Harga Saham Melonjak Disebut “Gorengan”, Tjoe Ay Sebut Salah Kaprah
Ilustrasi saham, IHSG.(canva.com)
16:48
25 Desember 2025

Harga Saham Melonjak Disebut “Gorengan”, Tjoe Ay Sebut Salah Kaprah

Wacana pemberantasan saham gorengan kembali menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta Bursa Efek Indonesia menertibkan praktik yang berpotensi merugikan investor ritel.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai bertemu jajaran direksi BEI dan pelaku pasar modal di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (9/10/2025). Ia menegaskan pengendalian praktik penggorengan saham menjadi tanggung jawab otoritas bursa demi melindungi investor kecil.

“Artinya yang goreng-goreng itu kan dikendalikan sama dia (BEI), supaya investor kecil terlindungi,” ujar Purbaya.

Purbaya juga menyebut pemerintah tidak akan terburu-buru memberi insentif sebelum BEI menertibkan perilaku pelaku pasar, terutama praktik pengerekkan harga saham secara tidak wajar.

Menanggapi hal itu, Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management Kartika Sutandi menilai isu saham gorengan rawan disalahpahami. Isu tersebut berisiko memicu ketakutan berlebihan di pasar modal tanpa definisi yang jelas.

Analis yang akrab disapa Tjoe Ay mempertanyakan makna saham gorengan yang kerap digunakan secara longgar. Label tersebut sering dilekatkan pada saham yang harganya melonjak tajam atau dinilai mahal secara valuasi.

Tjoe Ay menilai cara pandang tersebut keliru. Harga saham yang mahal tidak otomatis mencerminkan praktik manipulatif. Valuasi tinggi sering kali lahir dari persepsi investor atas kualitas bisnis, kinerja keuangan, serta prospek jangka panjang perusahaan.

Stigma gorengan pada saham mahal dinilai tidak adil. Pendekatan itu berisiko menyeret saham berfundamental kuat ke dalam citra negatif.

Tjoe Ay mencontohkan PT Bank Central Asia Tbk. Saham bank ini diperdagangkan dengan valuasi tinggi dibandingkan emiten perbankan lain. Harga tersebut mencerminkan kepercayaan pasar terhadap konsistensi kinerja, tata kelola, dan kualitas bisnis.

Ia menyebut hampir tidak ada bank di kawasan Asia Tenggara yang diperdagangkan hingga tiga atau empat kali nilai buku. Fakta ini menunjukkan valuasi tinggi bukan anomali dan tidak otomatis menandakan manipulasi harga.

“Justru itu gue mau tanya, definisi gorengan itu apa? Sekarang saham mahal itu pasti bukan gorengan. Kalau saham mahal dibilang gorengan, berarti BCA itu bank paling mahal dan paling gorengan. Padahal di ASEAN saja enggak ada bank yang valuasinya sampai tiga atau empat kali book value,” ujar Tjoe Ay dalam program Filonomics Kompas.com, Kamis (25/12/2025).

Ia menegaskan valuasi saham sangat bergantung pada sudut pandang investor serta ekspektasi atas kinerja dan prospek usaha. Penyamaan saham mahal dengan saham gorengan dinilai menyesatkan.

Perbandingan juga disampaikan dengan pasar global. Banyak saham teknologi di Amerika Serikat diperdagangkan dengan valuasi tinggi, seperti NVIDIA, Palantir Technologies Inc, dan Tesla Inc. Otoritas pasar modal setempat tidak melabeli saham tersebut sebagai gorengan.

“NVIDIA mahal, Palantir mahal, Tesla juga mahal. Apakah Amerika bilang itu gorengan? Jadi mahal itu bukan gorengan,” ujarnya.

Tjoe Ay juga menyoroti praktik pump and dump yang kerap dijadikan dasar pelabelan saham gorengan. Ia mengakui praktik manipulasi jangka pendek itu ada. Penilaian perlu melihat pola dan rentang waktu pergerakan harga.

Pump and dump terjadi saat harga saham dinaikkan cepat dalam waktu singkat tanpa dukungan fundamental, lalu dilepas secara massal. Pola tersebut berbeda dengan kenaikan harga dalam periode panjang.

Kenaikan harga selama dua hingga tiga tahun yang kemudian diikuti koreksi tidak otomatis menunjukkan manipulasi. Pergerakan semacam itu bisa mencerminkan pertumbuhan bisnis atau penyesuaian pasar.

“Ngomong pump and dump itu mesti lihat, naiknya berapa lama. Kalau saham naik tiga tahun, lalu turun di tahun terakhir, apa empat tahun itu dianggap gorengan? Pump and dump itu ada periodenya,” kata Tjoe Ay.

Fenomena backdoor listing juga disinggung. Menurut Tjoe Ay, lonjakan harga saham dalam kasus injeksi aset sering kali mencerminkan perubahan fundamental.

Aksi korporasi dinilai menjadi faktor utama pergerakan harga saham. Perusahaan yang sebelumnya minim aset lalu memperoleh suntikan aset besar wajar mengalami kenaikan harga.

“Banyak saham backdoor listing, tapi kan di-inject aset. Itu gorengan apa enggak? Itu ada corporate action loh. Semua saham bergerak karena aksi korporasi,” ujarnya.

Tag:  #harga #saham #melonjak #disebut #gorengan #tjoe #sebut #salah #kaprah

KOMENTAR