Ekspor Beras Thailand Terancam Turun Tahun Depan, Ini Sebabnya
Ilustrasi beras. (freepik.com)
15:16
28 Desember 2025

Ekspor Beras Thailand Terancam Turun Tahun Depan, Ini Sebabnya

- Ekspor beras Thailand diperkirakan melemah pada tahun depan seiring penguatan nilai tukar baht yang menekan daya saing di pasar global.

Dikutip dari Bangkok Post, Minggu (28/12/2025), Kementerian Perdagangan Thailand memproyeksikan volume ekspor beras pada 2026 turun menjadi sekitar 7 juta ton, dari sekitar 8 juta ton pada 2025.

Kepala Departemen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Thailand, Arada Fuangtong, mengatakan penguatan baht menjadi salah satu faktor utama yang membebani kinerja ekspor produk pertanian, termasuk beras.

Ilustrasi beras.  PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

“Jika nilai tukar baht terus seperti ini, akan menimbulkan tantangan besar bagi produk pertanian Thailand,” kata Arada dalam konferensi pers, Jumat (26/12/2025). 

Ia menekankan pentingnya stabilitas dan daya saing nilai tukar baht.

“Nilai tukar baht harus kompetitif dan stabil,” ujarnya.

Arada menambahkan bahwa nilai tukar baht Thailand saat ini 10 sampai 20 persen lebih kuat dibandingkan mata uang negara pesaing.

Baht saat ini diperdagangkan pada level tertinggi dalam empat tahun terhadap dollar AS. Sepanjang tahun ini, mata uang tersebut telah menguat sekitar 9,4 persen dan tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia.

Penguatan baht memperpanjang daftar tantangan yang dihadapi ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara tersebut sepanjang tahun ini.

Selain tekanan nilai tukar, Thailand juga menghadapi dampak tarif Amerika Serikat (AS), tingginya utang rumah tangga, konflik perbatasan dengan Kamboja, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum pada Februari 2026 mendatang.

Ilustrasi beras.Dok. Freepik Ilustrasi beras.

Tekanan di sektor pertanian juga tercermin dari penurunan harga beras di tingkat petani. Kondisi ini sempat memicu tuntutan dari petani pada awal tahun agar pemerintah memberikan dukungan yang lebih kuat untuk menjaga pendapatan mereka.

Di tengah tantangan tersebut, Arada menyampaikan bahwa sejumlah kontrak ekspor tetap berjalan.

Salah satunya adalah kesepakatan penjualan 500.000 ton beras ke China yang diperkirakan berlanjut, didukung oleh hubungan bilateral yang kuat antara kedua negara.

Selain itu, pada bulan lalu Thailand juga menyepakati penjualan hingga 100.000 ton beras ke Singapura untuk periode lima tahun. Kesepakatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan ekspor di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Pemerintah Thailand juga terus memperluas pasar ekspor beras putih dan beras parboiled ke sejumlah negara, termasuk Irak, Arab Saudi, serta negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Untuk pasar dengan segmen yang lebih spesifik, Thailand berencana menjajaki peluang di Jerman, Swiss, dan Amerika Serikat melalui proyek Khaopraneat.

Program ini bertujuan mempromosikan beras Thailand sebagai produk budaya yang memiliki cita rasa, identitas, dan nilai khas.

Pada tahun 2025, pengiriman beras Thailand diproyeksikan mencapai 7,88 juta hingga 8 juta ton, melampaui target awal 7,5 juta ton. Arada menyebutkan, capaian tersebut didukung oleh permintaan yang kuat menjelang akhir tahun.

Meski demikian, volume ekspor tersebut masih berada di bawah hampir 10 juta ton yang tercatat pada 2024, ketika Thailand menjadi eksportir beras terbesar kedua di dunia setelah India.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, dalam 11 bulan pertama 2025, ekspor beras Thailand turun 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 7,3 juta ton.

Dari sisi nilai, ekspor merosot 30,3 persen.

Ilustrasi beras. Freepik/zirconicusso Ilustrasi beras.

