PHK Massal Terjadi Sepanjang 2025, Meta hingga Amazon Pangkas Karyawan
– Tahun 2025 menjadi periode berat bagi pasar tenaga kerja global. Ribuan pekerja kehilangan pekerjaan akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan besar, di tengah ekonomi yang diliputi ketidakpastian, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan ketegangan global.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, UPS, Nestlé, Microsoft, dan Verizon mencatatkan pemangkasan tenaga kerja dalam jumlah signifikan sepanjang tahun ini.
Pengangguran Naik ke Level Tertinggi dalam Empat Tahun
Laporan ketenagakerjaan terakhir yang dirilis pemerintah AS menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,6 persen pada November 2025, tertinggi dalam empat tahun.
Di luar periode pandemi 2020 dan pemulihan pada 2021, angka tersebut terakhir kali tercapai pada 2017.
Dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (27/12/2025), Departemen Tenaga Kerja AS mencatat, jumlah pengangguran pada November mencapai 7,8 juta orang, meningkat dari 7,1 juta orang pada November tahun lalu.
Kondisi tersebut membuat pencari kerja menghadapi tantangan besar. Tingkat perekrutan tercatat masih berada di kisaran level yang terlihat pada 2020 dan 2013.
Verizon hingga UPS Pangkas Puluhan Ribu Pekerja
Verizon mulai memberi tahu karyawannya mengenai rencana PHK terbesar dalam sejarah perusahaan, dengan memangkas lebih dari 13.000 pekerja.
Informasi ini dilaporkan Wall Street Journal, dengan pemberitahuan dimulai sepekan sebelum libur Thanksgiving.
UPS juga melakukan pemangkasan signifikan. Dalam laporan keuangan kuartal ketiga, perusahaan menyebut telah mengurangi sekitar 34.000 posisi operasional dalam sembilan bulan pertama 2025.
Selain itu, sekitar 14.000 posisi, terutama di level manajemen, turut dihapuskan.
Target, Paramount Skydance, hingga Meta Ikut PHK
Sementara itu, Target mengumumkan rencana pemangkasan 1.800 posisi korporasi pada awal tahun. Paramount Skydance mulai melakukan PHK terhadap lebih dari 2.000 karyawan pada akhir Oktober, sebagaimana dilaporkan New York Times.
Bahkan perusahaan yang dinilai diuntungkan dari ekonomi berbasis AI, seperti Meta, juga mengumumkan PHK, termasuk di unit AI. Rivian dilaporkan turut melakukan pengurangan tenaga kerja.
Dalam laporan tertanggal 4 Desember, firma global Challenger, Gray & Christmas mencatat rencana PHK hingga November mencapai 1.170.821 pekerjaan. Angka ini melonjak 54 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Apakah AI Mulai Menggantikan Pekerja?
Amazon sebelumnya menyampaikan kepada karyawan pada Oktober bahwa perusahaan akan mengurangi sekitar 14.000 posisi di tenaga kerja korporasi. Pengumuman tersebut memicu pertanyaan soal peran teknologi dalam menggantikan tenaga manusia.
Namun, CEO Amazon Andy Jassy menegaskan bahwa pemangkasan tersebut tidak didorong oleh faktor keuangan maupun AI.
“Ini bukan soal keuangan, dan juga bukan soal AI, setidaknya untuk saat ini,” ujar Jassy.
“Ini soal budaya. Ketika perusahaan tumbuh sangat cepat selama beberapa tahun, baik dari ukuran bisnis, jumlah karyawan, lokasi, maupun jenis usaha, akan muncul lebih banyak lapisan dan jumlah tenaga kerja,” lanjutnya.
Permintaan Tenaga Kerja Teknologi Merosot Tajam
Kondisi pasar tenaga kerja ini berbeda tajam dibanding beberapa tahun lalu. Pada 2022, pasar tenaga kerja sempat sangat kuat dengan jumlah lowongan mencapai rekor tertinggi di tengah gelombang pengunduran diri massal.
Berdasarkan riset Indeed, lowongan pekerjaan di bidang teknologi dan matematika mencapai puncaknya pada awal 2022, lebih dari dua kali lipat level Februari 2020. Namun, hingga Juli 2025, angka tersebut turun 36 persen di bawah level pra-pandemi.
Indeed menilai lonjakan perekrutan sebelumnya, kondisi ekonomi yang lebih luas, serta meningkatnya minat terhadap AI menjadi faktor yang menjelaskan anjloknya permintaan tenaga kerja teknologi tahun ini.
“Jika melihat Amazon, mereka merekrut sangat agresif antara 2017 hingga 2022, termasuk selama pandemi, sehingga koreksi seperti ini tidak mengejutkan,” ujar profesor ekonomi Universitas Georgetown, Timothy DeStefano.
“Saya pribadi tidak melihat ada hubungan langsung antara PHK ini dengan AI,” kata DeStefano.
Sementara itu, data pemerintah terbaru menunjukkan adanya sedikit kenaikan lowongan kerja pada Oktober, meski jumlah PHK meningkat ke level tertinggi sejak Januari 2023.
“Saya pikir PHK adalah hal buruk, terutama bagi mereka yang terdampak,” ujar profesor manajemen Wharton School, University of Pennsylvania, Matthew Bidwell.
“Namun, ini juga bagian dari proses kapitalisme dan creative destruction, ketika perusahaan berinvestasi di area tertentu dan seiring waktu bisnis tersebut tidak lagi berjalan atau menjadi usang,” tambahnya.
Tag: #massal #terjadi #sepanjang #2025 #meta #hingga #amazon #pangkas #karyawan