Jelang RUPSLB Pergantian Direksi–Komisaris, Saham BUMI Naik 1,87 Persen
- Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bergerak menguat pada awal perdagangan Rabu (19/11/2025), menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WIB.
Agenda rapat kali ini berfokus pada pergantian dewan direksi dan komisaris.
Mengutip data Stockbit, pada pukul 09.29 WIB harga saham BUMI berada di level Rp 218, naik 4 poin atau 1,87 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di awal sesi, saham BUMI sempat berada di level terendah Rp 214 sebelum bergerak stabil di atas Rp 218 dan bahkan menembus Rp 222, meski kemudian kembali fluktuatif di rentang Rp 218-Rp 220. Emiten ini berada dalam sektor batu bara yang dikenal memiliki likuiditas perdagangan tinggi.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai BUMI memiliki prospek cerah ke depan, terutama karena langkah transformasi perusahaan menuju bisnis yang lebih terdiversifikasi. Menurutnya, keputusan BUMI untuk tidak hanya bergantung pada batu bara dan mulai merambah komoditas lain seperti emas merupakan sinyal positif bagi masa depan perusahaan.
“Saya melihat BUMI memiliki prospek yang bagus ke depan, terutama terkait transformasi dari emiten batu bara ke ranah yang terdiversifikasi seperti emas,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Rabu pagi.
Reydi menjelaskan perubahan manajemen merupakan bagian dari mekanisme tata kelola yang kerap mempengaruhi persepsi pasar terhadap prospek perusahaan. Namun, pergantian tersebut tidak otomatis memberikan dampak signifikan jika tidak dibarengi langkah nyata.
“Perubahan manajemen bisa mempengaruhi harga saham karena menyangkut masa depan perusahaan. Namun hal ini bisa tidak berdampak apabila tidak diiringi tindakan nyata, progres yang jelas, transparansi, dan eksekusi strategi ke depan,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa akuisisi penuh BUMI terhadap perusahaan tambang emas asal Australia, Wolfram Limited (WFL), juga menjadi faktor penting yang dapat memperkuat prospek perseroan.
Kombinasi antara aksi korporasi berupa akuisisi 100 persen saham WFL serta susunan manajemen baru dinilainya berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap kinerja dan minat investor.
Meski demikian, pasar kini menunggu bukti implementasi dan hasil konkrit dari strategi transformasi tersebut dalam beberapa waktu ke depan.
“Jadi perubahan manajemen bisa menjadi trigger positif asalkan menghasilkan perubahan yang solid dan konkrit, serta hasil yang terukur. Untuk saham BUMI dengan manajemen yang baru ditambahkan akuisisi besar (WFL) maka potensi trigger cukup besar, tinggal investor menantikan hasilnya ke depan,” ucap Reydi.
BUMI resmi memegang 100 persen saham WFL usai membeli sisa 0,32 persen kepemilikan atau 400.670 lembar saham senilai Rp 2,21 miliar, setara 200.335 dollar Australia, pada 7 November 2025. Transaksi ini melengkapi pembelian 99,68 persen saham tahap pertama yang dilakukan pada awal Oktober.
“Pembelian saham WFL ini merupakan lanjutan atas rangkaian transaksi untuk mengakuisisi 100 persen saham WFL,” tulis Direktur Bumi Resources, R.A. Sri Dharmayanti, dalam keterbukaan informasi BEI.
Dengan transaksi senilai total Rp 698,98 miliar atau sekitar 63,5 juta dollar Australia, BUMI kini sepenuhnya menguasai WFL.
Perusahaan tambang asal Australia Barat itu berfokus pada komoditas tembaga dan emas. Akuisisi ini menandai langkah strategis BUMI untuk memperkuat diversifikasi bisnis di luar batu bara. Selama ini, batu bara masih menjadi sumber utama pendapatan BUMI.
Tag: #jelang #rupslb #pergantian #direksikomisaris #saham #bumi #naik #persen