Menurut Arada, penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain produksi beras global yang melimpah, pelepasan stok beras dalam jumlah besar oleh India, serta penangguhan impor beras oleh Filipina.

Ia menambahkan, nilai ekspor juga tertekan oleh penurunan harga beras di pasar internasional dan penguatan mata uang baht.

Ekspor beras Thailand merosot pada 2024-2025

Dikutip dari Milling Middle East & Africa, ekspor beras Thailand turun menjadi 7,5 juta ton pada tahun 2024-2025. Angka itu turun tajam sebesar 24 persen dari 9,9 juta ton yang dikirim tahun sebelumnya.

Angka tersebut menurut pembaruan terbaru dari Layanan Pertanian Luar Negeri (FAS) Departemen Pertanian AS.

Penurunan ini mencerminkan persaingan global yang semakin ketat, khususnya dari kembalinya India ke pasar internasional dan pasokan beras Vietnam yang lebih besar, yang telah menekan pangsa Thailand di segmen beras putih bervolume tinggi.

Laporan FAS menunjukkan, selama paruh pertama tahun 2024-2025, ekspor beras putih menurun secara signifikan, membalikkan keuntungan yang telah diraih Thailand selama pembatasan ekspor India pada tahun 2023.

“Data ekspor untuk paruh pertama tahun 2024-2025 menunjukkan penurunan ekspor beras putih relatif terhadap tahun 2023-2024, sementara varietas beras parboiled dan beras wangi menikmati permintaan yang lebih kuat dan ketahanan harga di pasar ekspor premium,” kata FAS.

Sementara itu, varietas beras parboiled dan beras wangi terus menunjukkan permintaan yang kuat dan stabilitas harga di pasar ekspor premium, termasuk Timur Tengah, Asia, dan Afrika, yang menyoroti kekuatan Thailand yang berkelanjutan di segmen bernilai tinggi.

Varietas ini telah diuntungkan oleh harga yang tangguh, sebagian melindungi eksportir dari penurunan yang melanda pengiriman beras putih standar.

Meskipun terjadi kontraksi tajam, Thailand masih siap untuk menyelesaikan musim ini sebagai eksportir beras terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Vietnam.

ilustrasi beras. Kementan menemukan praktik beras oplosan, demikian juga Bapanas juga temukan praktik oplosan beras medium dan premium masih terjadi di pasar.FREEPIK/FREEPIK ilustrasi beras. Kementan menemukan praktik beras oplosan, demikian juga Bapanas juga temukan praktik oplosan beras medium dan premium masih terjadi di pasar.

FAS memperkirakan tingkat ekspor yang serupa, 7,5 juta ton, pada tahun pemasaran 2025-26 mendatang, yang menandakan stabilitas tetapi juga mengisyaratkan perjuangan industri untuk mendapatkan kembali angka tertinggi hampir 10 juta ton yang dicapai sebelum persaingan global semakin ketat.

Dari sisi produksi, produksi beras Thailand pada tahun 2025-26 diproyeksikan sebesar 20,48 juta ton, hanya sedikit di bawah tahun sebelumnya dan masih menempati peringkat panen terbesar keempat Thailand dalam sejarah.

Produksi yang melimpah, ditambah dengan persediaan yang kuat, berarti stok akhir diperkirakan akan tetap berada di antara 3 dan 4 juta ton sepanjang tahun 2024-2025 dan 2025-2026.

Menurut analis FAS, tingkat stok yang nyaman ini akan membantu meredam volatilitas harga domestik bahkan ketika para pesaing meningkatkan aktivitas ekspor mereka.

Sektor beras Thailand telah mengalami perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Negara ini diuntungkan oleh kenaikan harga global pada tahun 2022-2023 ketika India membatasi ekspor, tetapi dimulainya kembali ekspor beras India pada tahun 2024 dengan cepat mengubah dinamika pasar.

Pada saat yang sama, peningkatan teknologi penggilingan dan perluasan varietas beras berkualitas tinggi di Vietnam telah meningkatkan persaingan untuk pembeli tradisional beras putih standar.

Tag:  #ekspor #beras #thailand #terancam #turun #tahun #depan #sebabnya

KOMENTAR