beberapa hari dari jadwal.

Ilustrasi Pelabuhan Tanjung Emas SemarangDok. Pelindo III Ilustrasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Baca juga: Pelabuhan Patimban Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Jawa Barat

Menurut dia, keterlambatan tersebut disebabkan keterbatasan fasilitas depo peti kemas. Barang yang telah diturunkan dari kapal masih harus menunggu proses pembongkaran di depo.

Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tersebut juga masih menggunakan sistem lama, seperti stripping di dalam pelabuhan, yang memperpanjang waktu penanganan barang.

“Bahkan menurut informasi di lokasi, waktu tunggu kapal sandar bisa 7 sampai 10 hari, setelah sandar pun yang biasanya 2 hari selesai, saat ini menjadi 3 sampai 5 harian, jadi kapal tiba sampai berangkat lagi 10 sampai 15 hari,” kata Abi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas dan sistem operasional pelabuhan memengaruhi durasi pelayanan kapal secara keseluruhan.

Baca juga: Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo, dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir dan Pelabuhan Laut

INSA: Layanan pelabuhan dipengaruhi kesiapan infrastruktur dan SDM

Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) menilai layanan pelabuhan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).

Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mengatakan, kondisi yang terjadi merupakan dinamika yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca dan kesiapan fasilitas.

“Saya melihat di media memang ada informasi terkait layanan pelabuhan ini, tetapi saya kira ini dinamika yang terjadi karena memang cuaca ekstrim dan terjadi di terminal curah. Untuk itu, saya kira, perlu kesiapan berkelanjutan baik infrastruktur maupun SDM untuk memberikan layanan yang optimal bagi pengguna jasa,” kata Carmelita.

Ia menambahkan, kendala yang terjadi tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh pelabuhan atau semua fasilitas bongkar muat.

Baca juga: Antrean Panjang di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, Pengusaha Sebut Bukan Salah Kapal

Salah satu terminal peti kemas dibawah naungan PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP). 
DOK. Humas Pelindo Salah satu terminal peti kemas dibawah naungan PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP).

“Dan kami percaya semua pihak yang bertangggung jawab selalu berusaha mengatasinya. Di sisi lain, percepatan pelayanan, juga sangat dipengaruhi kesiapan infrastruktur layanan pelabuhan maupun SDM. Ya kita harap ini terus bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Pelindo menyatakan layanan berjalan sesuai perencanaan

Menanggapi keluhan tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menyampaikan layanan bongkar muat di sejumlah terminal peti kemas berjalan sesuai dengan perencanaan operasional.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan pelayanan bongkar muat di Terminal Peti Kemas Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, dan TPK Berlian tidak mengalami keterlambatan yang signifikan.

“Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga 6 hari lamanya untuk menunggu pelayanan di terminal peti kemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak,” kata Widyaswendra.

Baca juga: Volume Petikemas yang Ditangani Naik 13,32 Persen, IPC TPK: Indikator Arus Logistik di Pelabuhan Semakin Efisien

Ia menjelaskan, setiap kapal yang akan beroperasi di terminal peti kemas telah memiliki jadwal kedatangan yang direncanakan melalui sistem berthing window.

Pelayanan kapal juga dilakukan berdasarkan kebijakan operasional dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, keselamatan, kondisi lapangan, serta kelancaran arus kapal secara keseluruhan.

Pelindo juga menyampaikan bahwa perusahaan terus melakukan perbaikan layanan melalui penambahan peralatan baru dan peningkatan fasilitas.

Widyaswendra mengatakan, pada tahun 2026 TPS Surabaya akan menerima tambahan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Selain itu, TPK Berlian juga akan dilengkapi dengan dua unit QCC yang diperkirakan tiba pada pertengahan tahun 2026.

Baca juga: Purbaya Mau Pasang Kucing di Pelabuhan Tikus

“Kami akui dalam hal pelayanan kami terus berbenah, perbaikan kami lakukan di seluruh wilayah kerja mulai dari Belawan hingga Merauke,” kata Widyaswendra.

Pelabuhan domestik menjadi simpul penting distribusi nasional

Pelabuhan domestik memiliki peran penting dalam mendukung distribusi barang di Indonesia yang memiliki wilayah geografis kepulauan.

Layanan bongkar muat yang efisien menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok dan stabilitas biaya logistik.

Keluhan pelaku usaha terkait waktu tunggu kapal, keterbatasan alat bongkar muat, serta kondisi infrastruktur menunjukkan adanya tantangan operasional yang dihadapi pelabuhan di berbagai wilayah.

Baca juga: Pelindo Bangun Literasi Logistik di Sekitar Pelabuhan Kijing

Di sisi lain, operator pelabuhan menyatakan layanan operasional tetap berjalan sesuai perencanaan dan terus dilakukan peningkatan fasilitas serta peralatan untuk mendukung pelayanan.

Tag:  #pengusaha #logistik #soroti #antrean #kapal #lambatnya #bongkar #muat #pelabuhan

KOMENTAR