Kinerja Ekonomi Kreatif Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Makin Punya Peran Strategis
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Piter Abdullah (kanan), Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya (tengah), Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda (kiri) pada diskusi publik bertajuk “Prasasti Insights: Mewujudkan Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional” di Jakarta, Selasa (23/12/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
06:27
25 Desember 2025

Kinerja Ekonomi Kreatif Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Makin Punya Peran Strategis

- Sektor ekonomi kreatif dipandang sebagai salah satu sektor strategis yang berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), peran ini dinilai krusial di tengah upaya pemerintah menjaga akselerasi ekonomi nasional menuju target pertumbuhan 8 persen. 

Dengan fondasi budaya yang kuat serta ekosistem kreativitas yang luas, ekonomi kreatif diyakini mampu menopang proses transformasi ekonomi nasional dalam jangka menengah dan panjang.

Pandangan tersebut disampaikan dalam forum Prasasti Insights yang digelar bersama Kementerian Ekonomi Kreatif pada Selasa (23/12).

Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah, menekankan bahwa ekonomi kreatif Indonesia memiliki keunggulan mendasar yang sulit ditiru negara lain.

Menurut dia, Indonesia memiliki modal yang tidak mudah direplikasi, yakni kekayaan budaya yang orisinal serta kreativitas yang tumbuh dari keragaman.

Di saat banyak negara bertumpu pada efisiensi skala dan teknologi semata, ekonomi kreatif Indonesia justru menawarkan diferensiasi nilai yang kuat, berbasis identitas, narasi, dan inovasi lokal.

“Potensi ini menjadikan sektor ekonomi kreatif relevan membuka peluang ekonomi nasional dalam mencapai target pertumbuhan,” kata Burhanuddin dalam keterangannya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan performa ekonomi kreatif yang relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor ini tumbuh sebesar 5,69 persen, dengan nilai ekspor mencapai USD 12,89 miliar, melampaui target tahun 2025. 

Hingga November 2025, sektor ekonomi kreatif juga telah menyerap 27,4 juta tenaga kerja, mencerminkan daya tahan sekaligus potensi ekspansinya di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki posisi strategis sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang harus bertumpu pada penguatan daerah.

Ia menilai potensi terbesar ekonomi kreatif Indonesia justru lahir dari akar budaya yang tersebar di berbagai wilayah, bukan hanya terpusat di kota-kota besar.

Menurut Riefky, ekonomi kreatif dari masing-masing daerah menjadi tambang baru di Indonesia.

Pihaknya terus memetakan tiap potensi subsektor unggulan dari daerah dengan kekayaan budaya nusantara yang menjadi sumber identitas dan motivasi, populasi generasi muda yang mewakili digital native secara aktif, dan transformasi digital yang berkembang pesat. 

“Inilah yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah,” ujar Teuku Riefky.

Ia menambahkan bahwa pemerintah telah merumuskan berbagai program dalam kerangka Asta Ekraf, salah satunya melalui penguatan talenta.

“Kami memiliki rumusan program Talenta Ekraf yang memberikan kegiatan pelatihan-pelatihan untuk semua subsektor sehingga para talenta bisa meningkatkan atau mengkombinasikan skill yang dipunya,” tutunya.

“Dari situ, kami juga melakukan scale up akses pasar dan akses pendanaan untuk pendampingan promosi serta jejaring sehingga mereka bisa naik ke level nasional hingga global,” jelas Riefky.

Ekonomi Kreatif Butuh Kebijakan Inklusif 

Executive Director Prasasti, Nila Marita, menilai pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan ruang dialog kebijakan yang inklusif, terstruktur, dan solutif.

Ia menyebut forum Prasasti Insights sebagai langkah awal dalam membangun kerangka kebijakan ekonomi kreatif yang lebih terarah ke depan.

Dalam kesempatan itu, Nila mengapresiasi konsistensi dari Kementerian Ekonomi Kreatif dalam menegaskan bahwa ekonomi kreatif Indonesia harus terus tumbuh dan berkembang dari daerah.

“Pesan ini menjadi benang merah dalam berbagai kebijakan dan program, sekaligus mencapai pemahaman bahwa kekuatan ekonomi kreatif nasional berakar pada keragaman lokal, talenta daerah, dan ekosistem kreatif dari berbagai wilayah di Indonesia,” kata Nila.

Lebih lanjut, Nila menilai diskusi dalam Prasasti Insights dapat memperluas perspektif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar sejalan dengan arah kebijakan pemerintah.

“Kami percaya dengan konsistensi arah kebijakan dan dukungan lintas pihak, potensi ekonomi kreatif sebagai pertumbuhan ekonomi sekaligus kebanggaan Indonesia di kancah global semakin dapat direalisasikan,” tambahnya.

Dari sisi subsektor, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai perkembangan ekonomi kreatif berjalan seiring dengan kemajuan teknologi digital dan perubahan struktur demografi.

Dengan pertumbuhan mencapai 5,69 persen, kinerja ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

“Saat ini, kontribusi ekonomi kreatif didominasi subsektor kuliner, fesyen, dan kriya. Kondisi ini menjadi pijakan awal untuk mendorong pengembangan subsektor lain yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Menurut Nailul, subsektor seperti film dan musik memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama dengan semakin menguatnya peran platform digital dan layanan over-the-top (OTT) sebagai sarana distribusi dan monetisasi.

“Penguatan subsektor ini menjadi penting agar struktur ekonomi kreatif semakin seimbang dan berdaya saing,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan bahwa berbagai langkah strategis telah dan terus dijalankan untuk memperluas basis subsektor ekonomi kreatif serta meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. 

Upaya tersebut mencakup sinkronisasi kebijakan lintas kementerian, termasuk Kementerian Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian UMKM, serta Kementerian Pariwisata.

Langkah ini dilakukan agar ekonomi kreatif terintegrasi dalam ekosistem ekonomi nasional dan berperan aktif mendorong pertumbuhan berbasis daerah.

 

Editor: Bayu Putra

Tag:  #kinerja #ekonomi #kreatif #lampaui #pertumbuhan #ekonomi #indonesia #makin #punya #peran #strategis

KOMENTAR