5 Kebiasaan Belanja yang Dihindari Orang Kaya
- Perbedaan antara mereka yang mampu membangun kekayaan jangka panjang dan mereka yang bertahan di kelas menengah kerap ditentukan oleh keputusan-keputusan finansial yang konsisten.
Banyak orang fokus mengejar pendapatan lebih tinggi, tetapi mereka yang membangun kekayaan memahami bahwa apa yang tidak dibeli sama pentingnya dengan apa yang dihasilkan.
Orang kaya mandiri tidak selalu memiliki penghasilan jauh lebih besar, terutama pada fase awal karier. Pembeda utamanya adalah kemampuan mengenali jebakan finansial yang kerap tersembunyi dalam pengeluaran sehari-hari.
Pemahaman terhadap opportunity cost menjadi kunci. Setiap uang yang dibelanjakan untuk barang yang nilainya terus menyusut berarti menghilangkan peluang dana tersebut berkembang melalui investasi.
Dikutip dari New Trader U, Kamis (25/12/2025), berikut lima hal yang dihindari oleh orang yang memahami cara membangun kekayaan.
1. Mobil Baru yang Nilainya Terus Menyusut
Mobil baru mengalami penurunan nilai signifikan sejak pertama kali keluar dari dealer. Depresiasi pada tahun pertama umumnya mencapai 20–30 persen. Dalam tiga tahun, banyak kendaraan kehilangan hampir separuh nilai awalnya.
Kondisi ini membuat pembelian mobil baru menjadi salah satu pengeluaran yang paling cepat menggerus kekayaan.
Karena itu, mereka yang paham cara membangun kekayaan cenderung memilih mobil bekas yang masih andal dan berusia dua hingga tiga tahun, saat penurunan nilai terbesar sudah terjadi.
Mereka juga mempertahankan kendaraan lebih lama, bahkan hingga 10 tahun atau lebih, dibandingkan mengganti mobil setiap beberapa tahun. Selisih dana dari keputusan tersebut dialihkan ke instrumen investasi.
Sebagai gambaran, pekerja kelas menengah yang membeli mobil baru seharga 35.000 dollar AS setiap lima tahun dapat menghabiskan ratusan ribu dollar AS sepanjang hidupnya.
Sementara itu, pembelian mobil bekas dan penggunaan jangka panjang hanya memerlukan sekitar sepertiga dari jumlah tersebut dengan fungsi transportasi yang setara.
2. Utang Berbunga Tinggi, Terutama Kartu Kredit
Saldo kartu kredit dengan bunga di atas 20 persen menjadi salah satu faktor yang paling menghambat untuk menjadi kaya. Setiap pembayaran bunga mengurangi dana yang seharusnya bisa berkembang dalam investasi.
Secara historis, pasar saham memberikan imbal hasil sekitar 7–10 persen per tahun. Sebaliknya, bunga kartu kredit menggerus lebih dari 20 persen per tahun, sehingga menciptakan kondisi yang merugikan secara finansial.
Orang yang paham keuangan memperlakukan utang berbunga tinggi sebagai kondisi darurat. Mereka berupaya melunasi saldo kartu kredit secepat mungkin dan menghindari pembiayaan gaya hidup yang tidak menghasilkan pendapatan.
Utang masih dapat digunakan secara selektif, seperti kredit properti yang nilainya meningkat atau pinjaman usaha berbunga rendah. Namun, penggunaan kartu kredit untuk liburan, konsumsi, atau barang nonproduktif dihindari.
Selain berdampak secara finansial, utang juga menimbulkan tekanan psikologis. Beban utang yang menumpuk memengaruhi kualitas tidur, pengambilan keputusan, dan kesejahteraan. Neraca keuangan yang sehat memberikan ketenangan sekaligus fleksibilitas finansial.
3. Tiket Lotre dan Aktivitas Judi
Lotre kerap disebut sebagai pajak bagi mereka yang tidak memahami matematika. Peluang memenangkan hadiah utama lotre sangat kecil, sekitar satu banding 300 juta. Meski demikian, jutaan orang tetap membeli tiket dengan harapan mendapatkan solusi finansial secara instan.
Orang yang paham cara membangun kekayaan menolak pendekatan tersebut. Mereka menilai kekayaan tidak dibangun melalui keberuntungan, melainkan melalui strategi yang memiliki dasar data dan konsistensi.
Alih-alih mengandalkan peluang, mereka memilih investasi dengan ekspektasi imbal hasil yang lebih rasional, seperti investasi terdiversifikasi yang secara historis memberikan imbal hasil tahunan sekitar 7–10 persen.
Pengeluaran lotre yang terlihat kecil dapat berdampak besar dalam jangka panjang. Pengeluaran 20 dollar AS per minggu selama 40 tahun setara dengan lebih dari 40.000 dollar AS.
Dana yang sama, jika diinvestasikan secara konsisten, berpotensi berkembang menjadi ratusan ribu dollar AS melalui efek bunga berbunga.
4. Barang Mewah Bermerek dan Simbol Status
Barang bermerek mahal umumnya tidak memberikan fungsi yang sebanding dengan selisih harganya. Kaos desainer seharga 500 dollar AS, misalnya, tidak menawarkan manfaat yang jauh berbeda dibanding produk berkualitas seharga 30 dollar AS.
Mereka yang paham cara membangun kekayaan melihat pembelian berbasis citra sebagai pengeluaran yang tidak produktif. Kekayaan dinilai bukan dari simbol yang ditampilkan, melainkan dari keamanan finansial yang dimiliki.
Banyak individu dengan kekayaan signifikan justru memilih gaya hidup sederhana, mulai dari pakaian hingga kendaraan. Mereka lebih mengutamakan nilai guna dan daya tahan produk.
Pendekatan ini bukan berarti selalu memilih barang termurah. Mereka tetap membeli produk berkualitas tinggi, tetapi menghindari premi harga yang hanya didasarkan pada merek. Dana yang dihemat dialihkan ke aset yang memberikan pertumbuhan nilai.
5. Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life Insurance)
Asuransi bertujuan melindungi dari risiko finansial besar. Namun, asuransi jiwa seumur hidup yang menggabungkan perlindungan dan investasi sering kali dinilai tidak efisien.
Produk ini memiliki biaya tinggi, imbal hasil yang relatif rendah, serta premi yang jauh lebih mahal dibandingkan asuransi jiwa berjangka dengan perlindungan setara.
Pembangun kekayaan umumnya memilih asuransi jiwa berjangka berbiaya rendah untuk melindungi keluarga selama masa produktif. Selisih biaya kemudian diinvestasikan langsung ke instrumen dengan biaya rendah dan potensi imbal hasil lebih baik.
Meski kerap dipasarkan sebagai alat untuk membangun kekayaan, perhitungan finansial asuransi jiwa seumur hidup jarang menguntungkan konsumen.
Kombinasi komisi, biaya administrasi, dan imbal hasil di bawah pasar membuat strategi ini kalah efektif dibandingkan membeli asuransi berjangka dan menginvestasikan selisihnya.